Gereja Santo Barnabas

Jadwal Misa

  • Harian : 05.45 WIBgereja-st-barnabas-pamulang
  • (senin- Jumat di pastoran)
  • Sabtu sore : 17.00 WIB
  • Minggu : 06.00, 09.00 (pagi), 18.00 (sore)

 

Kebun Darling Pamulang

Kebun Darling terletak di Paroki Santo Barnabas Pamulang, Tangerang. Kebun yang terletak di jalan Dr. Setiabudi No. 8 Pamulang Timur seluas 1,3 hektar ini merupakan lahan milik KAJ dan saat ini digunakan sebagai Kebun Organik  (Pendidikan dan Pelatihan) di Gereja St. Barnabas.

Tahun 2009, KAJ bekerjasama dengan tim dari Paroki St. Barnabas mulai memanfaatkan lahan KAJ tersebut dengan membuat Program  Pertanian, Perikanan, Peternakan, Pendidikan, dan Pengolahan Sampah Organik Terpadu (P5OT) yang dikembangkan di Kebun Darling.

Program peduli lingkungan hidup ini dibuat dengan menyesuaikan kondisi kebun dan kemungkinannya yang dapat berdaya guna serta bermanfaat bagi masyarakat sekitar pada umumnya. Pengolahan sampah juga dilakukan dengan dibukanya Kebun Sadar Lingkungan (Kebun Darling). Ini merupakan salah satu proyek percontohan kesadaran lingkungan dari KAJ.

Dalam program pertanian di Kebun Darling, selain pemanfaatan lahan kosong, juga digunakan sebagai Penanaman Sayuran Organik seperti bayam, kangkung darat, Kaylan, Terung Ungu, Kacang Tanah, Buncis, Kacang panjang dan juga Tanaman Obat terutama Herbal seperti Binahong, Daun Baru Cina, Ginseng Jawa, Sambung Nyawa, Sambiloto, Temulawak, Ciplukan, Kunyit. Kepada umat Paroki Barnabas dan masyarakat sekitar, tim di Kebun Darling berusaha memperkenalkan cara pemilahan dan pengolahan sampah rumah tangga, serta pembuatan pupuk Kompos.

Peternakan di Kebun Darling adalah memelihara ayam Pedaging Organik dengan masa panen 30 hari per 1000 ekor. Selain ternak ayam Organik juga memelihara domba. Untuk pakan ternak, kebun ini cukup memenuhi pakannya. Dalam bidang perikanan, terdapat 6 (enam) empang yang difungsikan dan dari hasil budi daya ikan empang ini dapat memberi masukan bagi operasional Kebun Darling. Kebun darling juga menggelar program pendidikan yang bermanfaat positif  bagi warga sekitar Pamulang dan Jakarta terutama peserta didik dari sekolah-sekolah dengan kunjungannya untuk “studi banding”, belajar pengolahan sampah, berkebun, dan pelatihan-pelatihan sadar lingkungan. Terdapat beberapa jenis pengolahan sampah di Kebun Darling yaitu mengolah sampah secara Organik /sampah hancur oleh alam dan An-Organik/sampah tidak hancur oleh alam.

Gelis dan Bank Sampah

Sebagai bagian dari masyarakat, gereja berusaha terlibat dalam memerangi masalah sampah. Setelah SAGKI 2005, KAJ mulai menggerakkan kepedulian umat terhadap lingkungan non-hutan dan sampah. Salah satunya berupa program Gerakan Hidup Bersih dan Sehat (GHBS) dalam rangka kampanye hidup bersih dan sehat, serta memerangi sampah.

Di Paroki Barnabas Pamulang ada Gelis atau Program Gerakan Peduli Sampah. GELIS bertujuan mengajak masyarakat untuk peduli mengolah sampah Rumah Tangga dengan memilah dan memilih sampah kering maupun basah, membuang sampah pada tempatnya dan berperlaku hidup bersih dan sehat.

Gelis mengusung visi menjadikan lingkungan menjadi hijau, bersih dan sehat. Misinya adalah menjadikan lingkungan sebagai tempat pengelolaan sampah secara mandiri, memfasilitasi lingkungan sekitar dalam pengelolaan sampah secara Mandiri dengan konsep 4 R (Reduce, Reuse, Recycle,Replant) berkisar pada kegiatan penghijauan, kerja bakti, pembuatan kompos, biopori, prakarya daur ulang, pohon Natal dari plastic, penyuluhan sampah, dan seminar lingkungan hidup.

Dalam kaitan dengan sampah, di seluruh KAJ telah diperkenalkan program Bank Sampah. Keberadaan Bank Sampah sangat membantu mengatasi masalah sampah, terutama di wilayah Tangerang Selatan. Oleh karenanya, pada 10 Mei 2015 yang lalu Walikota Airin Rachmi Diany hadir dalam peresmian FORKAS sebagai program yang tugasnya mengkoordinir, memberikan solusi bila ada persolan di bank sampah, hingga melakukan upaya promosi kepada masyarakat. Ia yakin, motto “Tangsel sebagai rumah bersama” akan terwujud melalui gerakan bank sampah dengan tema “Bersama kita Mengolah Sampah”.

(Sumber : Buku Dua Belas Wajah Paroki Dekenat Tangerang – 2016)