Paus dalam Misa: Adven, saat menciptakan perdamaian dalam jiwa, keluarga, lingkungan

Pada Misa pagi di Casa Santa Marta, 4 Desember, Paus Fransiskus bicara tentang cara umat Kristiani mempersiapkan Natal dengan membangun perdamaian dalam jiwa seseorang, dalam keluarga dan dalam dunia melalui kerendahan hati. Menciptakan perdamaian, kata Paus dalam homili, antara lain tidak berbicara jahat dan menyakiti orang lain, sedikit meniru Allah, yang merendahkan diri-Nya.

Menunjuk pada adegan pastoral yang diangkat oleh Yesaya dalam bacaan pertama, di mana serigala dan domba, serta macan tutul dan anak kecil hidup berdampingan tanpa membahayakan, Paus mengatakan nabi berbicara tentang perdamaian Yesus yang mengubah kehidupan dan sejarah, yang menyebabkan Dia disebut “Pangeran Perdamaian.”

Maka, Adven adalah saat mempersiapkan diri untuk Pangeran Perdamaian dengan berdamai dengan diri kita sendiri, jiwa kita, yang sering dalam kecemasan, penderitaan dan tanpa harapan. Untuk ini, seseorang harus memulai dengan diri sendiri.

Paus berkata, hari ini Tuhan bertanya kepada kita apakah jiwa kita damai? Jika tidak, maka kita harus meminta kepada Pangeran Perdamaian untuk menenangkan jiwa-jiwa kita, agar kita dapat bertemu Dia. Paus mengatakan, kita begitu terbiasa melihat jiwa-jiwa orang lain bukan jiwa kita sendiri.

Setelah berdamai dengan jiwa kita, inilah saatnya berdamai dalam rumah, dalam keluarga, kata Paus yang melihat banyak kesedihan dalam keluarga, “perang-perang kecil” dan kadang-kadang perpecahan.

Paus mendesak umat Kristiani untuk memeriksa diri sendiri apakah mereka dalam keadaan damai atau berperang dalam keluarga-keluarga mereka atau dengan orang lain, apakah ada jembatan-jembatan atau tembok-tembok yang memisahkan.

Paus lalu berbicara tentang menciptakan perdamaian di dunia yang banyak peperangan, perpecahan, kebencian, dan eksploitasi. Umat Kristiani hendaknya bertanya kepada diri sendiri apa yang mereka lakukan terkait dengan menciptakan perdamaian di dunia dengan mengupayakan perdamaian di lingkungan, di sekolah dan di tempat kerja.

Paus mendesak umat Kristiani untuk bertanya kepada diri sendiri apakah mereka mencari-cari alasan untuk berperang, membenci, berbicara jelek tentang orang lain dan mengutuk atau apakah mereka lemah lembut dan berupaya membangun jembatan-jembatan.

Anak-anak juga dapat bertanya kepada diri sendiri apakah di sekolah mereka mem-bully teman yang tidak mereka sukai karena dia lemah, atau apakah mereka berdamai dan memaafkan segalanya.

Perdamaian, kata Paus, tidak pernah diam tetapi selalu bergerak maju. Perdamaian dimulai dengan jiwa, dan setelah melakukan perjalanan perdamaiannya, kembali ke jiwa. Menciptakan perdamaian sedikit meneladani Allah. Ketika Dia ingin berdamai dengan kita dan mengampuni kita, Dia mengutus Anak-Nya untuk membuat perdamaian, untuk menjadi Pangeran Perdamaian.

 

Paus berkata, untuk menjadi pencipta perdamaian, seorang tidak harus bijaksana, terpelajar dan studi perdamaian. Perdamaian itu sikap yang Yesus bicarakan dalam Injil. Yesus memuliakan Allah karena Dia menyembunyikan hal-hal ini dari yang bijak dan pandai dan menyatakannya kepada orang-orang kecil.

 

Paus mendesak umat Kristiani untuk membuat diri mereka kecil, rendah hati dan menjadi pelayan orang lain. “Tuhan akan memberi kepada kalian kemampuan untuk memahami bagaimana membuat perdamaian dan akan memberi kepada kalian kekuatan untuk membuatnya,” Paus meyakinkan.

 

Setiap ada kemungkinan “perang kecil” di rumah, di hati, di sekolah atau di tempat kerja, kata Paus, kita harus berhenti sebentar dan mencoba berdamai. “Jangan pernah, jangan pernah melukai orang lain. Jangan pernah,” kata Paus, seraya menasihati umat Kristiani untuk mulai tidak bicara jelek tentang orang lain atau menembakkan meriam pertama. Dengan cara ini, kata Paus, kita menjadi pria dan wanita perdamaian, meneruskan perdamaian. (PEN@ Katolik/berdasarkan laporan Robin Gomes dari Vatican News)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*