Gereja Hati Santa Perawan Maria Tak Bernoda

Jadwal Misa

  • Harian : 06.00 WIB
  • Jumat Pertama :
  • Sabtu sore : 18.00 WIB
  • Minggu : 06.30, 08.30 (pagi), 18.00 WIB (sore)

gereja-st-hati-perawan-maria-tak-bernoda

Perjalanan Karya 67 Tahun

Berbicara mengenai paroki-paroki yang tumbuh di Dekenat Tangerang sampai saat ini, tentu tak dapat dipisahkan dari sejarah sebuah paroki induk. Sebagai generasi kedua paroki yang tumbuh di Wilayah Keuskupan Agung Jakarta, Paroki Hati santa Perawan Maria Tak Bernoda adalah paroki induk dari ke-12 paroki yang saat ini ada di Dekenat tangerang.

Sejak jaman penjajahan, Tangerang yang dahulu kala disebut Kampung Makasar, sudah sering dikunjungi misionaris Katolik. Hal ini dapat ditelusuri dari sepucuk surat yang ditulis oleh Pastor A. Van Moorsel kepada Mgr. AC.Claessen, Vikaris Apostolik Batavia, di Serang tertanggal 13 November 1870, sebagai laporan perjalanan dinas ke daerah Banten.

“Mgr,… di Kampung Makasar saya telah mempermandikan dua anak. Dua anak lainnya tidak ada di rumah. Tadi pagi saya mempersembahkan Misa di gedung sekolah dan mempermandikan anak di rumah keluarga Upurich. Tadi siang saya ke Banten bersama Bapak Pati, besok pagi saya akan ke Anyer, lusa ke Caringin, Kamis ke Pandeglang, dan Sabtu ke Rangkasbitung. Saya harap Senin bisa kembali ke Serang …”

Dalam surat tersebut jelas tertulis Kampung Makasar yang tak lain adalah kota Tangerang. Tahun 1902, Tangerang resmi masuk statistic Vikariat Apostolik Batavia dengan jumlah umat 23 orang, semuanya orang Eropa. Kemudian, Imam-imam dari Ordo Fransiskan (OFM) dating ke Indonesia pada tahun 1929, diserahi Paroki Kramat dan seluruh daerah Banten, meliputi Serang, Lebak, Pandeglang, dan Tangerang. Enam tahun kemudian, jumlah umat sebanyak 93 orang ropa dan 5 orang pribumi.

Fakta-fakta sejarah dalam perjalanan panjang Gereja Hati Santa Peerawan Maria Tak Bernoda Tangerang dipenuhi begitu banyak pengalaman yang penuh misteri. Semua itu tidak lepas dari campur tangan Tuhan, sehingga lahirlah karya-karya yang menjadi tonggak pelayanan reksa pastoral Gereja.

Baptisan Pertamagereja-st-hati-perawan-maria-tak-bernoda1

Peristiwa baptisan pertama atas nama Erick Edward van Ameron, warga Belanda, tanggal 23 Mei 1948, merupakan sebuah keputusan iman, sebagai tanda yang dipilih Tuhan. Seorang Pastor Tentara, bernama Jacobus Van Leengoed, SJ mengawali pelayanan reksa pastoral dengan melakukan Sakramen Baptis pertama ini. Kemudian disusul dengan hadirnya pator-pastor yang di utus ke Paroki Tangerang dan menetap disana untuk meneruskan reksa pastoral membangun umat Allah.

Peristiwa pemberian Sakramen Baptis yang pada saat itu mungkin dianggap sebagai suatu kejadian biasa, kenyataannya menjadi awal sebuah peziarahan panjang dari sekelompok umat di bantaran Sungai Cisadane, Tangerang.

Saat ini, di usia 67 tahun Paroki Hati Santa Perawan Maria Tak Bernoda, bukan hanya perkembangan umat yang begitu pesat, juga disertai pembangunan fisik gereja yang semakin memadai, kelahiran stasi dan paroki baru, dan tak lupa karya-karya untuk peningkatan dan perkembangan iman umat.

Pelayanan Sosial

Dipindahnya Rumah Sakit Kusta “Suka Ria” di Lenteng Agung, Depok ke Desa Sewan, Tangerang, menandai awal pelayanan sosial Gereja bagi orang-orang yang membutuhkan pertolongan, dimulai dari mantan penderita kusta. Melalui Yayasan Marfati, para mantan penderita kusta diberi bekal keterampilan dalam melanjutkan “ hidupnya ‘ kembali. Peran Gereja secara konkret tampil memberikan pelayanan sosial dan mewujudkan visi kemanusiaan yang sejati. Bentuk pelayanan tersebut, sampai saat ini terus dikembangkan oleh Gereja, seperti pembangunan Graha Lansia, pelayanan bantuan pemakaman jenazah, bantuan kematian Santo Yusup, serta bantuan rawat inap (dana sehat) bagi seluruh umat paroki.

Pengembangan Sosial ekonomi

Upaya Gereja dalam membantu pihak kecil, lemah, miskin, dan tersingkirkan (KLMT) serta disable, diwujudkan dengan memberikan ketrampilan pada masyarakat kecil dalm bidang petrenakan-pertanian. Diawali dengan pembelian sebidang tanah di desa Selapajang oleh Pastor Anton Muelder,SJ. Tanah itu kemudian digunakan sebagai lahan pertanian, lahan peternakan ayam, babi dan lain-lain, dengan tujuan memberikan keterampilan kepada masyarakat dalam bidang pertanian-peternakan agar dapat mendukung tingkat ekonomi masyarakat kecil dan miskin.

Inilah wujud Gereja yang peduli dan murah hati.

(Sumber : Buku Dua Belas Wajah Paroki Dekenat Tangerang – 2016)