Liputan Seminar “Anak Muda Zaman Now yang Smart dan Bijak Bermedia”

Katedral Jakarta, 3 Februari 2018

(Oleh : Kristanto Irawan Putra)

Istilah #KidsZamanNow yang disematkan kepada generasi milenial – generasi yang lahir di tahun 2000an ke atas – telah banyak kita jumpai dalam percakapan sehari-hari, baik secara lisan maupun tulisan. Sekalipun dapat bermakna luas, “Zaman Now” sendiri dalam perkembangannya seringkali memiliki makna sempit yaitu penggunaan teknologi internet dalam berinteraksi antar sesamanya melalui kanal-kanal media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, Youtube, dan lain-lain.

Tentu, segala sesuatu yang mengandung kata kunci “Anak Muda Zaman Now” atau “Bijak Bermedia” menjadi sebuah tema yang sangat menarik bagi anak-anak muda di manapun mereka berada. Sudah menjadi rahasia umum bahwa generasi milenial seringkali mendapatkan kritikan dari masyarakat karena pola tingkah lakunya yang berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya: praktik swafoto/ selfie di manapun berada, penggunaan fitur “boomerang” untuk mengabadikan momen foto bersama, hingga praktik membuat vlog (terminologi gabungan dari kata video dan blog) yang sedang marak di sebuah kanal media sosial. Lebih-lebih lagi, perkembangan teknologi digital ini ternyata telah melahirkan masalah baru di masyarakat berupa beredarnya berita-berita dan foto-foto palsu – atau yang akhir-akhir ini lebih kita kenal dengan istilah hoax – secara cepat dan viral. Apabila hal ini tidak ditangani serius, bukan tidak mungkin masalah ini akan berujung pada kehancuran bangsa, secara khusus bangsa Indonesia yang memiliki kemajemukan suku, agama, dan budaya bangsanya.

Dilatarbelakangi oleh rasa kepedulian terhadap perkembangan umat dan sejalan dengan tema KAJ di Tahun Persatuan 2018: “Amalkan Pancasila, Kita Bhinneka, Kita Indonesia”, Paroki Santa Odilia Citra Raya mengirimkan 6 orang pasukan mudanya untuk mengikuti sebuah seminar yang diprediksi bisa meng-counter permasalahan Indonesia yang satu ini. Kami mempunyai ekspektasi yang cukup tinggi terhadap seminar yang satu ini karena menghadirkan Kabagpenum DIvhumas Polri untuk pembahasan dari perspektif hukum dan Dosen Unika Atma Jaya untuk pembahasan dari perspektif akademik dan etika. Tak ketinggalan, pihak penyelenggara juga menghadirkan Fotografer Pribadi Presiden RI. Kami menilai kehadiran narasumber fotografer ini dimaksudkan untuk memberikan contoh langsung dan konkrit kepada para peserta: bagaimana seorang praktisi media visual dapat menggunakan perkembangan teknologi Zaman Now secara bijak.

Perjalanan ke Katedral Jakarta
Mengambil Gereja Katolik Santa Odilia sebagai titik kumpul, Mas Kris bertemu dengan Mbak Celli dan Mas Ogan pada pukul 07:10. Meskipun baru pertama kali berjumpa, Mas Kris tidak merasa bingung karena mereka berdua cukup mudah dikenali dengan 2 kantong kresek besar yang dijinjingnya: isinya sarapan pagi! Separuh pasukan ini pun kemudian menuju titik kumpul kedua, yakni di seberang Gerbang Citra Raya untuk menjemput Mbak Tanti, Mbak Lena, dan Mas Topo. Pasukan yang sudah lengkap ini lalu segera berangkat menuju Katedral Jakarta karena acara seminar akan dimulai pukul 08:30. Kondisi jalan yang belum terlalu ramai dan dipadukan dengan penyertaan Roh Kudus telah membuat pasukan Anak Muda Zaman Now Paroki Santa Odilia ini sudah dapat tiba di Gereja Katedral 20 menit sebelum dimulainya acara. Mas Topo segera memimpin pasukan mencari tempat yang PW (puwenaaak) untuk segera menyantap sarapan pagi yang sudah disiapkan oleh Mbak Celli. Sebelum memasuki ruangan seminar, tak lupa kami mengabadikan momen dengan berfoto bersama. Kelihatan kan raut wajah cerah merona dari Mas dan Mbak yang sudah sarapan ini?

