Merantau Part 2 : Memberi dari kekurangan

Cerbung – Fiksi

Oleh : Sutopo Yuwono

Suara kereta mengalun merdu penuh harmony, mbendhol tertidur pulas sambil memeluk tas ransel dari kain kandi, karung bungkus tepung terigu merek segiempat biru.  Mbendhol dibangunkan oleh suara klakson kereta dan suara gemeriksik pedagang kaki lima.

“Cisoka, Cikasungka, Tiga Raksa“ ucap sang kondektur

“Pak, senen sudah lewat pak”, Tanya mendhol

“senen senen, ini sudah selasa” sahut sang kondektur ketus.

“Stasiun pasar senen pak, Jakarta , Ibukotanya Indonesia”, ucap mbendhol, “kalau belum, saya tidur lagi ya pak, masih ngantuk, dan lapar”.

“Tidur sono aja, nanti sampai merak saya bangunkan”, ucap kondektur semakin ketus.

“ Mas, ini sudah sampai stasiun tigaraksa, cikasungka”, ucap seorang gadis berwajah hitam manis berperawakan gempal dan berisi, “senen sudah lewat, ayo turun bareng aku”.

Bagai dihipnotis, mbendhol menuruti perkataan gadis tersebut. Mendol terdiam, melamun sambil menatap wajah manis gadis tersebut, turun ke bawah sampai ujung jempol, naik lagi hingga matanya menatap tepat pada ujung hidungnya yang bulet kenyal seperti kue mochi.

Wanita seperti ini tidak aku jumpai di kampungku, bisik mbendol dalam hati. Berperawakan gempal, badan berisi tapi pinggang melengkung rapi bagai guci tiongkok. Rambut lurus hitam lebat digerai tapi rapi, berwajah coklat kekuning – kuningan tapi lebih dominan hitam, diselaputi bedak tipis laksana permen gulali, bibirnya merekah lebar berwarna merah bunga mawar wangi.

“Mas, oee, sehat mas?”, ucap gadis itu membuyarkan lamunan mbendhol, “namaku puji mas” ucap gadis tersebut sambil mengulurkan tangan ke mbendol, “ mas namanya siapa? Dan dari mana?”

“Namaku mbendhol, dari djogja mau ke tangerang”, ucap mendhol gagap.

“Loh, kenapa tadi mau turun Senen?”

“karna petunjuk dari pak dhe seperti itu, katanya turun senen, terus naik bis ke Tangerang, yang ekonomi saja, jangan yang ada AC nya”, terang mbendhol

“Ooh, Mas mbendol ini punya saudara di Tangerang?” Tanya puji

“Iya, iya punya, “

“Alamatnya tahu”

“emmm, engak tahu”

“Capai deh, “ucap puji sambil menepuk jidat, “terus nama saudaranya mas siapa?”

“Mas paijo, manajer pabrik besar, naeknya mobil kijang tahun 79 warna, hitam kerbau,  handphone ya bisa buat video , di belakangnya ada gambar apel dimakan kalong”, terang mendhol.

“Mas , mas, emang gue pikirin “sahut gadis tersebut ketus “Mas mbendol punya nomer hpnya mas paijo?”, ucap puji

“enggak punya”,

“daebak”, ucap gadis tersebut latah.

“ya udah mas, aku sudah dijemput bapak”, ucap puji, “ya sudah mas, sampai ketemu , nanti mas mbendol naik ojek ke tiga raksa , trus naik angkot ke Tangerang kota” ucap puji , kemudian segera pergi menuju ke arah bapaknya.

***

Di tengah kebingungannya, hati mbendhol sedikit terhibur oleh kehadiran gadis tersebut. “Yayuk binti mbokdhe joyo lewat”, ucapnya dalam hati “Puji, I love puji , Puji Tuhan”, ucapnya girang, tanpa sadar suaranya kencang dan sedang berada di kerumunan orang.

***

Mendol menyandarkan tubuhnya di sebuah pohon besar di depan stasiun, kemudian mengeluarkan nasi bungkus dari dalam ransel yang dibekali ibunya kemarin sore, ketika hendak makan, tiba-tiba datanglah 3 orang anak kecil berpakaian lusuh dan berkata bahwa dari kemarin sore belum makan.

Mbendol tercenung, teringat saat-saat bersama ibunya :

“Memberikan sesuatu kepada orang lain yang kamu mempunyai lebih, itu baik le; memberikan pada orang lain sedangkan kamu sendiri membutuhkan, itu mulia le ; memberikan yang kamu punya pada orang lain, sedangkan kamu sendiri masih kekurangan, itu namanya pengorbanan, apalagi sebutan yang pantas untuknya kalau bukan pahlawan”, ucap ibu mbendol pada suatu malam, kemudian mereka saling bertatapan dan memeluk satu sama lain.

Sadar dari lamunannya, mbendol segera memberikan nasi bungkus tersebut kepada ketiga anak tersebut.

“Trima kasih kak”, ucap anak itu riang, kemudian pergi meninggalkan mbendol.

Seperginya anak-anak tersebut, sambil berucap riang mbendol mengeluarkan ubi rebus yang juga dibekali ibunya, “ ahaa,, aku masih punya”, ucapnya riang.

Belum sempat memakannya, datang lagi seorang anak kecil yang memintanya. Tanpa pikir panjang, mbendhol segera memberikan ubi tersebut.

Akhirnya, dengan wajah memelas, tubuh letih dan lesu, mbendol mengeluarkan sebungkus kerupuk yang sudah melempem sedikit alot, kemudian memakannya dengan sedikit baper.

 ***

Markus 12:44 Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.”

Bersambung,