Esok, Mentari Masih Bersinar

Esok, Mentari Masih Bersinar

Sebuah Cerpen oleh Sutopo Yuwono

Suara lagu : Di dalam Yesus tidak ada yang hitam tidak ada yang putih.

“Omong kosong”, teriak Tejo lantang ketika mendengar lagu itu dilantunkan.

“kenapa mas Tejo?”, tanya Luna, sahabat dekat Tejo.

“Orang-orang itu gemar berteriak tidak ada yang hitam tidak ada yang putih, kita bhineka, dan sebagainya, tapi hanya di mulut”, sahut Teja penuh amarah.

“Lho, kenapa berkata seperti itu?”, Luna berusaha meredam kemarahan Tejo.

Mereka hanya diam, tapi sesungguhnya Luna memahami bagaimana suasana hati Tejo. Setelah menjalin hubungan dengan Stefany selama lebih dari 8 tahun, akhirnya Tejo memutuskan untuk menikahi stefany.

Pada suatu kesempatan, Stefany mengajak Tejo ke Bangka untuk diperkenalkan kepada orang tuanya. Selama 8 tahun menjalani hubungan, Tejo memang belum pernah bertemu dengan orang tuanya Stefany, karena terhalang jarak. Selama 8 tahun pula, Stefany belum pernah pulang ke Bangka untuk menemui orang tuanya.

Sementara, hampir setiap libur Natal, Tejo selalu mengajak Stefani pulang ke Djogja, di tempat orang tuanya. Mereka memang belum terikat tali pernikahan, tapi hubungan mereka sudah sangat dekat, oleh orang tua Tejo, Stefany sudah dianggap seperti anaknya sendiri.

Sambutan Ibu Stefany begitu hangat, bahkan ketika baru bertemu, sesaat setelah memeluk anaknya, Ibunya ganti memeluk Tejo dengan penuh rasa sayang layaknya orang tua sendiri. Seminggu berada di dalam keluarga Stefany, tejo merasa sangat nyaman.

Keadaan berubah 180 derajat ketika Tejo mengajak orang tuanya untuk melamar Stefany.

Semula Ibu Setefany meng iya kan lamaran itu, tapi karena desakan dari saudara-saudaranya, akhirnya terpaksa tidak menerima lamaran tersebut.

Keluarganya terancam akan dikucilkan dari keluarga besar; jika  menikah dengan orang jawa pasti masa depanya suram; akan banyak masalah hidup;dan berbagai prasangka buruk lainnya membayangi pikiran Ibunya Stefany.  Ternyata seperti alasan orang tuanya kenapa tidak menerima lamaran tersebut. Tejo mengetahui hal itu setelah Stefany menangis dan menceritakan semua ketika kembali ke Tangerang.

Dulu, memang Bapak Tejo sempat juga tidak menyetujui hubungan anaknya dengan Stefany. Bapaknya Ingin agar mempunyai menantu sama-sama orang jawa, sementara meskipun lebih terlihat seperti mojang bandung, sejatinya Stefany lahir dari seorang ibu keturunan tionghwa.

“Sudah lah mas, ga usah disesalkan”, ucap luna memulai pembicaraan.

“Mereka itu yang rasis, tapi selalu menuduh kita yang rasis, coba kamu pikir! Kuburan aja ga mau digabung dengan kuburan pada umumnya, sudah meninggal saja ga mau bersama, apalagi hidup bersama”, ucap Tejo ketus.

“Jangan begitu dong mas, jangan disama ratakan dong”, ucap luna menyela, “Buktinya mbak stefany kan mau jalan bareng mas Tejo, merasa nyaman, dan tidak membeda-bedakan kita”, lanjutnya, “coba lihat ketika Ekaristi Kudus, kita tidak lagi memandang dia orang mana, suku mana, semuanya menjadi satu dalam nama Bapa”.

“Tapi buktinya, mereka menolak mentah-mentah lamaran orang tua saya”

“Itu lain hal mas Tejo”, ucap Luna menenangkan suasana , “sudahlah, mending mas Tejo fokus pada hal – hal yang positip”.

***

Selain karena tidak bisa menikahi kekasihnya, yang juga disesalkan Tejo adalah karena merasa telah menyia-nyiakan 8 tahun bersama stefany, ditambah kini usianya yang sudah berkepala 3.

“Tidak ada yang sia-sia mas”, ucap Luna menyemangati Tejo, “bisa saja yang kelihatannya baik justru yang tidak baik, atau bisa juga sebaliknya yang kelihatan tidak baik, bisa jadi justru itu yang terbaik”, lanjut Luna.

“Iya , aku paham”, sahut Tejo dengan suara parau.

“Lantas, kenapa lagi masih terpuruk dalam kesedihan?”, Luna mendesak.

“kamu kan tahu, umurku sudah tidak muda lagi”, ujar Tejo.

“Lho, apa hubunganya dengan umur?”, Luna menyela, “lagian umur itu tidak bisa dijadikan indikasi tinggal berapa lama lagi jatah kita hidup di dunia, kita tak tahu kapan kita akan dipanggil, jadi ya apapun yang sudah terjadi, jalani saja dengan Ikhlas”.

“Iya, aku paham”, Tejo berkata singkat, “ aku hanya berupaya, jika nanti anakku sekolah dan butuh banyak biaya, aku masih kuat bekerja”.

