Merantau Part 5 : Diberi Sebelum Meminta

Cerbung – Fiksi

Oleh : Sutopo Yuwono

Seperti biasa, malam itu mbendhol mencuci gelas-gelas dan piring kotor, mengelapnya dengan kain katun, kemudian meletakannya ke rak- rak di warung bapak tersebut. Malam itu bapak membelikan semangkuk wedang ronde yang hangat nan harum, sambil menikmati wedang ronde tersebut, bapak mengajak mbendhol untuk berbicara dari hati ke hati.

“ Le, kamu sudah lama di sini, tapi bapak belum bisa memberikanmu gaji yang lebih besar lagi. Sebenarnya, kamu hendak kemana to le?”, Tanya bapak.

“ Saya pengen bekerja di pabrik besar pak, agar nanti ketika lebaran saya bisa pulang kampung sambil membawa mobil dan uang banyak agar bisa saya bagi-bagikan ke tetangga di kampung pak”, sahut mbendhol.

“Oh, begitu, berarti kamu harus segera meninggalkan tempat ini, dan kejar impianmu”,ucap bapak menyemangati.

“tapi saya belum ada pekerjaan lain pak, saya mohon ijin agar diperbolehkan tetap kerja di sini. Saya akan mencuci lebih banyak lagi, saya akan bekerja lebih rajin lagi”.

“Baiklah, kalau itu maumu”.

***

Tanpa mengenal lelah, mbendhol bekerja siang dan malam, Selain membantu berjualan di warung pecel lele bapak tersebut dari sore hingga malam, paginya mbendol juga bekerja di warung sembako di seberang jalan warung pecel lele  bapak. Gembira sekali hati mbendol, dia membantu menaikkan barang belanjaan para pelanggan ke kendaraan, kadang juga mengantar ke warung pengecer, bahkan terkadang secara khusus diajak sang juragan untuk kulakan ke pasar induk.

Mbendhol sangat ramah kepada pelanggan, senantiasa menyapa dan bercanda dengan para pelanggan. Rajin membersihkan piring, gelas, bangku dan berinisiatip menanam pepohonan di depan warung, sehingga warungnya tampak sejuk dan rindang. Kini si bapak juga tidak perlu lagi membeli cabai dan daun kemangi di pasar, karena lahan tidur di belakang warung disulap menjadi perkebunan yang subur.

Pemilik dan pelanggan toko sembako juga ikut senang, etalase dan daganganya kini tertata lebih rapi dan bersih, sehingga barang-barang yang diperlukan pelanggan lebih mudah ditemukan. Tidak ada lagi ditemukan barang kadaluwarsa, karena yang terlebih dulu datang juga dibuat terlebih dulu keluar, jika ada yang lama tidak laku, segera dikembalikan ke supplier agar ditarik atau dititipkan ke toko lainnya. Pembukuan dan keuangan juga lebih rapi, dan mudah dijalankan.

Bapak pemilik warung pecel lele dan ibu pemilik toko sembako sependapat bahwa semenjak kehadiran mbendhol, warung dan toko mereka semakin ramai dengan pelanggan. Anak itu membawa keberuntungan, ucap mereka.

***

Malam itu mbendol tampak murung, berteman kopi hitam, mbendol memainkan seruling bambu hadiah dari mendiang bapaknya. Suaranya syahdu menyayat – nyayat kalbu, mengambarkan kesedihan dan rasa rindu yang mendalam.

Kemudian suara seruling tersebut menjelma lebih khidmat, hening tenang berpadu dengan sayup – sayup suara jangkrik dan binatang malam. Alunan seruling tersebut menghantarkan bapak pemilik warung pecel lele dan mbendol menyelam ke dalam relung – relung hati, menjelajah ke angkasa, bercumbu dengan bintang- bintang di angkasa. Getarannya selaras dengan medan magnit galaktika, selaras dengan getaran energy semesta. Mbendhol sedang melantunkan pangkur wedatama, yang merupakan nasehat seorang bapak kepada anak cucunya. Mbendol mengenang mendiang bapaknya, menghadiran kesadaran bapaknya yang telah berada di alam keabadian, kembali di depannya. Mbendol mengalami rasa rindu yang luar biasa akan bapaknya.

“ Kamu bisa main seruling le”, sapa si bapak pemilik warung pecel.

“njih pak, bisa, almarhum bapak yang mengajari”.

“ Suara serulingmu bagus sekali”, ucap bapak, “tapi aku rasakan kesedihan yang luar biasa di dalam alunan tersebut, ada apa le?”

“Mbendol kangen bapak, kangen simbok”, ucap mbendhol

“sebentar lagi kan lebaran, nanti kamu bisa pulang menjenguk simbok dan nyekar bapak”.

“Mbendol belum punya cukup uang pak”, mereka diam sejenak, “mbendhol belum bisa seperti mas paijo pak, membawa banyak uang dan menggembirakan banyak orang di kampung. Mbendol tidak bisa membantu orang pak, mbendol tidak berguna pak”, ucap mbendhol.

“ Lho, bukankah setiap hari kamu sudah membantu orang lain? Membantu bapak mencuci piring, membantu masak dan berdagang”

“Iya pak, tapi belum bisa menggembirakan banyak orang”

“lho, tidakkah kau lihat para pelanggan warung kita le? Mereka gembira, dan semakin banyak yang makan di warung semenjak kamu di sini”, bapak itu berucap “juga toko sembako budhe, semakin ramai saja semenjak kamu membantu mereka”.

“Tapi tabungan mbendhol sedikit pak” mbendol berucap sedih sambil menunjukan uang tabungannya.

Bapak itu tertawa lebar, kemudian tersenyum dan berucap, “le, tanpa sepengetahuanmu, bapak dan budhe diam diam menabungkan sebagian dari uang gajimu?” mbendol terkejut, “ dan sekarang bapak sudah membelikanmu sebuah motor”.

“Serius pak?”

“Iya, serius” ucap bapak, “besok kita ambil”.

“ siap pak, 86”, teriak mbendol girang

***

Matius 6 :7-8

  1. Dan, ketika kamu berdoa, jangan menggunakan kata-kata yang tidak ada artinya, seperti yang dilakukan orang-orang yang tidak mengenal Allah, sebab mereka mengira dengan banyaknya kata-kata, mereka akan didengarkan.
  2. Karena itu, jangan seperti mereka karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan sebelum kamu meminta kepada-Nya.

Bersambung,