Tuhanku Dahsyat

Aku tiba di Gereja Santo Kristoforus-Grogol satu setengah jam lebih cepat dari jadwal Perayaan Ekaristi untuk orang sakit yang akan aku persembahkan. Aku mengisi waktu luangku dengan berjalan-jalan di tempat parkir. Hatiku terharu melihat banyak orang sakit berjalan dengan bantuan tongkat, tetapi mereka sangat antusias mengikuti Perayaan Ekaristi yang dikoordinir oleh Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) Cabang Paroki Santo Kristoforus. Tidak terdengar keluhan dari mereka, tetapi senyuman menawan menghiasi wajah mereka. Perayaan Ekaristi pun menyalurkan rahmat keheningan hati bagi lebih dari empat ratus penderita penyakit. Keheningan ini bukan keheningan hampa, tetapi keheningan spiritual karena menikmati cengkerama bersama Tuhan. Kebersamaan dengan Tuhan dalam Perayaan Ekaristi merupakan kerinduan mereka. “Tuhan, mereka adalah para pewarta Kabar Gembira, tanpa mimbar, melalui ketabahan, senyuman, dan keheningan mereka di tengah pergumulan mereka dengan penyakit-penyakit”, kataku kepada Yang Mahakuasa.
 
Ketika Perayaan Ekaristi usai, seorang ibu bersama anaknya menemuiku di sankristi. Ia sangat rajin mengikuti Ekaristi ini karena mendapatkan kelapangan hati. Ia menatapku dengan kepuasan hati karena telah menemukan yang telah lama dicari : “Maaf, Romo. Romo masih ingat aku enggak ? Aku adalah sepupunya umat yang tinggal di Jalan Pribadi – Tangerang. Aku adalah ibu dari seorang anak yang dahulu menderita kanker. Romo pernah mendoakan anakku dan mengatakan kepadaku ‘jangan kuatir, anakmu pasti sembuh’. Kata-kata itu telah menguatkan aku ketika aku harus melewati saat yang menegangkan, khususnya waktu anakku harus menjalani operasi dan kemoterapi. Puji Tuhan, aku telah dapat melalui semuanya ini. Dokter akhirnya menyatakan anakku telah sembuh. Aku mengalami banyak mukjizat ketika anakku menjalani kemoterapi. Melalui mujikzat itu, imanku kepada Tuhan Yesus semakin dikuatkan. Tuhan Yesus bagiku sangat luar…. biasa….. Dia adalah Tuhan yang dahsyat”.
 
Mukjizat Tuhan yang sungguh nyata adalah Tuhan menyediakan biaya kemoterapi tepat pada waktunya. Ketika suaminya sudah putus asa karena uang sudah habis, ia tetap percaya bahwa Tuhan pasti akan menyediakannya. Tuhan ternyata benar-benar menyediakannya. Tiba-tiba ada yayasan dari Negeri Belanda bersedia membayar biaya empat kali kemoterapi yang terakhir. Anaknya harus menjalani sepuluh kemoterapi. Biaya setiap kali kemoterapi adalah enam juta rupiah. Uangnya habis pada saat kemoterapi yang keenam.
 
Tuhan Yesus tidak pernah berubah. Terang-Nya tetap bersinar kepada semua orang yang mengasihi Dia. Kehadiran-Nya tetap membawa pertolongan kepada orang yang sumeleh (pasrah) pada kuasa-Nya. Tuhan tidak pernah mengingkari janji-Nya : “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekakayaan dan kemulian-Nya dalam Kristus Yesus” (Filipi 4:19). Kesabaran akan datangnya janji Tuhan merupakan kuncinya. Kita tidak memaksakan waktu kita, tetapi percaya ada waktu Tuhan. Tuhan membuat hidup kita indah bagaikan kuncup bunga mawar yang sedang mekar. Kuncup bunga mawar berkembang secara perlahan-lahan. Jangan mencoba memaksanya untuk bemekar secara sempurna sebelum waktunya karena akan merusakkan keindahan yang terkandung di dalamnya. Setiap tahap perkembangan kuncup bunga mawar mempunyai keindahannya sendiri. Kuncup bunga mawar akhirnya akan menjadi mawar yang keindahannya memukau banyak orang. Keindahan bunga mawar itu muncul melalui batang yang berduri. Keindahan hidup pun menjadi keindahan yang luar biasa justru ketika melalui duri-duri kehidupan, seperti penyakit yang kadang-kadang menyakitkan dan melelahkan. Karena itu, marilah kita menyerahkan seluruh hati kita kepada Tuhan. Tuhan pada waktunya akan mengangkat kita karena kebaikan-Nya kekal : “…Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu” (Yeremia 31:3). Tuhan memberkati.
About Eric Wagolebo 151 Articles
PAROKI CITRA RAYA CIKUPA - TANGERANG Jalan Citra Raya Utama Timur 15710

2 Comments

Comments are closed.