Tuhan yang Maha ndagel

Oleh : Sutopo Yuwono

Awal mei 2016 ini, setidaknya ada 2 agenda penting yang terpaksa saya batalkan lantaran motor saya nyungsep (terperosok, red) di bahu jalan dan bagian belakangnya menghantam pagar beton perumahan. Saya sendiri terlempar ke tepi sawah yang ditumbuhi rumput lebat.

Dibilang untung ya memang untung, karena ketika bagian depan motorku dihantam sebuah mobil yang tiba – tiba oleng dan membanting setir ke kanan di jalan yang sempit, sontak tubuhku terlempar ke depan tanpa aku berusaha melompat, semua terjadi begitu singkat dan tanpa aku sadari. Untungnya, ketika mendarat, rumput yang cukup lebat menangkapku, sementara di belakang, motorku terpaksa harus menanggung derita dengan bersimpuh di kaki pagar beton, tepat pada ujung pagar pertemuan antara cluster perumahan dengan sedikit area persawahan yang masih tersisa.

2 agenda tersebut yaitu, pertama doa taize bersama anak-anak OMK. Saya anggap penting karena memang taize ini sudah sering saya dengar gaungnya, tapi belum pernah aku mengikutinya, padahal dulu pernah latihan bersama dan bahkan bukan hanya sekali saja, tapi tetap saja tidak jadi berdoa Taize yang sesungguhnya. Penting juga karena momennya kebetulan bersama anak-anak muda, sebab di tengah serbuan musik-musik modern, dangdut koplo misalnya, ternyata masih ada anak muda yang rindu suasana hening dalam alunan musik lagu-lagu taize.

Agenda yang ke2 adalah saresehan buruh bersama Bapak Uskup dalam rangka peringatan may day . Penting, karena yang biasanya mayday itu diisi dengan demo dan turun ke jalan, hari itu ada sekumpukan orang-orang muda yang lebih memilih untuk berfikir, berdiskusi, berpentas seni dan berusaha menyelesaikan permasalahan dengan melibatkan Tuhan. Saya kutip judul acaranya, “Kerahiman Allah yang memerdekakan di dalam dunia kerja”.

Saya rasa, luar biasa sekali tema di atas, di tengah serbuan kapitalis dengan budaya hedonisme, tekanan – tekanan dalam pekerjaan, ketidak adilan global, dan berbagai problem di Indonesia yang begitu kompleknya, mereka berusaha melibatkan Tuhan dalam pergumulannya. Mungkin sudah jenuh dengan demo, yang biasanya hanya akan di jawab dengan demo boleh, asal jangan rusuh, dan pada tempat dan waktu yang telah disetujui. Kalau yang di demo mengerti kontek permasalahan dan punya hati untuk sungguh – sungguh membantu menyelesaikan permasalahan, ya OK, peraturan tersebut tidak jadi penghalang, Celakanya kalau yang di demo punya tendensi lain yang bertolak belakang dengan kepentingan yang sedang diperjuangkan pendemo, akan lain ceritanya.

Yang cukup mengecewakan sebenarnya bukan karena 2 agenda penting yang gagal saya ikuti, yang menyakitkan bukan luka memar dan baret – baret yang saya alami, tapi ketika saya nyungsep di rerumputan, si penabrak bukannya menolong, tapi malah kabur.

Sebagai manusia yang tidak cukup dewasa, kontan saja saya teriak dan menyumpahi pengendara tersebut, entah apa kata-kata saya yang keluar waktu itu, pastinya yang buruk – buruk.

Ketika sampai di rumah, muncul sedikit penyesalan tentang sumpah serapah yang tadi saya ucapkan. lalu timbul pertanyaan apakah saya harus memaafkan si pengemudi mobil yang melarikan diri tersebut? Teringat salah satu kalimat dalam kitab suci “Jika ditampar pipi kirimu, berikanlah pipi kananmu!” .

Ternyata tingkat kebaikanku belum sampai pada tahap itu, sebab yang muncul dalam pikiran adalah akan saya hajar pengemudi tersebut jika pada suatu kesempatan bertemu dan tahu bahwa dia orangnya. Bahkan mempermantab niat tersebut dengan bercerita pada orang lain sambil mencoba meraih simpati, “bayangkan, jika terjadi apa-apa? seandainya pun yang dia tabrak sekarat dan mati, dia juga tega – tega saja, gimana bisa memaafkan orang seperti itu?”

Bagian lain dari benakku berkata, “Memaafkan? Bagaimana mungkin kamu memaafkan orang yang tidak merasa bersalah? gila kamu”

Pikiran lain mengatakan bahwa segala sesuatu itu ada tanggungjawabnya, jangan dikira dia bisa lolos begitu saja, jadi tidak perlu kamu hajar, tidak perlu kamu sumpah serapahi, pengemudi tersebut pasti akan mendapat karmanya.

Benak yang lain lagi berkata bahwa sesungguhnya pengemudi tersebut juga hanyalah korban, dari sesuatu yang tidak dia ketahui. Dia hanyalah seorang pengecut yang tidak lulus salah satu ujian kehidupan, dan akan menerima konskwensi dari ketidaklulusannya tersebut, tinggal masalah waktu saja.

Jadi apa yang harus saya lakukan? mengampuni, memaafkan atau membiarkan saja sambil berharap mendapat karma? atau malah aku sumpah serapahi, aku doakan biar balasan segera datang, dan masih banyak lagi dialog – dialog yang berkecamuk dalam hati.

Ditengah dialog – dialog tidak jelas tersebut, tiba – tiba bagian lain dari diriku tertawa, seakan – akan aku dengar suara dari langit yang ikut menertawakanku sambil berkata, “ Oalah le le, mung mlenthung mlenthung, njarem njarem karo beset beset sithik wae kok ya kejeron le mu mikir. Ngono wae ndadak nggawa nggawa memaafkan, mengampuni, karma sampai membalas dendam, wes lah, hahahahaha “ suara itu terdengar makin keras.

(oalah nak, hanya memar – memar sedikit saja kok terlalu dalam kamu memikirkanya. Cuma begitu saja pakai bawa- bawa istilah memaafkan, mengampuni, karma sampai balas dendam, red)

Dan akupun ikut tertawa geli menertawakan diriku sendiri, “Gusti Gusti, penjenengan niku lhe, lha kok seneng dagelan (suka bercanda, red), sungguh mesra dan romantis sekali Engkau Tuhan” ucapku sambil tersenyum lebar, “ I Love U pull Gusti”

Karena memang jika dirasa rasakan sebenarnya njarem – njarem itu nikmat, seperti ketika badan pegel terus dinjak – injak dengan penuh kemesraan, atau seperti ketika dipijat saat badan kecapaian, sakit – sakit enak, dan faktanya, aku baik – baik saja.

Dan efek lainnya adalah akhirnya niatanku yang sudah sangat lama, yaitu membongkar motor dan mencuci jerohannya akhirnya terlaksana, juga merapikan fairing-fairingnya yang sudah mulai geter kalau diajak berjalan, juga terlaksana.

Hingga pada akhir tulisan ini, judulnya aku rubah menjadi “Tuhan yang Maha ndagel (bercanda, red)”.

Bagian lain dari benakku iseng – iseng bertanya lagi, ”jadi kesimpuannya apa?”

Logikaku menjawab, “permasalahan tersebut tidak usah dibuat serius, life is enjoy, Tuhan juga senang bercanda”.