Gereja Santo Matius Penginjil

Jadwal Misa

  • Harian : 06.00 WIB
  • Sabtu sore : 18.00 WIB

    gereja-st-matius-penginjil

  • Minggu : 06.30, 09.00 (pagi), 16.00, 18.00 (sore)

 

Ada satu keistimewaan yang dimiliki oleh umat Paroki Bintaro, yaitu keaktifannya dalam liturgi Ekaristi, terutama partisipasi dalam bernyanyi. Tak he

ran bila sudah sejak lama paroki yang terletak di Tangerang Selatan ini dijuluki Paroki yang Gemar Bernyanyi. Partisipasi seluruh umat yang sangat tinggi dalam bernyanyi sepanjang perayaan liturgi ini membuat perayaan keselamatan itu terasa meriah, indah, dan agung.

Mengapa partisipasi umat bisa sedemikian tinggi?

Hal itu tak terlepas dari inisiatif Pastor Otello Pancani SX, pastor paroki waktu itu yang “ memaksa “ umat lingkungan dan wilayah terlibat penuh dalam pelaksanaan perayaan Ekaristi. Melalui Misa “ Paket”, sebagian besar umat paroki terlibat, atau minimal pernah terlibat dalam persiapan pelaksanaan perayaan Ekaristi di paroki. Semakin rajin Ketua dan pengurus lingkungan serta ketua dan pengurus wilayah menghubungi, menyapa, dan mengajak umatnya, tentu akan menghasilkan tingkat keterlibatan umat yang lebih besar lagi.

Paduan Suara Lingkungan dan Wilayah

Paroki Santo matius Rasul memiliki 85 kelompok paduan suara. Terdiri dari 65 paduan suara lingkungan, 17 paduan suara wilayah dan tuiga paduan suara kategorial, yaitu PS Bapak-Ibu Paroki, PS Mudika Paroki, dan PS Anak-Anak Paroki.

Untuk tugas-tugas Misa yang bukan hari raya Gereja, paduan suara lingkungan bertugas. Loginya kalau paduan suara salah satu lingkungan bertugas, umat akan terdiri dari anggota paduan suara salah satu lingkungan-lingkungan lain. Hal inilah yang membuat partisipasi umat untuk bernyanyi dlam perayaan liturgy sangat tinggi.

Sejak awal memang banyak kesulitan yang harus dipecahkan. Pada awalnya ada lingkungan yang hanya bisa mengumpulkan paling banyak 10 orang. Itupun dengan susah payah, sehingga bukan hal yang aneh kalau lingkungan tetangga dalam satu wilayah saling membantu. Hal ini pun berlangsung sampai saat ini. Kalau di suatu lingkungan ada 2-3 orang saja yang sanggup membaca not dengan baik sudah sangat bagus. Karena itu, sampai sekarang pun tidak semua lingkungan sanggup menyanyikan lagu-lagu empat suara. Tidak menjadi soal, sebab yang penting adalah kekompakan paduan suara tersebut agar dapat menjadi motor menyemangati dan mendorong umat untuk terlibat dalam menyanyikan lagu-lagu sepanjang liturgi berlangsung. Dengan jumlah yang lebih banyak, mutu paduan suara wilayah biasanya lebih baik.

Keterlibatan umat dalam berlatih bersama sekali seminggu, minimal empat kali dalam mempersiapkan satu tugas pelayanan lingkungan, sungguh patut diacungi jempol. Semangat untuk bersama-sama melayani altar perjamuan Tuhan, berusaha mempersembahkan yang terbaik dengan tetap datang berlatih walaupun lelah sepulang kerja, merupakan persembahan masing-masing umat kepada Tuhan. Kuallitas teknis ditingkatkan terus berbarengan dengan ketaatan pada pakem liturgis yang benar. Pada hari Natal tahun 1996 misalnya, saat paduan suara menyanyikan “ We Wish You A Merry Christmas” sebagai lagu komunio, tiba-tiba terdengar suara Romo Otello : “Ganti lagunya! Itu bukan lagu liturgi, dan umat harus bisa ikut menyanyi!” Banyak umat yang kaget. Tapi ada pesan yang jelas dari pastor paroki saat itu : bahwa mutu suatu paduan suara Gereja tidak ditentukan semata-mata pada kemampuan teknis musik dan vokal tapi juga pada kemampuan menempatkan musik di dalam liturgi sesuai dengan tata musik liturgi yang berlaku.

Paduan Suara Kategorial

Seperti dijelaskan di atas, selain paduan suara berbasis kewilayahan, ada juga yang berbasis kelompok umur atau generasi. Maka hadirlah PS Bapak-Ibu, PS Mudika, dan PS Anak-anak. Kedua kelompok PS yang pertama mengemban misi memperkenalkan musik Gereja yang benar dan menyenangkan kepada anak-anak, sekaligus menjadi salah satu wadah pembinaan anak-anak paska Komuni Pertama.

Dirigen dan Pemazmur

Sebagian besar dirigen dari paduan suara kita walau bukan pemusik atau vokalis handal, “ berani menanggung risiko salah, bahkan berani malu ” untuk tampil memimpin. Walaupun dengan bekal pengetahuan musik dan vokal yang belum memadai, para dirigen kita dengan tekun dan setia telah mempersembahkan waktu dan tenaganya, sehingga liturgy paroki terus berkembang menjadi semakin meriah dan agung. Semangat dan kerelaan melayani yang dimiliki oleh para dirigen kita tentu akan semakin “berbuah ranum” jika mereka meng-“upgrade” diri, misalnya dengan membaca buku yang berhubungan dengan music liturgy seperti Warta Musik Liturgi terbitan Pusat Musik Liturgi Yogyakarta dan lain-lain.

Bagaimana dengan pemazmur? Kita bersyukur karena sampai saat ini dari semua lingkungan ada orang-orang yang berani maju sebagai pemazmur. Ada yang vokalnya sudah prima, ada yang lumayan dan masih bisa disempurnakan. Yang perlu ditingkatkan adalah penghayatan akan syair yang didaraskan. Ini berarti juga pengenalan akan jenis-jenis mazmur dan cara membawakannya.

Organis Paroki

Setiap organis pasti pernah belajar musik secara khusus, sehingga lebih mengerti musik daripada anggota paduan suara bahkan dirigen. Setiap organis pasti punya teknik dan warna musik berbeda satu sama lain , tapi tidak semuanya memiliki teknik dan warna music yang pas untuk liturgi Gereja. Tidak terlalu menjadi masalah, yang penting ketekunan dalam berlatih dan kerelaan mempersembahkan waktu untuk melayani bersama lingkungan / wilayah. Paduan Suara, Dirigen, Solis/Pemazmur, dan Organis adalah empat pilar musik gereja, musik liturgi. Merekalah yang menentukan apakah musik liturgi akan menjadi musik yang sungguh mendukung sehingga setiap upacara liturgi benar-benar menjadi perayaan keselamatan di mana umat sungguh terlibat didalamnya.

(Sumber : Buku Dua Belas Wajah Paroki Dekenat Tangerang – 2016)