Foto bersama sebelum masuk ruang seminar

Pukul 08:35 kami memasuki ruang seminar dan melakukan registrasi. Sebuah panel yang dipajang di dinding dekat meja registrasi membuat Mas Kris terkagum-kagum, karena di situ tertera Gereja Santa Odilia Citra Raya sebagai gereja yang paling barat di Keuskupan Agung Jakarta. “Wah, ternyata kita yang ada di Kecamatan Panongan ini diakui sama KAJ ya”, kata Mas Kris spontan. Kami yang masing-masing mendapatkan goodie bag berwarna merah berisi seperangkat kit seminar pun kemudian duduk membentuk formasi berjajar ke samping, kira-kira di baris ke-8 dari baris depan. Selang beberapa saat kami dibuat cukup kecewa oleh pengumuman dari MC yang menyebutkan bahwa acara baru akan dimulai pukul 09:30. “Malang benar memang nasib kita. Hari Sabtu sudah bangun pagi-pagi seperti hari kerja biasa nih. Tahu gini bisa bangun agak siangan”, tutur Mbak Lena yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan manufaktur di Kecamatan Cikupa ini. Untunglah panitia tidak lupa menyediakan kopi, ditemani oleh jajanan pasar yang bisa kami nikmati sembari menunggu kesiapan acara. Setelah mengambil kopi dan mengambil beberapa jajanan, kami pun kembali ke tempat duduk, mengisi waktu dengan bercakap-cakap sambil sesekali menyeruput hangatnya minuman kopi.

Dimulainya Acara
Sepuluh menit sebelum jam 09:30, acara yang sudah ditunggu-tunggu ternyata sudah bisa dimulai. Acara dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Karena satu dan lain hal, lagu kebangsaan Indonesia ini tidak dikumandangkan dengan iringan musik, dan kebetulan pengambilan nada oleh MC pun dirasakan sedikit terlalu tinggi, meski begitu tak mengurangkan sikap khidmad seluruh peserta.

Acara dilanjutkan dengan sambutan dari Romo Paroki Katedral Jakarta, Romo Albertus Hani Rudi Hartoko, SJ. Romo menyebutkan dalam sambutannya, bahwa aula yang dipakai sebagai tempat seminar ini merupakan tempat bersejarah karena dipakai oleh kaum muda Zaman Old dalam Kongres Pemuda II – waktu itu tempat ini masih bernama Gereja Pemuda Katolik. “Sebagai Laskar Kristus, tugas kita adalah untuk mewartakan kabar gembira. Kabar gembira itu adalah kabar yang baik-baik, bukan kabar buruk atau hoax yang bisa menyakiti hati orang lain”, terang Romo Hani mengajak para peserta seminar untuk mulai masuk ke tema acara. Beliau melanjutkan bahwa SOP (standard operating procedure) menyebarkan berita di zaman old adalah 1) benar tidaknya berita tersebut, 2) baik tidaknya berita tersebut, dan 3) perlu tidaknya berita tersebut untuk disampakan. Wow, ini merupakan input yang luar biasa bagi kami, Anak Muda Zaman Now! Bicara soal ada SOP penyebaran berita, beberapa dari kami pun baru mendengarnya untuk pertama kali di seminar ini. Lebih-lebih di era kemudahan penyebaran informasi ini ya, barangkali ya SOP-SOP seperti ini memang perlu buat diadain.

Setelah Romo membuka acara ini secara resmi, waktu dan tempat pun diserahkan kepada moderator seminar yang kemudian melanjutkan acara dengan memperkenalkan pembicara pertama, Bapak Kombes Pol. Drs. Martinus Sitompul, M.Si dari Kabagpenum Divhumas Polri. Pak Martinus ini pernah menjabat sebagai Kapolres Kota Bandung Timur pada tahun 2008 dan menjadi Kabidhumas Polda Metro Jaya pada tahun 2015. Berbekal pengalamannya di bidang hubungan masyarakat ini, beliau menyampaikan bahwa media sosial itu sekarang ini secara tidak sadar sudah menjadi lifestyle atau gaya hidup masyarakat kita. Sebagai seorang kristiani, beliau juga kemudian mengasosiasikan bahwa Kisah Raja Salomo di Alkitab sebenarnya sangat relevan dengan kondisi zaman sekarang. Disebutkan bahwa Raja Salomo diberi kesempatan oleh Tuhan untuk meminta apa saja yang ia harapkan dari Tuhan setelah memberikan seribu kurban bakaran. Raja Salomo pun dengan kerendahhatiannya hanya meminta hati yang paham untuk menimbang segala perkara dan untuk membedakan antara yang baik dan yang jahat, – sebuah kebijaksanaan – bukan umur yang panjang, kekayaan, maupun kekuasaan yang diidam-idamkan oleh raja-raja pada umumnya.

