Dalam tradisi Gereja Katolik, Lamentasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perayaan Pekan Suci dan masa puasa. Lamentasi dari segi usia hampir setua usia Gereja dan menjadi sebuah tradisi iman yang tidak dapat dihilangkan. Lamentasi merupakan tradisi tentang sejarah kejatuhan manusia dalam dosa, penyesalan dan tobat sekaligus tradisi keselamatan.
Lamentasi adalah sebuah tradisi tua yang tumbuh dan berkembang dalam tradisi Yahudi dan Perjanjian Lama. Lamentasi dalam tradisi Yahudi mempunyai makna sangat mendalam: suatu ungkapan penyesalan atas keruntuhan tembok Yerusalem oleh musuh-musuh Israel yang merupakan simbol pelindung yang kokoh dalam kehidupan mereka (bdk. Luk. 21:20-24). Peristiwa ini melambangkan runtuhnya kekuasaan Yahwe pada Israel.
Yahwe kecewa dengan sikap bangsa Israel yang tidak setia kepada-Nya. Lebih dari itu Israel meratapi kenyataan hidup mereka sekaligus penyesalan atas peristiwa runtuhnya Bait Allah yang menjadi pusat seluruh kehidupan doa dan iman mereka. Mereka kehilangan arah dan fokus kehidupan doa dan iman. Mereka harus menjadi orang-orang buangan dan menjadi anak-anak yatim piatu di daerah pengasingan. Mereka merasa bahwa Allah telah meninggalkan mereka dan tidak peduli dengan penderitaan mereka di tanah pembuangan.
Keagungan dan kebesaran Israel sebagai bangsa pilihan Allah hanya kenangan yang tersisa yang membawa mereka kepada suatu harapan baru bahwa Yahwe membebaskan mereka dan menjadi orang-orang merdeka dan kembali ke tanah kelahiran mereka. Sesungguhnya bangsa Israel sendiri pergi meninggalkan Allah dan menyembah dewa-dewa buatan mereka. Kedua sebagai ungkapan tobat sekaligus momen reflektif Israel sebagai suatu bangsa pilihan telah menjadi tidak setia, hidup tidak sesuai dengan kehendak Yahwe dan pergi meninggalkan Yahwe pemimpin utama mereka.
Karena ketidaksetiaan ini menyebabkan putusnya hubungan mereka dengan Yahwe. Hidup mereka penuh dengan penderitaan. Hal ini menjadi suatu titik awal mereka untuk sadar dan bertobat serta menyesal terhadap segala ketidaksetiaan dan dosa-dosa mereka.
Dalam Perjanjian Baru, Lamentasi mempunyai hubungan sangat mendalam dengan kisah sengsara Tuhan Yesus Kristus yang dimulai dari Taman Getsemani hingga Golgota. Dalam kisah ini Yesus mengajak kita untuk setia bersama-Nya dalam doa dan berjaga bersama-Nya dalam pergulatan maut yang dihadapi-Nya saat-saat terakhir hidup-Nya sebelum ditangkap para musuh-Nya dan disalibkan.
Dalam situasi ini Yesus sebagai manusia merasa tidak mampu menghadapi kenyataan sangat tragis dalam hidup-Nya dan meminta para murid-Nya untuk setia berjaga bersama-Nya: “Tidak sanggupkah kamu jaga bersama Aku satu jam saja?” Namun para murid yang adalah wakil dari kita semua adalah orang-orang yang tidak setia dan pergi meninggalkan Yesus seorang diri satu persatu dan bahkan menyangkal Yesus sebagaimana yang dilakukan Petrus di hadapan seorang wanita di istana Pilatus (bdk. Luk. 22:54-62).
Apa itu Tenebrae?
Dalam perkembangan Gereja Katolik, Lamentasi dikenal dengan Tenebrae yang merupakan kata dalam bahasa Latin yang artinya kegelapan. Tenebrae adalah nama yang diberikan untuk gabungan dari Ibadat Bacaan (Officium Lectionis) dan Ibadat Pagi (Laudes) yang dilaksanakan pada Trihari Suci Paskah. Disebut gabungan, karena memang penyelenggaraan kedua ibadat ini digabungkan; Ibadat Pagi dilaksanakan segera setelah Ibadat Bacaan selesai.
Tenebrae dalam tradisi Katolik sebelum Konsili Vatikan II memiliki unsur-unsur berikut. Yang pertama adalah Ibadat Bacaan. Ibadat Bacaan terdiri dari 3 Nocturna, yang masing-masing terdiri dari 3 Mazmur dan 3 Bacaan plus tanggapannya. Kalau dijumlahkan, semuanya ada 9 Mazmur. Berikutnya adalah Ibadat Pagi. Ibadat Pagi terdiri dari 5 Mazmur dan Kidung plus satu lagi Kidung Zakaria (Benedictus) sebagai puncaknya.
Lilin yang 15 buah tadi nantinya dimatikan satu persatu setiap kali selesai mendaraskan mazmur atau kidung yang jumlahnya 14 (tidak termasuk Kidung Zakaria). Berikutnya, satu persatu lilin di altar yang jumlahnya 6 buah juga dimatikan setiap kali selesai mendaraskan 6 ayat-ayat terakhir Kidung Zakaria. Sampai di sini tinggallah satu lilin di puncak kandeler khusus yang berisi 15 lilin tersebut.
Satu lilin itu pun lalu diambil dan disembunyikan di bawah altar sehingga terjadi kegelapan yang sempurna. Pada saat yang sama, semua yang hadir menimbulkan kegaduhan, biasanya dengan memukulkan Buku Ibadat Harian (Brevir) ke bangku. Ini untuk mensimulasikan gempa yang terjadi saat Yesus wafat. Setelah itu, lilin yang disembunyikan di bawah altar dikeluarkan lagi dan ibadat berakhir dengan khidmat.
Tenebrae adalah bagian dari Ibadat Harian. Dengan begitu, Tenebrae adalah liturgi, bukan devosi. Sebagai bagian dari Ibadat Harian dalam Trihari Suci Paskah, Tenebrae tentu tidak boleh menggantikan perayaan liturgi yang biasa kita hadiri pada Trihari Suci Paskah: Kamis Putih, Jumat Agung dan Sabtu Suci.
Tata perayaan liturgi Trihari Suci Paskah itu sendiri, yang berawal dari tradisi kuno gereja, harus dilaksanakan dengan taat dan religius dan tidak boleh diubah oleh siapapun atas inisiatif sendiri (Sirkuler Kongregasi Ibadat Ilahi tentang Persiapan dan Perayaan Pesta Paskah Feb 1988). Sirkuler ini juga yang meminta agar Ibadat Bacaan dan Ibadat Pagi pada hari Kamis Putih, Jumat Agung dan Sabtu Suci (= Tenebrae) dilaksanakan dengan kehadiran umat, bukan cuma oleh para klerus/biarawan-biarawati. Untuk kepentingan itu, maka waktunya pun perlu disesuaikan.
Ibadat (Tenebrae) ini, seperti juga Ibadat Harian lainnya, aslinya adalah nyanyian Gregorian, dalam bahasa Latin. Lagunya sangat indah dan suasana ibadatnya sangat dramatis, dengan nuansa berkabung dan kesedihan yang mendalam. