Merantau Part 1 : Banda Kuwi Ora Kena Dinggo Agul – Agul

Cerita bersambung – Fiksi

Oleh : Sutopo Yuwono

Hanya remang-remang lampu teplok yang menerangi ruangan kecil berdinding anyaman bambu seukuran kira-kira empat kali lima meter tersebut. Di pojok sebelah kanan, terdapat balai bambu usang yang dialasi tikar anyaman. Mbendhol berbaring di atas balai bambu itu, berselimutkan sarung jarik lurik dengan bantal tumpukan sapu lidi yang baru saja selesai diikat, dan baru besok pagi akan dibawa ke pasar untuk dijual.

Tampak seorang perempuan paruh baya berwajah keibuan masuk dari ruangan sebelah yang berpintukan kain warna putih bekas spanduk pilkades, dengan membawa sebakul nasi. Dia adalah ibunya mbendhol.

“ Makan dulu le, “ ucap ibu tersebut, “jangan melamun saja, ini simbok masakin gudeg manggar, gereh layur sama sambel terasi kesukaanmu”, lanjutnya

“ Mbendhol galau mbok” , ucap mbendhol

“ loh loh loh, ada apa to le? Kok pakai acara galau segala”, sahut ibu, “ mikirin cewek ya?” lanjutnya, “wes, tenang saja, jangan khawatir, nanti tak kenalkan anaknya teman simbok di pasar, namanya milea”

“wah mau mbok, milea? pasti putih, matanya sipit kayak artis korea gitu mbok, keturunan korea njih mbok? namanya saja milea” sahut mbendol girang

“ korea korea, korengan. Itu lho le, anake mbok dhe parmi yang jualan tahu kupat. Namanya milea karna anake parmi lahirnya selasa. Nama lengkapnya milea ponijeb, artine anake suparmi lahir dina selasa pon sasi rejeb ”, sahut ibunya, “tapi bocahe pancen ayu tenan, kaya nom nomane simbok”

“ hehehe, simbok narsis”, ucap mbendhol sambil tersenyum.

“Apa itu narsis? “, Tanya simboknya

“hmm, narsis itu merasa bahwa dirinya sendiri cantik mbok”, ucap mbendol kemudian tertawa lebar.

“ee, piye to ?? lha wong memang simbok ini dulunya cantik, kalau ga cantik mana mugkin bapakmu mau sama simbok? Lha wong bapakmu itu paling gantheng sekampung, kaya anake lanang (seperti anak laki-lakinya,red) “ ucapnya sambil nyiwel pipi mbendol, “ wes, tidak usah galau, ganteng – ganteng kok galau”.

 

***

 

“ Mbendhol pengen merantau mbok”, ucap mendol tiba-tiba.

“Merantau kemana le?” Tanya ibunya

“Tangerang mbok, kata mas paijo di sana banyak pabrik – pabrik besar. Mbendhol pengen seperti mas paijo, punya hand phone bagus, naik mobil, uangnya banyak dan suka nraktir kawan-kawan makan di warung HEK pak dhe bejo. Juga suka memberi sembako dan uang pada ibunya temen-temen mbendhol”, ucap mendhol, kemudian mereka berdua diam agak lama, “Mbendol pengen sukses mbok, pengen punya banyak uang”.

“Ingat ya le, sukses itu bukan berarti harus memiliki banyak uang”, ibunya berpesan

“Injih mbok, mbendhol paham”, sahut mendoll

“Ingat pesen bapakmu, bandha kuwi ora kena dinggo agul – agul, artinya harta itu bukan untuk diagung-agungkan apalagi untuk dibangga – banggakan”. Ibunya kembali berpesan.

“Injih mbok, mbendhol paham, nanti kalau sudah banyak uang, mbendhol pengen membantu orang, bagi-bagi sembako, bagi-bagi uang juga nraktir kawan-kawan makan di warung HEK pak dhe bejo”, ucapnya menegaskan, “ mbendhol ingat kata bapak, bahwa ‘urip kuwi untuk tetulung’ (Hidup itu untuk membantu sesama/ hidup itu untuk melayani sesama, red).”

Ibu tersenyum lebar, kemudian berkata, “ iya le, iya. Simbok Doakan ya le”, ucap ibunya, “ tapi ingat ya le, membantu orang lain itu tidak harus menunggu banyak uang, tetulung itu tidak selalu dengan berbagi uang dan kekayaan, bisa dimulai dengan hal – hal sederhana yang saat ini juga sudah bisa kamu lakukan, “ lanjut ibunya.

“Njih mbok, mendol paham”.

 

Bersambung,