Kembali ke zaman now, dalam bermedia, ternyata kita pun harus mempunyai 5 sikap bijak media:
1) Sadari bahwa media itu adalah konsumsi umum;
2) Sebarkan berita yang benar dan bermanfaat untuk khalayak umum;
3) Jangan mudah terpancing emosi;
4) Sadari bahwa niat yang baik belum tentu akan berakhir dengan baik;
5) Keburukan bukanlah sesuatu untuk disebarkan.

“Selalu ingat kata-kata Kolose 4:6: Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih. Jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang”, jelas Pak Martinus terkait poin kelima dari sikap bijak media. Beliau menambahkan bahwa berita hoax zaman sekarang ini memang diproduksi – layaknya di sebuah perusahaan manufaktur – untuk disebarkan kepada khalayak umum. Cara penyebarannya pun bermacam-macam, ada beberapa orang yang memang sengaja diutus untuk melakukan infiltrasi, khususnya supaya berita-berita hoax ini bisa masuk ke anak-anak muda, yang sebagian besar mempunyai media sosial yang bisa digunakan untuk meneruskan berita-berita hoax itu tadi. “Motifnya? Bermacam-macam. Ada yang karena kepentingan ekonomi, ideologi, provokasi, maupun untuk lelucon”, jawab Pak Martinus membaca kebingungan anak-anak muda yang memang masih belum ranum untuk hidup di dunia ini.

Bijak Bermedia dari Ranah Hukum
Terkait berita hoax itu sendiri, Pak Martinus menyebutkan bahwa kita telah memiliki undang-undang ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik) sejak tahun 2008. UU no. 11 tahun 2008 ini kemudian diperbarui dalam UU ITE no.19 tahun 2016. Hal ini karena dunia elekronik atau internet sudah masuk ke ranah publik, sehingga segala sesuatunya memang perlu diatur untuk terjaminnya hak masing-masing warga. Beberapa pasal penting dalam undang-undang ini antara lain adalah sebagai berikut :
a. Pasal 27 – 30, peraturan mengenai tindak kesusilaan, perjudian, penghinaan, kekerasan, berita palsu/ hoax, ujaran kebencian, pengancaman, ilegal access, dan pencurian data;
b. Pasal 45, sanksi untuk tindakan-tindakan tersebut di pasal 27 – 30 berupa sanksi denda senilai Rp 750 juta – Rp 1 miliar.

Divhumas Polri sendiri terus berusaha untuk meng-counter berita hoax di media sosial dengan memproses gambar/ tulisan yang beredar di masyarakat untuk diberi stempel bertuliskan HOAX untuk kemudian didistribusikan kembali ke masyarakat. Mengambil ayat alkitab 1 Timotius 4:12-13 “Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda”, di akhir sesinya Pak Martinus pun memberikan pesan kepada generasi muda :
1) Bijaklah dalam bermedia;
2) Peduli dengan sesama;
3) Menuntut ilmu setinggi mungkin;
4) Aktif bersosialisasi, aktif juga di media sosial;
5) Selalu andalkan Tuhan dalam hidup.

 

Bijak Bermedia dari Ranah Akademis dan Etis
Pembicara selanjutnya datang dari dunia akademis dan etis, adalah Bapak Dr. Alexander Seran, seorang dosen dari Universitas Katolik Atma Jaya. Pak Alex juga mengamini bahwa hoax itu adalah racun, tidak hanya terdapat di Indonesia, tetapi juga sudah mendunia. Ada pihak yang secara khusus memproduksinya karena beda kepentingan. Uniknya, apabila Pak Martinus mempunyai UU ITE sebagai sesuatu yang mengatur boleh tidaknya sesuatu dilakukan berikut sanksi yang dikenakan apabila melanggar, Pak Alex justru menyampaikan bahwa tidak semua hoax harus berakhir di penjara. Proses hukum baginya adalah jalan terakhir bagi negara yang mempunyai budaya timur: sikap toleransi ini. “Setiap orang pada dasarnya bisa berubah. Langkah pertama adalah dengan dilihati. Apabila masih belum berubah, ia bisa diomongin. Apabila juga masih belum berubah, ia bisa dicekokin. Kalau sudah mentok ya baru dipenjara. Kalau habis dipenjara masih juga belum berubah? Yaaa, kita sebagai orang Katolik hanya bisa mendoakan..”, ujar Pak Alex sambil berkelakar.

Dalam pemaparan-pemaparannya, kami menilai Pak Alex memang orang yang sangat kompeten dan begitu menguasai bidang ini. Hanya saja, suasana di ruangan seminar itu tidak sehidup ketika Pak Martinus menjelaskan – entah karena bahasa yang digunakan oleh Pak Alex cukup tinggi, sementara ada cukup banyak peserta yang masih duduk di bangku sekolah atau karena hari sudah semakin siang sehingga fokus peserta sudah semakin menurun.

Konsep etika dalam bermedia sosial? Amar ma’ruf nahi munkar – Lakukan yang baik, dan hindari hal yang jahat. Ini adalah moral eksemplar, contoh teladan yang harus kita turunkan ke generasi muda. Beliau menuturkan bahwa mengajarkan etika adalah bagian dari mendidik karakter anak dengan mengedepankan nilai. Untuk memulainya, beliau menasihati supaya setiap anak diajak untuk mengagumi/ atau mempunyai sifat kagum terlebih dahulu. “Tujuannya adalah, ketika nantinya menghadapi krisis, seorang anak akan bisa mempertimbangkan posisinya. Ia kadang-kadang harus bisa melawan aturan, untuk memperjuangkan nilai yang lebih tinggi”, katanya. “Dalam konsep beretika, manusia harus dipertimbangkan sebagai subjek dari segala sesuatunya. It is truly men behind the gun”, tutup Pak Alex dalam sesi pemaparannya.

Fiuuuh, setelah dicekokin materi-materi seminar di hari Sabtu – yaa ini hari Sabtu brooo, otak jangan diajak untuk mikir yang berat-berat -, akhirnya tibalah saatnya untuk makan siang. Panitia pun telah menyiapkan nasi box untuk para peserta. Kami pun makan dengan lahap sambil mendengarkan live music lagu-lagu nasionalisme seperti Kebyar-kebyar dan Rumah Kita yang dibawakan oleh panitia. Sesekali panitia juga mengisi acara dengan kuis-kuis terkait media sosial seperti “Siapa yang paling pagi bikin instastory untuk acara seminar ini” ataupun “Siapa anak muda zaman now di sini yang pulsa di HP-nya paling sedikit”. Ternyata oh ternyata, Mbak Lena berhasil memenangkan kuis yang terakhir disebutkan karena pulsa di HP-nya benar-benar Rp 0 rupiah. “Aduh Mbak, cantik-cantik koq ternyata pulsa di HP nya Rp 0..”, demikian kata panitia penyelenggara kuis ini bercanda.

 

Dari Ranah Praktis oleh Praktisi Fotografi
Usai jeda makan siang, pembicara sesi ketiga pun memasuki ruang seminar. Adalah Agus Suparto, fotografer kepresidenan RI yang menjadi subject matter expert dalam hal smart dan bijak bermedia ini. Untuk mengawali pemaparannya, beliau mengajak para peserta untuk 5 menit membaca artikel dari Romo Frans Magnis-Suseno, SJ di majalah Hidup yang berjudul “Sesudah Ahok Kalah”. Beliau kembali mengingatkan para peserta mengenai bagaimana panasnya suasana ibukota tatkala riuh pemilihan Gubernur Wakil Gubernur beberapa waktu yang lalu. Berbagai macam berita bermunculan dan kami pun diajak menyadari bahwa berita hoax itu memang nyata – muncul karena ada beda kepentingan. Di artikel ini juga dibahas mengenai Presiden John F. Kennedy yang merupakan presiden katolik pertama yang terpilih di Amerika Serikat. Banyak pemberitaan media yang menyebutkan bahwa dengan demikian berarti Negara Amerika Serikat akan dikuasai oleh Gereja Katolik Roma dan sebagainya dan sebagainya. Menghadapi hal yang satu dan lainnya ini, Presiden John F. Kennedy memberikan contoh teladan untuk kita semua dengan motto-nya “It is not what your country can do for you, it is about what you can do for your country”, sekalipun akhirnya Sang Presiden harus menutup usianya karena ditembak di atas mobil dalam sebuah parade. Perbedaan adalah suatu hal yang memang berpotensi memunculkan kekhawatiran di tengah masyarakat. Ketika masyarakat tidak bisa menerima perbedaan ini, salah satu excess yang timbul akhirnya adalah pemberitaan-pemberitaan subjektif, yang apabila disetir oleh orang-orang lain yang memang berkepentingan akan menjadi sebuah berita hoax.

