Santo Gregorius Agung

Jadwal Misa

  • Sabtu sore : 18.00 WIB
    Minggu : 06.30, 08.30 (pagi)

 

Menjiwai Spritualitas St. Gregorius Agung

Paroki St. Gregorius Agung, yang sebelumnya merupakan salah satu stasi dari Paroki Santa Perawan Maria Tak Bernoda (HSPMTB), Tangerang diresmikan pada 23 September 2013 oleh Uskup Agung Jakarta, Mgr. Ignatius Suharyo, Pr. Paroki ini berada di wilayah Kabupaten dan Kotamadya Tangerang, meliputi Kecamatan Pasar Kemis, Kecamatan Periuk, dan Kecamatan Rajeg.

Jumlah kepala keluarga di paroki adalah 2.043 KK, terdiri dai sepuluh wilayah dan 52 lingkungan, dengan total umat sebanyak 7.382 jiwa dimana 36% terdiri dari anak-anak berumur balita hingga remaja yang perlu mendapat perhatian dalam pembinaan iman.

Profesi umat paroki sangat beragam tetapi mayoritas berprofesi sebagai karyawan kantor (30%), karyawan pabrik (25,5%), wiraswatawan (16,6%), dan guru (15%). Hal penting yang perlu dicatat bahwa ada 2,5% umat yang memiliki kemampuan dalam fungsi manajerial karena latar belakang pengalaman di bidang pekerjaannya dan oleh karena itu kelompok ini bisa dilibatkan secara optimal dalam bebagai kepengurusan baik di lingkungan maupun di gereja dalam rangka pengembangan umat serta rencana-rencana strategis lainnya. Hal yang sama juga berlaku bagi profesi-profesi spesialis seperti bidang keamanan, hukum, kesehatan, IT, engineering, keuangan, dan lain-lain. Sebagai suatu komunitas, paroki juga membutuhkan peran-peran tersebut. Secara umum, dengan mempertimbangkan profesi mayoritas umat tersebut di atas, dapat dikatakan bahwa kebanyakan umat belum memiliki pengalaman yang kuat dalam mengelola suatu komunitas atau organisasi. Oleh karena itu perlu adanya program-program pelatihan kepemimpinan dan organisasi yang merupakan modal dasar pengembangan lingkungan ke depan, sekaligus mempersiapkan umat untuk dapat mengambil peran-peran kunci, baik di gereja maupun masyarakat.

Kehidupan berkomunitas umat di lingkungan dikategorikan cukup baik dalam hal penyelenggaraan pertemuan ibadat . Hal ini tentu perlu mendapat perhatian dari pengurus-pengurus gereja, sekaligus melakukan evaluasi, apakah karena mayoritas umat bekerja shift, lokasi kerja yang jauh sehingga pulang lebih larut, kegiatan pertemuan kurang menarik atau mungkin juga umat memang kurang peduli terhadap pentingnya berkomunitas sehingga dengan demikian bisa dilakukan berbagai perbaikan dan penyempurnaan. Evaluasi yang sama juga perlu dilakukan terkait keterlibatan dalam kelompok-kelompok kategorial di paroki yang sejauh ini masih rendah.

Dalam kaitan dengan interaksi umat lingkungan di masyarakat, secara umum dapat dikatakan masih rendah. Baru sekitar 20% umat terlibat di masyarakat. Hal ini bisa berpngaruh pada rendahnya penerimaan masyarakat. Hal ini bisa berpengaruh pada rendahnya penerimaan masyarakat terhadap eksistensi umat Katolik karena kurangnya pengenalan diri dan sosial di tengah-tengah masyarakat yang mayoritas nonkristiani, sebagaimana diindikasikan oleh keberadaan dua belas buah masjid, sembilan pesantren, dan sembilan posko ormas. Namun demikian, ada hal positif yang sudah terbangun di beberapa lingkungan atau wilayah dimana 5% dari total umat sudah terlibat sebagai ketua RW, ketua RT, dan pengurus RT/RW. Diharapkan kelompok umat ini, bersama-sama dengan pengurus lingkungan bisa mengajak dan memotivasi umat lainnya untuk turut terlibat. Dengan demikian, umat Katolik bisa lebih dikenal dan nilai-nilai iman Katolik bisa lebih diwujudnyatakan dalam kehidupan bermasyarakat. Sejalan dengan program pengembangan umat yang dicanangkan oleh Dewan Paroki diharapkan nantinya akan hadir lebih banyak tokoh-tokoh masyarakat dari kalangan umat Katolik.

Dengan menjiwai spiritualitas pelindung lingkungan St. Gregorius Agung yang merupakan seorang perfek di Kota Roma, yang kemudian karena cintanya kepada Tuhan, lalu melepaskan jabatan politik tersebut dan memilih hidup membiara bahkan menjual segala harta kekayaannya untuk membangun biara-biara. Selama hidupnya, ia tekun berdoa dan bersemedi serta membantu orang-orang miskin dan tertindas. St. Gregorius Agung dikenal rendah hati, dengan motto hidupnya yang sangat terkenal, “Servus Servorum Dei (Hamba dari Segala Hamba)”. Dengan semangat spiritualitas yang ada, diharapkan umat Paroki St. Gregorius Agung bisa menjiwai nilai-nilai tersebut dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari baik dalam keluarga, lingkungan, gereja, dan masyarakat sehingga bisa membawa berkat bagi sesama.