Tujuh Sabda Terakhir, Pertemuan minggu 1, Emmaus Journey Sta. Odilia

Published by aspranoto on

Pertemuan Pertama Buku IV “ Tujuh Sabda Terakhir” atau Seven Last Words From The Cross dari Kelompok Spiritualitas Kitab Suci Emmaus Journey Angkatan 7, Paroki Santa Odilia telah diadakan di Gedung Damian, lantai 3, Gereja Katholik Santa Odilia Citra Raya. Sabtu, 14 Maret 2020, Jam 19:30 – 21:30.

Pertemuan ini adalah kelanjutan dari pertemuan pertemuan awal yang dilakukan oleh para emmauser dalam kelompok-kelompok kecil, yang beranggotakan : Peserta baru, Fasilitator dan Pendamping, dan perkelompok tidak lebih dari 10 anggota.

Dengan panduan Buku I ( Perjalanan Menuju Hidup Mendasar ), Buku II ( Perjalanan Menuju Hidup Berbuah ) dan Buku III ( Perjalanan Menuju Hidup Terfokus ) dari buku Emmaus Journey – Kelompok Spiritualitas Kitab Suci sebagai guidance bahan diskusi, masing-masing Kelompok Spiritualitas Kitab Suci ini mengadakan pertemuan seminggu sekali, untuk memperdalam pengetahuan tentang firman Tuhan, teristimewa dengan sharing pandangan dan pengalaman hidup dan diskusi dari masing masing anggotanya, sehingga dengan proses perenungan dari masing-masing kelompok tersebut, masing-masing anggota diharapkan mengalami kenaikan level dalam spiritualitas dan pemahaman akan firman Tuhan yang di pelajari dari Kitab Suci secara bersama-sama.

Sebagai pembicara dalam Sesi 1, Buku 4 “ Tujuh Sabda Terakhir” ini dibawakan oleh RP Richardus Matius Bili SS. CC atau lebih akrab kami panggil dengan Romo Ricard yaitu salah satu Romo di Paroki Citra Raya.

Acara dimulai dengan doa pembuka yang dipimpin oleh salah satu peserta, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan kita “ Indonesia Raya” dan Mars “Emmaus Journey “ kemudian waktu diserahkan pada romo Ricard untuk membahas tema pertama dari Buku “Tujuh Sabda Terakhir”  Sesi 1, yaitu “ Bapa, ampunilah mereka; sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”.

Suasana pertemuan ini lebih dirasa sebagai berbagi cerita dan sharing dari seorang kakak kepada adik-adiknya, sehingga tercipta situasi akrab, penuh perhatian karena apa yang di sampaikan Romo Ricard sangat terasa sebagai refleksi dan membawa kami untuk merenungkan dengan apa yang telah kita alami sepanjang perjalan hidup kami masing-masing.

Dalam perikop “Yesus disalib” Lukas 23: 32-38, disitu diceritakan banyak orang-orang yang terlibat dalam peristiwa penyaliban Yesus, ada dua orang penjahat yang disalib di kiri dan kanan Yesus, yang satu menantang Yesus dengan apakah bisa membebaskan diriNya dan mereka, yang lain memohon ampun pada Yesus dan minta diselamatkan karena dia telah melakukan dosa-dosa, kemudian  para pemimpin agama bangsa-Nya, yang rapuh ketakutan, karena tidak dapat menghindar dari telah hilangnya perasaan kasih dari dalam diri mereka sedemikian lamanya, Pilatus yang malang, yang untuk selama-lamanya meremas-remas tangannya, tangan yang selama-lamanya tercemar,  para prajurit yang harus menjalankan tugas, mencabuki-Nya, memaku-Nya, menusuk-Nya dengan tombak, sebagai bagian dari tugas yang harus mereka lakukan sebagai prajurit di negeri asing, jauh dari rumah mereka atau juga penonton lainnya dengan reaksi yang beragam.

Kami diajak untuk merenungkan peristiwa itu, dan hadir disana, dengan berusaha menyadari sebagai siapakah kita dalam drama penyaliban Yesus tersebut ?.

Bila kita renungkan lebih jauh, peran yang dilakukan orang-orang disekitar Yesus ketika terjadi penyiksaan yang diakhiri penyaliban Yesus, juga kita lakukan pada perjalanan hidup kita, semakin kita renungkan semakin menghantui rasa bersalah kita karena memang “Dosa membawa perasaan bersalah”.