 

PENEMUAN BOTOL MINUMAN BERKARBONASI

Tak kalah menarik, Pak Agus kemudian melanjutkan pemaparannya dengan menampilkan sebuah video. Di dalam video itu diceritakan mengenai masyarakat tradisional yang secara tidak sengaja menemukan sebuah botol minuman berkarbonasi yang isinya telah kosong. Oleh seorang pemuda yang menemukannya, botol ini lalu dibawa ke perkampungan mereka dan mereka pun mencoba menggunakannya. Ada beberapa warga yang menggunakannya sebagai alat permainan, ada lagi yang menggunakannya sebagai alat pertukangan, bahkan ada lagi yang menggunakannya sebagai alat untuk memasak. Mereka menemukan suatu hal yang baru, dan adalah naluri dari manusia untuk mencoba memahami segala sesuatu yang ditemukannya. Suatu saat, botol minuman ini ternyata tengah diperebutkan oleh 2 orang yang mungkin sudah berhasil menemukan fungsi terbaiknya. Perebutan botol ini ternyata memunculkan fungsinya yang lain – sebuah fungsi malapetaka -, kepala dari seorang di antara menjadi terluka karena terbentur oleh botol ini dengan keras. Seseorang yang panik di antara mereka pun kemudian langsung mengambil botol ini dan melemparkannya jauh-jauh ke atas dengan harapan bahwa botol sumber malapetaka ini bisa lenyap dari kampung mereka. Seperti yang kita ketahui sebagai masyarakat modern – semua benda yang dilemparkan ke atas akan kembali jatuh ke bawah karena grativasi bumi -, botol minuman tadi pun menunjukkan fungsinya yang lain lagi, jatuh dari ketinggian menimpa kepala salah seorang di antara mereka dengan lebih keras lagi. Beberapa orang langsung bergerak menyelamatkan orang itu, sedangkan seorang yang mencoba bijak – ia tidak panik – segera mengambil botol itu, membawanya jauh dari perkampungan dan menguburnya di tanah supaya tidak membawa permasalahan lagi.

Adakah di antara pembaca yang bisa menghubungkan ini dengan tema seminar kita? Ya betul. Teknologi media sosial adalah suatu penemuan yang lebih modern yang baru saja kita temukan. Ada sebagian orang yang menggunakannya untuk ini, ada pula sebagian orang yang menggunakannya untuk itu, dan yang lain-lain. Ketika terjadi perbedaan kepentingan, teknologi media sosial ini bisa menimbulkan konflik yang ternyata benar-benar bisa menyakiti orang yang satu dan yang lainnya. Sikap seorang reaktif yang langsung menyikapi konflik ini dengan panik ternyata juga pernah dilakukan oleh Pak Agus di awal tahun 2016. Kala itu beliau tengah mengambil foto Presiden Jokowi dengan latar belakang matahari terbit, yang oleh Jonru dikomentari sebagai sebuah foto hoax hasil rekayasa digital. Ia benar-benar bisa belajar dari video masyarakat tradisional tadi. Selanjutnya, mengenai seorang yang mencoba bijak dengan mengambil sikap membawa botol itu jauh dari perkampungan dan menguburnya di tanah: apakah di antara teman-teman ada yang setuju untuk membuang dan mengubur media sosial jauh-jauh supaya tidak membawa malapetaka lagi di zaman now? Kami tidak setuju. Diadakannya seminar ini adalah sebuah harapan bagi kita, bagaimana kita mulai dari sekarang semua dapat bertambah smart dan bijak dalam bermedia, dan selama ada harapan, di situ perubahan akan dapat terjadi.

Menyambung dari perseteruannya dengan Jonru tadi, Pak Agus kemudian juga menjelaskan mengenai jejak digital yang salah satunya bisa diakses melalui website tineye.com, di mana di tengah fasilitas share yang bisa dilakukan oleh orang satu dan yang lain, orang yang mem-posting foto pertama kali tetap bisa dilacak. Pak Agus juga menceritakan pengalamannya selama bertugas di angkatan udara karena beliau sempat menjadi spesialis dalam pengambilan foto-foto aerial – foto saat berada di udara. Masih tersisa jiwa korps TNI AU di hati beliau ketika beliau menyebutkan bahwa saat ini TNI AU dapat melacak dan mengeksekusi orang yang melakukan ujaran kebencian terhadap korps nya hanya dalam waktu kurang dari 1 jam.

