Sidang Sinodal KWI ditutup dengan Misa peringatan lima tahun terpilihnya Paus Fransiskus

“Merupakan kehormatan besar bagi saya untuk merayakan Misa Kudus pertama kalinya di Katedral Jakarta yang besar dan indah ini. Sejak (diresmikan) 1901, ia telah menyambut banyak peristiwa penting Gereja Katolik di Indonesia, dan hari ini ia adalah saksi atas betapa besar cinta umat Katolik dan bangsa Indonesia kepada Paus dan misi universalnya.”

Duta Besar Vatikan untuk Indonesia Mgr Piero Pioppo berbicara dalam homili Misa Penutupan Sidang Sinodal KWI di Katedral Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, Jakarta, 14 November 2018. Misa yang dipimpinnya itu dihadiri oleh para uskup yang menghadiri sidang itu di Bandung 5-13 November, duta besar dan diplomat dari berbagai negara, serta umat yang memenuhi katedral itu.

Mgr Piero Pioppo lalu mengajak umat untuk berdoa agar Paus Fransiskus “menjadi asas dan landasan yang kelihatan dari iman, kasih dan persekutuan.” Fransiskus adalah Paus ke-266. Dia terpilih sebagai Paus pada hari kedua Konklaf Kepausan 2013, 13 Maret 2013.

Menurut Duta Vatikan yang lahir di Savona Italia, 29 September 1960 itu, lahir dari semangat misionaris, para uskup, imam dan katekis serta umat awam yang kudus. Juga dikatakan bahwa Allah telah memberikan sumbangan kepada Indonesia melalui kehadiran Gereja Katolik “yang senantiasa rendah hati dan bijaksana dalam berdialog dan melaksanakan misinya dalam kemurahan hati dan penuh semangat.”

Makanya, dalam perayaan itu Nuntius mengajak berterima kasih kepada penyelenggaraan ilahi atas karunia besar yang dialami Indonesia, khususnya “untuk pelayanan unggul Paus Fransiskus, pemimpin yang kelihatan dari Gereja Kristus, yang telah menjalaninya selama lima tahun dan akan melanjutkannya dengan murah hati tanpa kenal lelah demi kebaikan setiap anak-anaknya di Indonesia.”

Paus Fransiskus, lanjut Nuntius, memahami dan mencintai anak-anaknya di Indonesia, tahu suka duka mereka, memahami upaya, harapan dan mimpi setiap orang dan menemani pelayanan para uskup, para imam, kaum hidup bakti, semua keluarga dam semua orang yang dengan tulus hati mencari Allah. “Dia adalah gembala universal yang baik, dia memperhatikan dengan penuh hormat bangsa kita dan masyarakat kita. Dia juga tidak pernah berhenti mendorong dan mengajarkan kita untuk meningkatkan martabat dan kemajuan kita,” kata Nuntius.

Paus Fransiskus selalu berdoa dan berupaya untuk perdamaian, kerukunan, dan persatuan di antara kita, warga negara Indonesia, kata Nuntius seraya mengajak umat berterima kasih dengan Mazmur 23 “Tuhan adalah gembalaku, tak kan kekurangan aku ….”

Bacaan Injil hari itu, mujizat penyembuhan 10 orang kusta, “menjelaskan kepada kita tentang sikap kita yang seharusnya bila berhadapan dengan rahmat yang telah Tuhan kerjakan melalui pelayanan Bapa Suci kepada Gereja Katolik Indonesia demi kebaikan umat kita, melalui kontribusi yang Dia berikan dengan murah hati, dengan menjaga dialog antaragama, kerukunan dan perdamaian di antara warga dalam negara yang luas ini.”

Nuntius juga mengajak untuk meneladani seseorang yang setelah disembuhkan, yang kembali bersyukur atas kebaikan yang telah dilakukan Yesus kepadanya. “Semoga perayaan pesta Sri Paus Fransiskus membantu kita untuk memohon kepada Tuhan agar selalu menciptakan hati yang selalu bersyukur demi kebaikan semua saudara kita, bangsa kita, Gereja kita, dan semua umat manusia.”

Di bagian lain Nuntius menyampaikan proficiat kepada Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo yang terpilih kembali sebagai Ketua Umum KWI periode 2018-2021 dan mengajak seluruh umat untuk terus mendoakan agar para uskup dan seluruh kepengurusan KWI dapat melaksanakan tugas sebaik-baiknya.

Sejam sebelum Misa dilakukan peresmian penandatanganan dan pembukaan selubung Museum Katedral Jakarta oleh Mgr Ignatius Suharyo disaksikan oleh para uskup se-Indonesia dan ratusan umat. Pembangunan museum itu, kata Mgr Suharyo memiliki arti penting sebagai tanda bahwa umat Katolik memiliki tanggung jawab sejarah. “Museum Katedral Jakarta memang tempat menyimpan barang-barang mati, tetapi diharapkan hadirnya museum ini mengingatkan semua orang akan masa lampau dengan nilai-nilai moral yang perlu diteladani,” kata Mgr Suharyo.

Sebelum berkat penutup, diumumkan Presidium KWI Periode 2018-2021 sesuai hasil pemilihan Sidang Sinodal KWI 2018. (PEN@ Katolik) Foto: Hanphi