Melalui Sabda Yesus sebelum maut menjemput “ Bapa, ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” saat itulah Yesus menghapus dosa dan kesalahan kita dan bagi kita telah kita terima ketika kita menerima “ Sakramen Baptisan” sebagai pengampunan atas dosa-dosa kita.

Namun dalam perjalanan dan penziarahan hidup kita, kita masih sering baik sengaja ataupun tidak sengaja melakukan dosa-dosa lagi, sehingga dalam “ Hati Nurani kita” ada tertinggal disana perasaan dengan kadar kepekaan dan reaksi yang berbeda-beda, ada yang merasa bersalah terus menerus dan merasa tak termaafkan, ada yang makin kebal dan tidak peduli sehingga melakukan dan melakukan dosa yang sama lagi tanpa terbesit rasa sesal, namun ada juga yang berusaha membuka hatinya untuk membuka pintu maaf pada dirinya, menyesali kesalahannya untuk tidak melakukan kesalahan yang sama lagi dan penuh keyakinan “tidak ada lagi yang tertinggal karena dosaku telah diampuni” dan melakukannya dalam Sakramen Pertobatan, dan melalui pelepasan atas ikatan dosa dan pemberian denda dosa / penitensi yang diberikan Tuhan dengan perantara Imam, kita yakin dosa kita telah dihapus dan dengan mantap kita bisa menyongsong masa depan dengan penuh semangat tanpa tanggungan dari masa lalu kita. Sebab pengampunan dari Tuhan itu total, dan sarana itu telah diserahkan kepada Imam pengakuan kita dalam kuasa pemberian Sakramen Pertobatan.

Ada kata-kata yang bagus untuk kita renungkan dari seorang Tokoh Mahatma Gandhi “ Hanya orang-orang yang melakukan kesalahan dan dimaafkan, maka dia tahu apa itu Kasih”

Dalam Studi Kitab Suci dapat kita ambil dari perikop “ Perumpamaan tentang anak yang hilang” yang menurut Romo Ricard judul yang lebih tepat adalah “Bapa yang maha rahim”

Yesus berkata lagi: “Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki. Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka. Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya. Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan ia pun mulai melarat. Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya. Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorang pun yang memberikannya kepadanya. Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa. Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa. Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita. Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria. Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar bunyi seruling dan nyanyian tari-tarian. Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu. Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu tambun, karena ia mendapatnya kembali dengan sehat. Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia. Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia. Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.” (TB Luk 15:11-32)

Disini dapat kita lihat tiga tokoh yang mewakili karakter yang berbeda-beda, seorang anak bungsu yang tentu saja di dimanja ayahnya, namun menuntut hak warisnya, walaupun ayahnya masih hidup, kemudian menjual jatah warisannya dan berfoya-foya. Namun ketika jatuh miskin, dan untuk mengisi perutnya diapun bekerja pada orang kafir ( bukan Yahudi ) dan bahkan rela makan makanan babi yang najis pula. Jadi begitu terperosoknya dia jatuh kedalam dosa dan jatuh lagi ke kegelapan, namun ketika dia dengan segala sesalnya dan berusaha memohon ampun pada ayahnya, maka sedikitpun ayahnya tidak mengingat-ingat kesalahannya dan menerima dengan sepenuh hati anaknya yang dianggap hilang tersebut telah kembali.

Tokoh kedua adalah anak sulung, yang hidup bersama ayahnya, merasa dekat dengan ayahnya, merasa bekerja dengan baik dan melayani ayahnya dengan baik pula, namun ketika melihat adiknya datang dan dirayakan dengan penuh sukacita dia iri, dan dengan marahnya ia menyebut adiknya dengan “anak bapa” seakan dia tidak lagi mengakui sebagai adiknya, dan dia menghitung-hitung segala kebaikannya kepada ayahnya, namun dia merasa mengapa ayahnya tidak pernah menghargainya. Disinilah letak kesombongan rohani bagi si sulung dan dia telah melakukan dosa kedagingan.