 

WORKSHOP FOTOGRAFI KILAT

Selepas menjelaskan seputar konsep dan teori, Pak Agus mulai masuk ke hal-hal yang lebih praktis: sebuah Workshop Fotografi. Dijelaskannya sejarah perkembangan kamera dari kamera negatif, kamera dengan plat kaca, kamera film, hingga berkembang menjadi kamera digital di era sekarang. Beliau sendiri cukup update dalam memaparkan ini, di mana beliau juga membahas bahwa kamera DSLR sekalipun sudah memiliki fungsi Wi-Fi saat ini agak mulai ditinggalkan masyarakat, karena masyarakat sekarang cenderung lebih mengejar kepraktisan – sesuatu yang bisa didapatkan dengan memfoto kamera HP. Pak Agus melanjutkan mengenai trisula fotografi: Shutter Speed, Aperture, dan ISO, yang kemudian disambungkannya dengan bahasan mengenai Lighting atau teknik pencahayaan. “Sebagai generasi muda, kalian akan saya ajari bagaimana cara membuat foto yang bagus untuk di-share, salah satunya dengan teknik framing yang baik”, kata Pak Agus memberikan tips. Framing atau teknik pengambilan pemandangan sebelum difoto diajarkannya dalam bahasa off center dan hi-low horizon. Hal ini seperti yang pernah didapatkan penulis dalam bahasa Rule of Third, artinya aturan sepertiga: bagaimana objek dapat diletakkan di sepertiga bagian kiri, sepertiga bagian kanan, maupun atas bawah untuk membuatnya lebih menarik. Akan tetapi, ada juga beberapa objek yang bagus diletakkan di tengah, hal ini juga sesuai dengan ilmu Pak Agus yang ia beri nama teknik Balance. Wah, sepertinya hari ini kita dapat beberapa ilmu nih untuk bikin suatu foto yang instagrammable!

Di akhir sesi pemaparannya, Pak Agus terlibat dalam penjurian caption terbaik dari sebuah foto yang menampilkan Presiden-Presiden Republik Indonesia yang mengenakan pakaian adat berfoto bersama di Istana Negara pada tanggal 17 Agustus 2017 lalu. Di antara kurang lebih 50 orang yang berpartisipasi dalam lomba tersebut, terpilihlah 3 peserta yang memenangkan kompetisi. Kata-kata kunci “keberagaman” dan “persatuan” adalah sesuatu yang ingin Pak Agus angkat sebagai tujuan pemaparan panjang lebar beliau dalam seminar ini.

TAKE-HOME MESSAGE

Seminar 1 hari penuh ini pun akhirnya sudah sampai di penghujung acara. Para peserta, pembicara, moderator, segenap panitia dan romo dari Paroki Katedral Jakarta pun tak lupa mengabadikan momen seminar ini dengan berfoto bersama. Sekalipun masih terdapat beberapa kekurangan dalam seminar ini, tujuan dari diadakannya seminar dapat tercapai dengan baik. Kami berhasil membawa pulang sesuatu yang berharga untuk disebarluaskan kepada teman-teman di Paroki Citra Raya, di antaranya :
1) Media sosial bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, membuat kita minder ataupun menarik diri. Bisa bijak dalam bermedia, itu karena biasa;
2) Kita harus aktif bersosialisasi, aktif di media sosial menyebarkan kabar gembira. Jangan diam saja, jadilah garam dan terang dunia.

semua itu karena kita ingin sejalan dengan tema KAJ di tahun persatuan 2018: Amalkan Pancasila, Kita Bhinneka, Kita Indonesia.

Dalam perjalanan menuju area parkir gereja, kami pun sempat mampir di beberapa lokasi untuk berfota-foto yang memang sudah menjadi bagian dari anak muda zaman now. Bedanya: kami kini juga sudah dibekali dengan ilmu-ilmu dan keterampilan supaya bisa smart dan bijak dalam bermedia. Apakah kalian siap?

Berfoto di depan Garuda Pancasila

Done! Kami pun pulang kembali ke Paroki Santa Odilia Citra Raya. Sampai jumpa di sana ya.