“ALKITAB” bukan sekedar buku sejarah, Pertemuan 1, APP 2020, Lingk. Sto.Lukas, Wilayah Citra 3

Published by aspranoto on

Puji Syukur dan terima kasih kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kasih, Jumat 6 Maret 2020, Jam 19:30 Pertemuan Pertama “ APP / Aksi Puasa Pembanguan” di lingkungan Sto. Lukas Serdang Asri 1 dan 3 kali ini dihadiri lebih dari 30 peserta yang terdiri dari bapak-bapak, ibu-Ibu, remaja dan anak-anak.

Adalah hal yang sangat dibanggakan, sebab biasanya pertemuan yang membahas tentang pendalaman kitab suci, pesertanya tidak sebanyak pertemuan-pertemuan lain, misalnya pertemuan bulan Rosario, Misa lingkungan, dan yang lainnya. Dan yang lebih menggembirakan adalah biasanya untuk pendalaman kitab suci pesertanya adalah hanya kalangan bapak dan ibu saja, namun kali ini remaja dan anak-anakpun ikut terlibat dan bersemangat.

Pada pertemuan pertama ini dengan tema “Kepekaan Sosial Bagi Sesama” diadakan di rumah Keluarga Bapak Rendra Adrianto, dan sebagai fasilitator adalah Bapak Yohanes Suharsono dan Bapak Agustinus Yulianto.

Pertemuan dibuka oleh Bapak Ketua Lingkungan, dan dilanjutkan oleh fasilitator dalam doa tobat dan doa mohon bimbingan kepada Allah agar pendalaman Kitab Suci ini benar-benar dijiwai dan diresapi dengan bantuan Roh Kudus yang hadir ditengah-tengah kita.

Sebagai innovasi dari kami, agar semua peserta dapat berperan aktif, maka pertemuan ini kami bagi dalam 4 kelompok, dimana setiap sesi analisa masalah, sharing dan pertanyaan pertanyaan , masing-masing kelompok dapat/harus mewakilkan anggotanya secara bergantian menyampaikan pendapat kelompoknya, begitu juga dengan ujud doa umat.

Ada banyak hal yang dapat kita renungkan dari tema renungan dari buku panduan KAJ yang dapat menjadi perhatian bagi kita semua.

Salah satu kelompok menyoroti akan kejadian-kejadian yang tidak mencerminkan akan Kasih pada sesama di lingkungan gereja/umat kita, yaitu dengan kejadian di Kupang, mengenai pencurian uang kolekte oleh anak-anak dan nyaris di amuk masa, juga kerja rodi pada jaman pejajahan Belanda.

Lebih-lebih kami juga prihatin akan kejadian akhir-akhir ini dengan adanya peristiwa perundungan 77 siswa oleh 2 kakak pembinanya di Seminari Menengah  BSB, di Sikka- Maumere, NTT. ( ini tentu sangat memalukan bagi kita umat minoritas yang cenderung terpojokkan bila ada hal-hal negative yang kita lakukan, sudah menjadi rahasia umum bagi kita, “ kita berbuat benar pun salah, apalagi berbuat salah”)

Kalau kita kupas lebih dalam dengan 3 kejadian diatas, apa salahnya dengan firman Tuhan yang kita terima, dilingkungan gereja, negeri Belanda yang mayoritas Kristen ( pelaku sistim kerja rodi ) maupun pendidikan seminari. Dilingkungan-lingkungan tersebut sudah bukan hal asing dengan apa yang disebut “Alkitab” yang mana berisi dengan sabda-sabda Tuhan, Firman Tuhan, Hukum Kasih dan sejarah perjalanan hidup dari umat manusia yang dituntun Allah untuk mencapai kesempurnaan hidup.

Patut kita renungkan dengan penguasaan kita sebagai umat Katholik, sejauh mana kita memahami Alkitab? Apakah kita memperlakukan Alkitab hanya sebagai pelajaran agama dan sejarah saja? Atau kita sudah memperlakukan isi Alkitab sebagaimana harapan Allah sendiri, yaitu menjadi pelaku firman akan hukum kasih dan pelayanan pada sesama dan ujud pengabdian kita pada Allah Yang Maha Kuasa, sebagaimana yang diteladankan oleh Putranya “ Tuhan kita Yesus Kristus”.

Ada suatu illustrasi yang mungkin bisa membuka pemahaman mengenai pemahaman firman Tuhan dalam Alkitab, seumpama kita berlajar beladiri dengan jurus-jurus yang sudah kita kuasai. Namun ketika kita menghadapi musuh/lawan untuk bertarung, tak satupun jurus yang kita kuasa dapat kita gunakan dengan baik, dan yang muncul adalah jurus “ngawur / tanpa arah” karena mungkin kita panik, cari selamat,  atau ketakutan yang luar biasa sehingga antara ilmu/penguasaan jurus yang kita miliki dan insting kita, tidak menyatu dalam menghadapi realitas yang dihadapi.

Begitupun dengan ada sebagian dari kita ( contoh 3 kasus diatas ), yang mengenal Sabda dan Firman Tuhan dalam Alkitab, namun dalam kehidupan dan prilaku sehari-harinya tidak mencerminkan dengan ajaran Kasih dan Pelayanan dari apa yang diajarkan di Alkitab.

Kelompok lain menyampaikan keprihatinan akhir-akhir ini dengan merebaknya Virus Corona, yang berimbas pada mahal dan krisisnya kebutuhan akan masker dan hand sanitari. Sangat memprihatinkan, ada beberapa orang yang mengambil kesempatan diatas penderitaan orang lain dengan menstock dan menjual kembali dengan harga mahal.

Pertemuan juga membahas niat kita untuk saling berbagi pada sesama, terlebih pada yang lemah, miskin dan tersisih, selain penghematan akan sumber daya alam ( air, makanan, dll ).

Tak luput juga kami membahas implementasi dari hasil “ Celengan Yesus Tunawisma”, sepengetahuan kami uang tersebut akan digunakan untuk menolong dan memberdayakan bagi orang-orang dalam golongan  KLMTD atau Kaum Lemah, Miskin, Tersingkir dan Difable ( berkebutuhan khusus ) dengan pengawasan dari HAAK, PSE dan Panitia Tahun Keadilan.

Sehingga diharapkan dengan bantuan tersebut, para KLMTD  dapat survive dan mandiri untuk bisa berdaya guna bagi dirinya dan orang lain.

Semoga pertemuan pertama ini dapat kami resapi, renungkan dan implementasikan agar kami sebagai umat Katholik, bukan sekedar menuntut keadilan saja, namun lebih utama sebagai pelaku keadilan itu sendiri.

Selamat berjumpa pada Petemuan ke dua APP 2020 berikutnya.

Sekiranya berkat dan kasih Tuhan menyertai kita semua. Amin

Santo Lukas – Doakanlah kami.

( Alsprant )


0 Comments

Leave a Reply