Merantau part 4 : Hatinya dicuri, Ampelanyapun dikasihkan

Cerbung – Fiksi

Oleh : Sutopo Yuwono

Setelah berdagang sampai dini hari di sabtu malam, biasanya minggu paginya bapak tersebut mengambil liburan untuk sekedar berjalan-jalan di sekitar ruko dan perkantoran citra – raya menjumpai kawan-kawan pedagang atau sekedar menghirup udara segar. Sorenya, bapak pergi ke Gereja untuk mendengar Firman Tuhan juga menerima Tubuh dan darah Kristus guna memberikan santapan Rohani bagi jiwanya agar semakin tangguh dalam menjalani kehidupan.

Pagi itu mbendol sengaja berjalan sendiri menikmati suasana pagi di sekitar perumahan Citra Raya –Tangerang. Mbendhol bertemu dengan sekumpulan anak-anak muda yang sedang membagi – mbagikan nasi bungkus kepada para pekerja yang berkarya di jalanan, ada tukang kebersihan jalan, tukang taman, penjual keliling, dan berbagai profesi lainnya.

Mbendhol bergabung dengan anak-anak muda tersebut dan turut membantu membagi-bagikan bungkusan tersebut, mereka segera akrab dan tertawa gembira, padahal baru saja kenal.

Seusai membagi-mbagikan nasi bungkus, mereka mengambil tempat di bawah pohon trembesi yang rindang untuk melepas lelah dan berbincang-bincang. Di sela berbincang-bincang akhirnya mbendhol menyadari bahwa anak-anak muda tersebut yang dulu mengambil tas ranselnya.

“eh, kamu yang dulu mengambil ranselku ya?” mbendol berucap pada perempuan berbadan besar tersebut.

“heheh, iya, tapi bukan ransel, Karung ”, sahut anak perempuan tersebut, yang akhirnya diketahui bernama bertha “dan ga ada duitnya, hehehe” lanjutnya, “ ini, aku kembalikan karung dan syalmu”, ucapnya sambil mengembalikan syal tersebut, tapi masih dipegang erat – erat ketika mbendol hendak mengambilnya.

“Kamu suka syal ini?” Tanya mbendhol

“hehe, iya, kalau syalnya suka, tapi karungnya enggak” sahut bertha,” eh ransel, maksudku ranselnya enggak suka, tapi kalau syalnya suka pakai banget, hehehe” bertha tersenyum malu “ kamunya juga aku suka, pakai banget”. Lanjutnya sambil tersipu malu dan menutup matanya.

“Ya sudah, ini buat kamu saja”, ucap mbendhol.

“Duh, kamu baik banget”, ucap bertha, “duuuh, idaman”.

Dilanjut ame mengembalikan sarung batik lurik dekil, dan lae mengembalikan baju pencak silat dengan sabuk putih dengan ekspresi takut.

***

Mat 5 : 39   Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.

 

Bersambung,