Bukan meninggal melainkan wisuda dengan nilai cum laude, tidak sendiri melainkan bergabung bersama para Kudus di Surga – RIP Pak Ratno

Oleh : Sutopo Yuwono

“Tidak kenal dekat tapi sering melihat, satu teladan yang saya dapat dari beliau adalah kapanpun, dimanapun melihatnya beliau selalu tersenyum”, kira – kira begitu ucap salah seorang kawan yang juga di iya kan kawan-kawan lainya, seusai mengikuti Misa Requiem almarhum Bapak Ratno Wahyudi, selasa 14 mei 2019 di Rumah duka Oasis Lestari, Jatake – Tangerang. Bapak Ratno Wahyudi adalah wakil ketua Dewan Paroki Harian Gereja St. Odilia Paroki Citra Raya periode 2016-2019.

Yang dikatakan kawan tersebut tidak berlebihan, pasalnya ketika disemayamkan di rumah duka, Jenasah beliau dalam keadaan tersenyum, bukan hanya bibir yang tersenyum, namun wajahnya juga tersenyum. Salah seorang petugas rumah duka sempat berucap takjub “Katanya serangan jantung ya? Biasanya kalau terkena serangan jantung kan wajahnya menghitam, tapi Bapak ini justru tersenyum dan bersinar”.

“Beliau bukan terkena serangan jantung, tapi memang karna sudah menyelesaikan tugasnya di dunia ini, sudah lulus dengan nilai cum laude, saat ini beliau sedang merayakan kelulusanya bersama para Malaikat dan orang Kudus”, kurang lebih begitu salah seorang tamu rumah duka berucap menanggapi pernyataan petugas tadi.

***

Sabtu pagi, 11 mei 2019 berita bahwa Bapak Ratno dirawat di Ciputra Hopital menyebar begitu cepat melalui grup WA berbagai komunitas di Paroki Citra Raya. Sabtu malam, beberapa kawan terus memantau perkembangannya dengan berkomunikasi dengan kawan – kawan yang kebetulan bekerja di Ciputra Hospital, bahkan hingga senin pagi, masih menjadi perbincangan di antara kawan – kawan komunitas. Mereka bergegas ingin segera menjenguk, dan berharap Bapak Ratno baik – baik saja.

Bisa dibayangkan kesedihan kawan-kawan mendengar kabar bahwasanya sampai hari senin Bapak Ratno masih belum siuman. Secercah harapan mulai muncul ketika mendengar kabar bahwa beliau akan dipindah ke Rumah Sakit Siloam yang ada fasilitas lebih khusus untuk penanganan pasien jantung, yang diharapkan akan membuat kondisi Bapak Ratno menjadi lebih baik. Namun takdir berkata lain, sekitar pukul 2 dini hari, berita bahwa Bapak Ratno telah dipanggil Tuhan menyebar ke grup WA. Paginya, jadwal Misa Requiem, Misa pemberangkatan jenasah dan pemakanan sudah tersusun rapi. Hingga sampai malam hari menjelang Misa Requiem dimulai, koordinasi untuk berangkat bersama ke rumah duka masih terus berlangsung di grup WA.

Saya pribadi sengaja berangkat lebih awal agar berkesempatan berdoa secara pribadi dan bisa menatap wajah beliau di dunia untuk yang terakhir. Sebelum berdoa dan melihat jenasah, saya duduk di kursi tamu dan menyempatkan diri memejamkan mata, mengingat – ingat saat – saat perjumpaan dengan beliau. Mengingat setiap detail percakapan dengan beliau, mengingat saat saya dengan malu-malu melihat beliau hingga kemudian tanpa ragu beliau mendekati, mengulurkan tangan untuk kemudian membuka percakapan dengan begitu hangat. Mengingat beliau ketika menemani kawan-kawan muda memasang tenda untuk perayaan Paskah, mengingat saat beliau memberikan sambutan dan berfoto bersama pada berbagai kesempatan, mengingat ketika Romo Felix mengirimkan foto kegiatan beliau bersama para tokoh lintas Agama dan aparat pemerintahan melalui WA, dan banyak lagi wajah beliau yang selalu disertai senyuman lebar. Tak terasa air mata ini menetes mengenang beliau, hingga akhirnya rasa sedih dan duka ini sedikit surut ketika menatap jenasah beliau tetap tersenyum dan bersinar terang. Ah, bahkan ketika sudah meninggalpun, beliau masih tetap tersenyum.

Hmm, Mungkin benar kata tamu kepada petugas rumah duka itu, bukan terkena serangan jantung tapi memang sengaja dipanggil Tuhan, dibebaskan dari tugas dan beban dunia. Bukan, bukan meninggal dunia, melainkan lulus dan wisuda dengan nilai cum laude. Bukan pergi, melainkan bergabung dengan para Kudus di Surga.

***

Misa pemberangkatan jenasah dilaksanakan para rabu 15 mei 2019 di Gereja St. Odilia Paroki Citra Raya, oleh Romo Felix Supranto, SS.CC. Jenasah dimakamkan di TPU Mekar Bakti, Cikupa – Tangerang.  Kabarnya, sesaat setelah makam selesai diurug, hujan deras mengguyur area sekitar makam, seakan turut menghantarkan beliau beristirahat menuju kehidupan abadi. Sungguh menjadi teladan yang baik bagi segenap orang-orang yang ditinggalkan.

Selamat jalan pak Ratno, selamat bergabung bersama para Malaekat dan Orang Kudus. Semoga keluarga yang ditinggal diberi kerelaan hati, ketabahan, kekuatan dan penghiburan.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*