“Ada banyak sekali kemungkinan dalam hidup, kalau hanya itu penyebab kekhawatiran mas Teja, sebenarnya itu bukan alasan yang kuat untuk tetap terpuruk dalam kesedihan”, Luna menanggapi pernyataan Tejo, “Tuhan punya banyak sekali cara yang kreatif untuk menjawab doa-doa kita”.

“ Begitu ya?”, sahut Tejo ragu.

“Iya, begitu”.

“Kalau begitu, coba sebutkan kira-kira bagaimana sekenario Tuhan menjawab doa-doaku”, Tejo mendesak, tapi Luna justru tertawa keras. Tejo kaget, tidak biasanya Luna tertawa sekeras itu, seperti bukan Luna saja yang sedang tertawa, bisik Tejo dalam hati.

“Mas Tejo yang Gantheng, saya bukan Tuhan, jadi tidak pernah tahu bagaimana sekenarionya Tuhan, yang aku tahu Dia itu maha Pengasih, maha kuasa dan maha segalanya. Aku hanya butuh yakin bahwa penyelenggaraanya baik, itu saja cukup, selanjutnya terserah Tuhan”, ucap Luna tegas dalam nada bercanda.

Tejo hanya terdiam.

“Tapi kalau mas Tejo bertanya kira-kira sekenarionya seperti apa? Baiklah, aku jawab , tapi hanya sebatas imaginasiku”, Luna memulai pembicaraan, “ begini mas Tejo, bisa saja mas Tejo dapat istri yang usianya 21 tahun, setiap 6 tahun sekali punya anak, jadi pada usia istri mas Tejo 39 tahun sudah punya 3 orang anak, Jika mau nambah 2? Kalau Tuhan izinkan, masih sangat mungkin, Tuhan e, semuanya mungkin bagi Nya. Kalau masalah rejeki, bisa saja mas Tejo membangun Usaha, misalkan toko atau rumah makan yang bisa dikelola istri mas Tejo dan beberapa karyawan, jadi ketika mas Tejo Pensiun, masih bisa ada penghasilan buat biaya anak, atau bisa saja Tuhan mengirimkan bongkahan emas besar yang jika dijual cukup untuk membiayai hidup sampai tujuh turunan”, ucap luna, “tapi itu semua tidak penting untuk dipikirkan, apalagi direka-reka seperti apa rencana Tuhan, yang penting jalani saja kehidupan ini dengan Ikhlas dan penuh syukur, itu cukup. Biarkan Tuhan yang berkehendak mas, tidak perlu didikte”.

“Ah, kamu ketinggian menghayal”, Sahut Tejo.

“Lho , ya enggak to? Tidak ada yang tak mungkin bagi Tuhan”.

“Lagi pula, mana ada gadis 21 tahun yang mau menikah dengan laki-laki seusiaku”, sahut Tejo Pesimis.

“Ada mas”.

“Siapa?”

“Akyuu”, sahut Luna manja sembari bercanda, kemudian mereka berdua tertawa lepas.

“Bisa aja”, komentar Tejo singkat.

***

Hari – hari berikutnya, gantian Luna yang banyak bercerita, mulai dari pergumulan dengan ibunya, tantenya, juga kawan – kawanya, perjuanganya yang panjang untuk mendapatkan pekerjaan, juga kisah kasih dengan bapak, ibu dan adek – adeknya, dan banyak lagi hal tentang dirinya.  “Luna ini tidak seperti gadis pada umumnya”, pikir Tejo,  “Meski usianya masih sangat muda, tapi pemikiranya luas jauh melebihi pemikiran gadis-gadis seusianya, atau bahkan yang lebih berumur darinya. Optimismenya juga luar biasa, keikhlasanya dalam menjalani kehidupan membuat paras wajahnya selalu tampak ceria. Ah, luna, 21 tahun itu kan sekedar usia ragamu, benar katamu, usia tidak bisa dijadikan tolok ukur dalam banyak hal, termasuk kedewasaan”, Tejo berguman dalam hati.

Getar-getar lembut mulai hadir dalam dada Tejo, menyebar keseluruh pori-pori kulit tubuhnya, Tejo mengalihkan pandangan pada Luna yang duduk di sebelahnya, Luna menunduk malu. Kali ini dia jadi gadis usia 21 tahun, yang tersipu malu ketika Tejo menatap matanya.

Sempat mata mereka berdua bertatapan selama beberapa detik sebelum akhirnya Luna menundukkan kepala, tanda menyetujui apa yang dibisikkan hati Tejo melalui tatapannya.

“Luna”, ucap Tejo memecah keheningan,“aku suka kamu”.

Lagi-lagi Luna hanya terdiam tanpa kata-kata, kemudian menunduk malu. Tejo memegang tangan Luna, kemudian menariknya bangkit berdiri, dan berjalan bergandengan tangan menyusuri jalanan Citra Raya tanpa tujuan. Mereka berdua berjalan beriringan, mengikuti kata hati yang memerintah langkah kakinya. Ikhlas pada kehidupan yang akan membawa langkah kakinya entah sampai kemana? RancangaNya adalah rancangan Damai Sejahtera, keyakinan akan hal itu yang jadi pegangan mereka untuk semakin mantab menjalani hidup bersama dalam bimbingan-Nya.

***

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikian firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” Yeremia 29:11