Renungan “World Marriage Day 2020” di Gereja Katholik Sta. Odilia – Citra Raya

Published by aspranoto on

 

 

Minggu, 16 Februari 2020, misa pagi jam 09:00 atas prakarsa Seksi Kerasulan Keluarga ( SKK ) Paroki Santa Odilia telah mengadakan pembaharuan janji Perkawinan untuk para pasangan suami istri ( pasutri ) beserta putra dan putrinya.

Peserta sekitar 89 pasutri yang mendaftar dan lebih dari itu yang ikut merayakannya.

Hal tersebut sebagai ungkapan Puji Syukur dan bertepatan dengan Hari Perkawinan Sedunia .

Hari Perkawinan Sedunia adalah program yang diawali di Amerika Serikat pada tahun 1981, oleh beberapa pasangan suami istri yang mendesak walikota, gubernur, dan uskup untuk menyatakan Hari Valentine sebagai “Hari kami percaya pada perkawinan”.

Perayaan ini mengalami sukses besar dan timbul gagasan untuk kemudian diangkat oleh pemimpin Nasional Marriage Encounter (ME) seluruh dunia menjadi program ME.

Tahun 1983, nama itu diubah menjadi “Hari Perkawinan Sedunia” yang dirayakan pada hari Minggu kedua dalam bulan Februari tiap tahunnya.

Dan hal yang menggembirakan bagi kita umat Katholik sedunia, tahun 1993, Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II memberi restu apostolisnya pada Hari Perkawinan Sedunia.

Tujuan dari Hari Perkawinan Sedunia ialah untuk “menghormati suami dan istri sebagai kepala keluarga, yaitu unit basis dari masyarakat”. Perayaan ini juga hendak menjujung tinggi keindahan kesetiaan pasutri, pengorbanan dan kegembiraan dalam hidup perkawinan setiap hari. Artinya pasutri diajak untuk menyadari dan menghangatkan kembali kesatuan hati diantara mereka dan menyadari peran penting mereka memelihara kesatuan dalam keluarga.

Dalam Misa yang dipimpin oleh Romo RP Agustinus Triyanto, SS.CC menekankan bahwa “ Hidup adalah pilihan, dan setiap pilihan mengandung konsekwensi “.

Demikian juga dengan pilihan untuk menikah, karena dalam Gereja Katholik pernikahan adalah salah satu pilihan yang diberkati dengan sebuah sakramen yang disebut “Sakramen Perkawinan”, maka pasangan suami istri yang telah mengikrarkan janji dalam sebuah Sakramen Perkawinan harus konsekwen untuk senantiasa dengan sepenuh hati, jiwa dan raganya, mengusahakan jalan keselamatan dan kebahagiaan bersama dalam ikatan perkawinan yang telah diikrarkannya.

Suka dan duka, untung dan malang adalah bagian dari sebuah proses menuju kesempurnaan sebuah keluarga, hingga tak terasa sebuah keluarga yang diikat dalam sebuah Sakramen Perkawinan makin hari makin tangguh dan layak menjadi pelayan dan pewarta kabar sukacita sebagaimana anak anak Allah yang setia.

Ada kutipan firman Tuhan yang sesuai pada hari tersebut dapat direnungkan :

Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. (TB Mat 5:27-28)

Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar; janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambut pun. Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat. (TB Mat 5:33-37)

Ibarat membuka sebuah album keluarga, melalui Pembaharuan Janji Perkawinan ini para pasutri diajak untuk membuka cover depan dan bab pertama dalam album keluarga tersebut.

Teringat dalam benak para pasangan suami istri, mungkin 1,2, 3 atau bahkan 10, 20, 30 tahun yang lalu, ketika mereka mengucapkan ikrar, berjanji di hadapan Allah dalam Gereja Katholik disaksikan Rohaniwan / Pastor, dan handai taulan dalam Sakramen Perkawinan yang suci bahwa mereka yang semula dua akhirnya melalui Sakramen Perkawinan menjadi satu dan tidak boleh terpisahkan.

Terbesit dalam sanubari dan kalbu Sang Suami, ketika mengulang janji perkawinan tersebut, serta melihat dan memandang jelas wajah istri yang sebenarnya sudah sering dilihatnya setiap hari, dalam hati dia berkata “ Istriku, mungkin engkau tidak secantik dulu sewaktu aku pertama kali mengucapkan janji di depan Romo, yang memberkati Sakramen Perkawinan kita, ada sedikit keriput dipipimu, dan tanda garis-garis kelelahanmu karena sibuk mengurusi aku dan anak-anak kita, namun bagiku engkau makin perkasa karena dalam dirimu terdapat figure seorang ibu tempat dimana kutitipkan janin anak-anakku dirahimmu sekaligus teman dan pelindung bagi hidupku, tempat curahan suka dan duka, dan penasehat bagi nahkoda yang sedang mengendalikan bahtera rumah tangga”

Begitupun dalam sanubari dan kalbu Sang Istri, ketika mengulang janji perkawinan tersebut, serta melihat sosok dan wajah suaminya, dan membandingkan dengan dulu ketika dilihatnya saat mereka mengucapkan ikrar bersama dihadapan Romo untuk yang pertama kali, “Suamiku, memang engkau tidak segagah dan seganteng dulu, raut wajahmu menunjukkan kelelahan, bahkan rambutmupun sudah menjadi dua warna, namun dimataku dan hatiku engkau semakin gagah bagiku, kau tunjukkan janjimu yang dulu, dengan penuh tanggung jawab, tempat tumpuan hidupku dan anak-anak kita, bawalah aku dan anak-anak dalam bahteramu menuju kebahagiaan yang kita nantikan bersama.

Kecupan dan pelukan serasa meluruhkan raga,

Ada rasa getar disana seakan-akan tidak rela untuk dipisahkan,

Semoga semangat disegarkan kembali,

Ketika saat-saat mereka menyatukan diri , dari dua pribadi menjadi satu,

Mengusahakan sekuat tenaga dan tekat untuk mendapatkan restu, dari ayah dan ibu.

Kini, semuanya telah menjadi nyata

Takkan ada hal yang merintanginya,

Satu biduk dalam bahtera rumah tangga,

yang senantiasa disaksikan Allah Yang Maha Kuasa.

 

Tuhan Yang Maha Kuasa……….

Bila boleh kami meminta,

Ketika kami nanti tiada,

sekiranya kami berdua  disurga.

Jadikan kami satu ruang dalam dunia keabadian

 

 

Semoga dengan senantiasa mengingat saat-saat ketika para pasutri tersebut mengikat janji di depan Allah yang disaksikan Romo dan handai taulan, maka para pasutri senantiasa sadar bahwa janji yang mereka lakukan adalah bukan sekedar janji pada pasangannya saja namun Allah ikut campur didalamnya, sehingga akan lahir keluarga-keluarga teladan Nasaret dalam masyarakat, teristimewa keluarga umat Katholik di Paroki Santa Odilia.

Semoga para pasutri sedunia, senantiasa menjaga kesetiaan dan dapat mewujudkan sebuah team yang tangguh yang disebut keluarga bahagia.

Santo Yusuf dan Bunda Maria,  —— Doakanlah kami.——-

Tuhan Memberkati.

 

( Al. Susilo Pranoto )


0 Comments

Leave a Reply