Aktivis Katolik yang dipenjara mendapat penghargaan

Seorang aktivis sekaligus blogger Katolik di Vietnam yang dipenjara dianugerahi oleh pemerintah AS karena gigih memperjuangkan hak-hak rakyat dan kebebasan.

Pada tanggal 29 Maret, Nguyen Ngoc Nhu Quynh, seorang blogger yang dikenal sebagai Me Nam atau Ibu  Mushroom, berada di antara 13 wanita yang menerima International Women of Courage Award oleh Departemen Luar Negeri AS yang menghormati “orang-orang yang telah menunjukkan keberanian yang luar biasa, kekuatan dan kepemimpinan dalam bertindak untuk memajukan kehidupan orang lain di seluruh dunia.”

Quynh, seorang ibu dua anak, adalah satu-satunya pemenang diberikan in absentia karena ia telah ditahan tanpa komunikasi sejak Oktober 2016 karena menerbitkan tulisan-tulisan anti-pemerintah dan berjuang untuk tahanan hati nurani.

Pastor dari ordo Redemtoris Anthony Le Ngoc Thanh mengatakan Quynh layak mendapat pengharagaan karena  “upayanya  untuk memperjuangkan kebebasan berbicara, melindungi aktivis dan menghentikan kasus kematian dalam tahanan polisi.”

Pastor Thanh, yang mendukung nilai-nilai demokrasi dan hak asasi manusia, mengutuk pemerintah komunis Vietnam karena dengan tidak adil menganiaya dan memenjarakan Quynh dan aktivis perempuan lainnya.

Pham Thanh Nghien, anggota Jaringan Vietnam Blogger yang didirikan oleh Quynh, mengatakan penghargaan diakui karena upayanya yang tak kenal lelah selama dekade terakhir.

Dalam posting Facebook-nya, Duta Besar AS untuk Vietnam Ted Osius memuji Quynh atas keberaniannya untuk “mengangkat isu-isu masyarakat sipil, menginspirasi perubahan damai, menyerukan transparansi pemerintah yang lebih besar dan akses ke hak asasi manusia dan menjadi corong untuk menyuarakan kebebasan berekspresi.”

Setidaknya ada 84 tahanan karena menyuarakan hati nurani rakyat di Vietnam, termasuk blogger, aktivis, minoritas etnis dan agama dan pembela hak asasi manusia dan keadilan sosial. Mereka dihukum setelah pengadilan yang tidak adil atau sedang ditahan sebelum disidangkan, demikian laporan Amnesty International Juli 2016.