Ayo Belajar Kitab Suci, Mendulang berkat di September ceria

Published by aspranoto on

Bapak, Ibu dan saudara-saudari terkasih dalam Tuhan Yesus,

Pernahkah kita bertanya pada diri kita sendiri hal-hal sebagai berikut :

Seberapa sering saya membaca Kitab Suci? Tiap hari, seminggu sekali, hanya mendengar ketika di gereja lewat bacaan Kitab Suci dan Injil saja atau bahkan sama sekali tidak terpikirkan untuk mewajibkan saya sebagai orang Katolik untuk membaca Alkitab.

Apakah perjalanan hidup saya sudah selaras dengan ajaran-ajaran Katolik sebagaimana dengan   janji-janji yang kuucapkan pada saat pembaptisanku?

Seberapa sering saya berkontemplasi, dimana ada saat saat saya harus merenungkan perjalanan hidupku dan menyelaraskan dengan ajaran-ajaran gereja?

Dan pertanyaan terakhir adalah Apakah hakekat dan tujuan hidup saya ?

 

Dalam sebuah webinar yang diadakan oleh salah satu komunitas PDKK, seorang imam yang merupakan narasumber dari pertemuan tersebut mengungkapkan, pada dasarnya hidup akan menjadi berarti baik dimasa kehidupan sekarang atau nanti ketika hari pengadilan tiba, hanya ada tiga hal yang perlu senantiasa dilakukan yaitu :

Pertama : Senantiasa menjalin hubungan yang intim dengan Allah Tuhan kita.

Dalam perumpamaan  tentang Gadis-gadis yang bijaksana dan gadis-gadis yang bodoh ( Mat 25 : 1-13), bisa kita ambil sebagai perumpamaan perjalanan hidup menggereja kita.

Ketika kita mendapatkan sakramen pembaptisan adalah laksana kita diberi pelita, baik yang diterimakan orang yang  bijaksana maupun orang yang bodoh, semua mendapatkan pelita dalam keadaan yang menyala.

Kita harus senantiasa menjaga nyala pelita tersebut, dengan tetap mempersiapkan minyak dengan cara mematuhi ajaran-ajaran gereja, bilamana kita ingin menjadi gadis yang bijaksana.

Berdoa, taat akan perintah-perintah gereja dan melaksanakannya, dan senantiasa membaca dan mendalami firman-firman Tuhan melalui Alkitab adalah sudah harus menjadi kebiasaan dan nafas kehidupan orang beriman, sebab hal hal tersebut adalah jalan bagaimana kita bisa senantiasa menjalin hubungan secara vertical dengan Tuhan Allah sesembahan kita.

Apakah saat ini kita termasuk gadis yang bijaksana, ataukah gadis yang bodoh?

Kedua : Mempunyai komunitas dan menjalin persahabatan dengan sesama.

Manusia adalah mahluk sosial, artinya manusia akan bisa tumbuh, berkembang dan berbuah bilamana ada di dalam komunitas dan sesamanya.

Yesus mengutus kedua belas rasul ( Mrk 6:6b -13), adalah suatu gambaran bilamana kita telah menjalin hubungan yang baik dengan Allah, haruslah kita wujudkan dan implementasikan dengan sesama, dimana Kasih yang kita terima dari Allah, juga kita berikan dan lakukan pada sesama kita.

Ketiga : Senantiasa berbuat kebaikan bagi sesama, dan alam sekitarnya.

“Kamu adalah garam dunia, Jika garam menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan?” Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. ( Mat 5: 13)

Hidup akan menjadi berarti dan bermanfaat, apabila berguna bagi sesama dan alam di sekitarnya.

Sekecil apapun kebaikan yang kita perbuat, adalah buah-buah Roh yang kita terima ketika kita menjalin hubungan yang erat dengan Allah.

 

Bulan September adalah bulan Kitab Suci Nasional dan akan senantiasa menjadi even-even penting bagi pertumbuhan menggereja kita.

Hal ini tidak berarti kita hanya mendalami Kitab Suci disaat bulan September, namun setiap hari, setiap saat kita harus senantiasa menjalin hubungan yang erat dengan membaca dan memahami firman-firman Tuhan.

Bulan September, haruslah kita maknai sebagai bulan kalibrasi iman kita dengan kesempatan untuk mendalami Kitab Suci secara bersama-sama dengan saudara seiman dan memahami segala apa yang terjadi, selama perjalanan hidup kita sebagai pesan-pesan rohani yang harus kita sikapi agar hidup kita bisa lebih baik di masa yang akan datang.

 

Dalam Bulan Kitab Suci Nasional Tahun 2022 ini, melalui materi yang diterbitkan oleh Lembaga Biblika Indonesia, mengambil tema ‘Allah Sumber Harapan Hidup Baru” yang terinspirasi dari Amos 5:6 “Carilah TUHAN maka kamu akan hidup”.

Renungan-renungan diambil dari refleksi perjalanan hidup kita selama 2 atau 3 tahun terakhir ini, teristimewa di masa Pandemi Covid 19, dengan harapan kita bisa menyikapi segala kejadian yang ada dan alami, tetap kita sikapi sebagai cara kita mengimani Allah diberbagai situasi dan kondisi.

 

Pertemuan Pertama :

 Allah Sumber Harapan untuk menangkis mentalitas keagamaan palsu ( Am. 5:4-6 )

Hal yang patut kita renungkan, disaat kesesakan, apakah kita masih setia dengan Tuhan Allah kita, atau kita kecewa dan mendambakan ilah ilah lain?, sebagaimana ilah yang sesuai dengan selera kita.

 

Pertemuan kedua :

 Allah Sumber Harapan untuk melawan ketidakadilan ( Am.5:14-17)

Hal yang patut kita renungkan, disaat kesesakan selama pandemi khususnya, banyak hal-hal yang baik terjadi, demikian juga hal-hal yang jahat. Ada rasa dan perlakuan yang tidak adil menurut takaran kita.

Dalam situasi seperti itu, masihkah kita mampu untuk mencari yang baik dan membenci yang jahat, guna menegakkan keadilan dalam hidup harian kita dan memunculkan semangat solidaritas diantara kita.

Pertemuan ketiga :

 Allah Sumber Harapan, karena kasih setia-Nya (Hos. 6:1-6)

Hal yang patut kita renungkan, disaat kesesakan selama pandemi khususnya, apakah kesetiaan kita pada Allah menjadi luntur, dan hilang harapan atau justru kita dikuatkan dan disadarkan bahwa Kasih-Nya senantiasa menyertai kita.

Apakah kita menyadari bahwa Allah hadir dalam dan melalui berbagai cara, termasuk dalam bentuk solidaritas yang terbangun di antara kita.

Pertemuan keempat :

Allah Sumber Harapan, karena kerahiman-Nya (Hos.11:1-11)

Hal yang patut kita renungkan disaat kesesakan di masa pandemi, kita bisa melihat kembali perjalanan relasi kita dengan Tuhan.

Bisa jadi kita terfokus pada diri kita sendiri dan tidak melihat penyelenggaraan Tuhan yang berbelas kasih.

Sementara Sabda Tuhan telah menjanjikan “ Aku tidak datang untuk menghanguskan,” Ia juga pasti hadir dalam masa sulit ini untuk menyelamatkan kita dan mengantar kita kearah yang lebih baik dan lebih membangun.

Selamat membaca Kitab Suci, merenungkan, berkomitmen serta berdoa di Pertemuan BKSN 2022.

 

Tuhan Memberkati.

 

 

Aspranoto – Sie Komsos

 

BKSN 2022 – Materi


0 Comments

Leave a Reply