Gambaran Kerajaan Allah Pada Zaman Yesus

Enam abad sebelum kedatangan Yesus, bangsa Israel selalu dijajah oleh bangsa lain, yaitu bangsa Persia, bangsa Yunani, dan terakhir bangsa Romawi. Selain ditindas oleh para penjajah tersebut, bangsa Israel juga ditindas oleh pemimpin-pemimpin sendiri, yaitu raja-raja boneka yang diangkat oleh para penjajah. Dalam situasi tertindas seperti itu, kerinduan akan datangnya Mesias dan Kerajaan Allah senantiasa muncul dengan kuat.

Paham tentang Kerajaan Allah bukan baru muncul pada zaman Yesus, tetapi sudah lama diimpikan oleh bangsa Israel, terlebih pada saat-saat mereka sangat ditindas. Dalam situasi tertindas itu, muncullah bermacam-macam paham tentang Kerajaan Allah.

  1. Paham Kerajaan Allah yang Berciri Nasionalistis

Paham ini dihayati sungguh oleh kaum Zelot. Kegiatan mereka bertujuan membebaskan Israel dari kuasa politik kaum kafir. Kaum Zelot sungguh berjihad untuk mengusir kaum kafir. Mereka berharap dengan kebangkitan nasionalisme, kemenangan bangsa Israel dapat tercapai, dan Kerajaan Allah terbangun.

  1. Kerajaan Allah Menurut Pandangan para Apokaliptik

Apokaliptik adalah aliran yang percaya akan datangnya penghakiman Allah, karena dunia ini sudah jahat dan akan digantikan oleh dunia baru. Dalam dunia baru itu yang baik akan dianugerahi kebakaan, sedangkan yang jahat akan dihukum.

Menurut pandangan para Apokaliptik, Kerajaan Allah adalah sebuah kenyataan terakhir yang akan terjadi pada akhir zaman. Setelah zaman ini hilang lenyap dibinasakan Allah, “Kerajaan Allah” akan menjadi kenyataan di bumi baru dan langit baru yang dijadikan Allah.

  1. Kerajaan Allah Menurut Pandangan para Rabi

       Menurut pandangan para rabi, Allah sekarang sudah meraja secara hukum, sedangkan di akhir zaman Allah akan secara nyata menyatakan kekuasaan-Nya sebagai Raja semesta alam dengan menghakimi dan menyatakannya kepada sekalian bangsa. Kenyataan bahwa bangsa Israel kini dikuasai oleh orang-orang kafir (sebab pada masa Yesus bangsa Yahudi dijajah oleh bangsa Romawi yang dianggap sebagai bangsa kafir) merupakan akibat dari dosa-dosanya. Namun, jika Israel melakukan hukum Taurat, maka penjajah akan dipatahkan. Karena itu, mereka yang sekarang taat pada hukum Taurat sudah menjadi warga Kerajaan Allah. Tetapi jika Israel tidak melakukan hukum Taurat, maka Israel akan terus dijajah dan diperintah oleh kaum kafir.

          Paham Yesus tentang Kerajaan Allah lebih mirip dengan paham para rabi. Kerajaan Allah mulai merekah, terutama dalam diri Yesus, dan akan mencapai kepenuhannya pada akhir zaman. Untuk menyambut Kerajaan Allah orang harus bertobat dan percaya pada Injil (lih. Mrk 1: 14-15).