Real Anak Muda Zaman Now – Pertemuan APP III KKMK St.Odilia

The real Bhineka Tunggal Eka, bersatu hati di dalam keberagaman.

Oleh : Aloysius Alvian

Orang Muda berkumpul seperti biasa setiap hari selasa, untuk Pertemuan APP. Hari itu Selasa, 6 Maret 2018 adalah pertemuan yang ke-3. Seperti biasa dipimpin oleh orang yang sama, bertemu dengan orang yang sama. Meski begitu, setiap pertemuannya adalah hal yang menarik untuk saya. Kenapa ? Karena di setiap pertemuan itu, membahas tema yang berbeda dari sebelumnya, itu berarti masing masing dari kita punya tanggapan, pertanyaan, dan cerita yang berbeda.

Di pertemuan ke-3 dengan tema “Kebhinekaan Dalam Masayarakat” ini, sebelumnya kita diminta untuk membaca dan mendalami beberapa kutipan Bacaan Kitab Suci. Bacaan untuk tema ini diambil dari “Kisah Para Rasul 15 : 1-11, sebagai gambaran bagi kita untuk melihat tentang persoalan kebhinekaan yang terjadi di masyarakat.

Kutipan bacaan ini sendiri bercerita tentang, beberapa orang Yahudi dari golongan Farisi yang mau menerapkan persyaratan keagamaan kepada orang-orang bukan Yahudi untuk disunat sesuai adat yang diwariskan menurut Hukum Musa sebagai jaminan akan keselamatan. Paulus dan Barnabas yang sangat menentang ajaran tersebut membawa permasalahan ini ke Para Rasul dan Penatua di Yerusalem karena telah menimbulkan kebingungan diantara jemaat. Pada puncak sidang di Yerusalem, Petrus menegaskan bahwa Allah mengarunikan Roh Kudus kepada semua orang. Siapapun yang menjadi pengikutnya akan diselamatkan.

Di dalam kutipan ayat tersebut menyoroti tentang perbedaan pendapat yang sering kita alami di dalam kehidupan bermasyarakat. Banyak sekali cerita, dan pendapat yang disharingkan oleh teman teman disana. Saat teman lain menceritakan tentang perbedaan yang pernah dialami di kehidupan bermasyarakat. Saya sendiri sibuk membawa pikiran saya untuk mengingat beberapa kasus yang sempat terjadi di Indonesia. Memang harus disadari juga, kasus itu terjadi karena adanya perbedaan.

Ketika Mas Sutopo Yuwono meminta untuk mengutarakan tanggapan saya, hal yang saya sharingkan adalah tentang kurangnya rasa kemanusiaan di masyarakat sehingga konflik bisa terjadi di dalamnya. Saya sengaja kesampingkan dahulu pembahasan masalah ini dari hal hal yang berbau Agama. Karena semua ajaran di Agama apapun menuntun kita kepada kebaikan, tetapi tetap saja ada yang mengkambing hitamkannya untuk urusan perpecahan karena perbedaan. Saya tekankan kepada teman teman saya disana, bahwa hal sesederhana membangun rasa empati dan simpati kepada sesama adalah cara yang dapat dilakukan unttuk menjadikan masyarakat bisa hidup rukun dan damai walaupun kita sendiri sedang berada di masyarakat yang beragam.

Akhirnya yang menjadi “Gong” atau kesimpulan yang menarik untuk saya pribadi, adalah bukan wejangan atau kata mutiara bahkan kotbah, tetapi contoh nyata kerukunan dalam keberagaman yang di ceritakan oleh Sr.Frederica di lingkungan sekitar Susteran di Balaraja. Sr. Frederica bercerita ada salah satu Bapak Haji di sana yang mau dengan rela menjaga Susteran, saat tempatnya sedang ditinggal pergi. Saya merenungkan kembali contoh itu, “ternyata tidak semua orang menganggap kita beda, ada juga yang sampai sebegitunya perlakuan dari mereka untuk menghargai kita” ucap saya dalam hati.

Tidak jauh jauh dari lamunan saya merenungkan cerita tersebut, saya pribadi sadar ternyata saya sedang berada di dalam komunitas yang masing masing punya keberagaman juga. Mulai dari Etnis, Ras, Fisik, Pekerjaan, Latar Belakang, dll. Tapi masing masing dari kita tidak pernah mempermasalahkannya. Kita tetap mau bergaul, berteman bahkan berkembang di dalam komunitas untuk tujuan yang baik, demi kemuliaan Nama Tuhan.

Harusnya hal hal yang sederhana, sesederhana berkumpul untuk sharing adalah hal yang penting untuk diikuti oleh banyak Anak Muda Zaman Now, karena tidak ada ruginya juga menurut saya mengikuti acara seperti ini, selain menambah keakraban dan kekompakan diantara anggota komunitas, kita juga bisa belajar banyak melalui orang lain tentang keberagaman.

BEDA KENA, RUKUN IKU KUDU