Tokoh ketiga adalah Sang Ayah, yang telah memberikan hak penuh pada anak-anaknya untuk berkehendak bebas, termasuk menuntut warisan walaupun dia belum meninggal. Namun ketika si bungsu kembali dan meminta maaf atas kesalahannya, si Ayah walaupun itu belum terucapkan, dia telah lebih dahulu memaafkannya dengan lebih dulu menyongsong anaknya, menyiapkan baju, sepatu dan membuat pesta yang meriah untuk merayakan anaknya yang hilang telah kembali. Dan ketika anak sulung menuntut keadilan menurut pendapat si sulung, dengan sabar ayahnya menerangkan bahwa apa yang ada pada dia adalah miliknya juga, walaupun alasan itu tidak diterima si sulung.

Disinilah letak kerahiman dari seorang ayah, yang senantiasa terbuka memaafkan dosa dan kesalahan anak-anaknya.

Demikian juga yang terjadi dengan Yesus ketika memaafkan semua orang yang ikut andil dalam penyiksaan dan penyaliban-Nya,  dalam sabdanya di kayu Salib, ada suatu peribahasa yang dapat kita renungkan,  berbuat kesalahan itu manusiawi, pengampunan itu Illahi.

Ada beberapa poin penting yang perlu kita ingat, dalam sesi 1 buku IV ini, yaitu :

  1. Ketika kita mohon pengampunan hendaklah kita terlebih dahulu rela mengampuni orang yang telah bersalah kepada kita. Karena ketika kita menangguhkan kesalahan orang lain pada kita, maka kita juga menangguhkan pengampunan yang diberikan Tuhan pada kita. Contoh : Ketika seseorang berhutang kepada kita, dan oleh karena sebab dia tidak mampu membayar, sementara kita sudah mengiklaskannya, maka kita harus menyampaikan pada dia bahwa hutangnya sudah lunas, agar kita tidak tertangguhkan oleh kesalahan orang lain.
  2. Jangan menyimpan dendam pada orang lain, walaupun kita telah diselamatkan. Sebab hak mengadili dan menghukum itu adalah hak Tuhan, bukan hak kita. Contoh : Ketika istri Lot menoleh ke belakang sebagai keingin tahuannya bahwa dendamnya pada penduduk Sodom dan Gomora terpenuhi, malah akhirnya dia menjadi abu.
  3. Berbuatlah kebaikan pada orang disekitar kita, karena surga dan neraka adalah tergantung dari mereka. Dan orang-orang disekitar kita adalah anak, istri, suami, saudara, sahabat, dsb.

Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. (TB Mat 5:25)

  1. Perbedaan antara Petrus dan Yudas Iskariot, adalah ketika Petrus bersalah, dia mau memaaf dirinya dan menjalin hubungan lagi dengan Tuhan, sementara Yudas Iskariot ketika dia bersalah, dia tidak mampu memaafkan kesalahan dirinya, namun malah bunuh diri.

Sebagai orang yang berdosa kita harus meneladani sikap Petrus, ketika kita melakukan dosa kita harus mampu memaafkan diri kita dan mohon pengampunan pada Allah Bapa, dan dengan penuh penyesalan dan berjanji tidak akan mengulangi lagi.

  1. Upah dari dosa adalah maut, dan untuk itulah Allah melalui putraNya Yesus Kristus menebus dosa dunia dengan maut, dan dengan mengalahkan maut Dia bangkit.
  2. Kiamat, adalah saat kita berdiri dihadapan Tuhan untuk mempertanggungjawabkan kehidupan kita, oleh sebab itu selagi kita diberi waktu dalam hidup kita, kita harus senantiasa berbuat kebaikan, dan bila bersalah dan berdosa segera lakukan pertobatan, karena pertobatan bisa dilakukan selagi kita masih hidup.
  3. Berbuatlah kebaikan bagi banyak orang, agar ketika kita diadili pada hari pengadilan, banyak orang yang membantu kita, jadi ketika kita mati dengan sukacita, orang lain yang menangis.

Demikianlah sesi 1, Buku IV “Tujuh Sabda Terakhir” ini kami renungkan, semoga refleksi kita dalam mengartikan tujuan hidup ini benar-benar sesuai dengan kehendak Allah, yang mana sekiranya tujuan Allah pada kita dengan kehidupan yang kita peroleh dapat memberi arti bagi diri sendiri dan sesama, dan dapat kita pertanggung jawabkan pada akhir zaman. Amin

Tuhan memberkati.

Santa Odilia – Doakanlah kami.

( Alexander S. Pranoto )

 

 


0 Comments

Leave a Reply