Merantau part 3 : Menjadi partner Allah di dalam dunia kerja

Cerbung – Fiksi

Oleh : Sutopo Yuwono

Mbendhol berjalan menyusuri jalanan selepas stasiun, tak tahu arah, tak tahu tujuan, tak kenal siapapun hanya berbekal ransel usang berisi pakaian dan beberapa lembar uang sepuluh ribuan hasil mengambil tabungan di koperasi Credit Union di kampungnya, ditambah uang recehan yang dikumpulkan sedari kelas 5 SD di tiang bambu di teras rumahnya.

Mbendol terus berjalan hingga tengah hari, rasa lapar dan dahaga mulai hadir, tapi tak juga menemukan bangunan pabrik besar seperti yang diceritakan mas paijo ketika di kampungnya. Hanya jalanan berlubang dan padang ilalang yang ditemuinya, sesekali lewat mobil pengangkut ayam yang tak mau berhenti memberi tumpangan, tak ada angkutan umum.

Menjelang sore, mendhol menemukan sekerumunan orang sedang beraktivitas layaknya pasar di sebuah tanah lapang yang luas di tepian jalan. Mbendol memesan es kelapa muda, menikmatinya sambil duduk di sebuah puing bangunan trotoar.

“ Halo bro, saka njawa ya?”, ucap salah seorang dari segerombolan anak muda, menyapa mbendhol.

“ Iya mas”, sahut mbendhol girang karena akhirnya menemukan kawan.

“Njawane ngedi? “

“djogja mas”, jawab mbendol

“Beta ambon”, ucap pemuda lainnya

“Beta orang timor, item manis pandai menanari dan menyanyi”, ucap pemuda lainnya

“ Ihhh cah baguss, guantenge”, ucap salah seorang anak perempuan berbadan besar sambil nyiwel pipi mbendol gemess

“Aiih lucu,” , salah seorang anak perempuan lain berkata manja sambil tersenyum tersipu malu.

Tiba – tiba dari belakang, seorang pemuda berbadan tinggi tegap dengan suara lantang berteriak pada mbendol, “ooee, jangan ganggu aku punya ito”, kemudian mendorong mbendol hingga tersungkur ke belakang.

Dan mereka semua pergi, mbendol masih bengong.

“Copet , copet” teriak mbendol ketika menyadari ransel bututnya sudah raib dibawa sekelompok pemuda tersebut, tapi tak ada yang mempedulikannya.

“sinting”, ucap seseorang yang lewat.

“Kabotan cita-cita”, ucap yang lain lagi.

***

Tak kuat menahan lapar, akhirnya mbendol memberanikan diri mendekati seorang bapak penjual pecel lele.

“Pak, berikan saya makan, sebagai gantinya aku akan mencucikan piring-piring tersebut”, pinta mbendol pada bapak tersebut.

Sang bapak hanya diam dengan wajah dingin, tapi dengan cekatan segera mengambil sepiring nasi dan sepotong lele yang sudah digoreng, kemudian memberikanya pada mbendol. Mbendol memakannya dengan lahap.

***

Bapak pemilik warung tersebut menghampiri mbendhol yang sedang sibuk mencuci piring – piring tersebut, kemudian mengajak berbincang-bincang.

“ Asalmu dari mana le?”, Tanya bapak.

“Djogja pak”, sahut mbendol

“Djogjanya mana?”

“ Klaten pak?”

“Klatennya mana?’, Tanya bapak mengejar

“Wedhi pak, tapi sebelah selatan, sudah deket gunung kidul”, sahut mbendhol

Si Bapak sewot, kemudian berucap “ sebenarnya untuk dapat makan, kamu tidak perlu mencuci piring-piring itu, sudah menjadi kewajibanku untuk menolong orang – orang yang membutuhkan, memberi makan orang-orang yang lapar, begitu leluhurku berpesan”, bapak tersebut berhenti sejenak sambil berlinang mengenang para leluhurnya, tampak bapak tersebut meneteskan air mata, “tapi berhubung piring-piring itu kotor, jadi ya tidak ada salahnya kalau kamu bersihkan”, lanjutnya berusaha tertawa.

“Iya pak, biar saya cuci semuanya”, sahut mbendhol.

“Bapa di Surga bisa saja memberikan Rejeki tanpa kita harus bekerja, tapi Tuhan ingin kita menjadi partnernya dalam mengelola dunia”, ucap bapak tersebut, mereka berdua terdiam.

***

“Nanti kamu pulang ke rumahku saja”, ucap bapak memecah kebisuan.

“ Njih pak, Terima kasih pak, “ sahut mbendol “tapi kenapa bapak begitu baik, sedangkan kita baru saja berjumpa”, tanya mbendol.

Si bapak tersenyum sambil menepuk punggung mbendhol, “ Saya ini keluarga parantau le, saudara dan anak- anak bapak banyak yang merantau. Ada yang ke sumatera, Kalimantan, papua, ada juga yang ke Hongkong, Taiwan dan bahkan sampai Amerika”, bapak tersenyum dan diam sejenak, sambil menghela nafas panjang, “aku melakukan ini agar jika suatu saat kelak ada anak cucu atau sanak saudaraku yang sedang kesulitan, akan datang pula pertolongan , entah darimana”, tampak mata bapak tersebut berkeca-kaca, ketika bercerita.

“ Memang saudara bapak berapa?”, ucap mbendhol nyeletuk, seakan tidak menghargai si bapak yang bercerita sampai berkaca-kaca.

Dan lagi-lagi, si bapak sewot kepada mbendol, “ sudah- sudah, ayo pulang”.

***

Lukas 10:25-37
25 Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?”
26 Jawab Yesus kepadanya: “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?”
27 Jawab orang itu: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”
28 Kata Yesus kepadanya: “Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.”
29 Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: “Dan siapakah sesamaku manusia?”
30 Jawab Yesus: “Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati.
31 Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan.
32 Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan.
33 Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.
34 Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya.
35 Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali.
36 Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?”
37 Jawab orang itu: “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, dan perbuatlah demikian!”

 

Bersambung,