Merantau Part 6 : Melakukan Hal Kecil Dengan Cinta yang Besar

KKMK St. Odilia turut berpartisipasi pada bazzar hasil karya buruh dalam rangka kegiatan pra may day 2017 di Gereja St. Gregorius, Kuta Bumi , Tangerang

Cerbung – Fiksi

Oleh : Sutopo Yuwono

Pagi itu begitu cerah, kabut pagi yang menutupi pandangan mulai menetes diujung – ujung rumput di sekitaran perumahan, ruko dan perkantoran di sekitar citra raya – Tangerang. Tampak dari ufuk timur, semburat warna merah mulai merekah lebar sepanjang garis cakrawala. Di sebelah selatan tampah anggun berdiri gunung halimun seakan menatap kejamnya ibu kota, di sebelah barat gunung karang berdiri gagah menjaga kearifan lokal yang mulai tergerus arus kemajuan jaman.

Nampak riang wajah-wajah orang yang menyempatkan bangun pagi untuk sekedar jalan-jalan, jogging, bermain badminton di parkiran depan ruko, juga sekumpulan anak-anak muda yang bermain skate board, serombongan anak-anak dan juga bapak – bapak yang dengan riang dan penuh semangat mengayuh sepeda kesayanganya.

Tak terkecuali dengan mbendhol, pagi itu untuk pertama kalinya mbendhol menjalani profesinya sebagai penjual cilok keliling komplek. Ternyata motor yang dijanjikan bapak pemilik warung pecel lele, dan budhe pemilik warung sembako dilengkapi dengan keranjang dan seperangkat alat untuk berjualan cilok.

Entah karena keberuntungan pemula, nasib baik atau karena suasana hati mbendhol yang gembira sehingga terpancar melalui raut wajah dan keceriaannya, atau menjelma menjadi rasa barang dagangannya yang nyaman di lidah pelanggan atau karena alasan lainnya, dagangan pertama mbendol segera dikerumuni banyak pelanggan.

Dengan gembira mbendhol melayani anak-anak kecil yang sedang jalan-jalan, terkadang juga orang tuanya turut makan, bahkan anak-anak mudapun banyak yang turut mengerumuni dagangan mbendol tanpa jeda sampai habis.

Sambil mengendarai motor dengan wajah tersenyum puas dan penuh semangat, mbendhol berfilosofi dalam hati.

Sukses itu berarti sukacita, hati gembira, penuh syukur dan menerima apa adanya.

Bahagia itu adalah ketika hati penuh rasa syukur.

Syukur itu tidak tergantung dari apa pekerjaan kita, juga apa yang kita punya tapi tentang bagaimana kita memaknai pekerjaan sebagai anugerah Tuhan.

Sukses tidak diukur dari berapa banyaknya harta, tapi seberapa kita mau melayani dan berbagi kepada sesama.

Tuhan tidak memandang apa pekerjaan kita, tapi seberapa kita mempunyai cinta dalam pekerjaan tersebut.

***

Lakukanlah hal yang kecil dengan cinta yang besar – Bunda Theresa dari Kalkuta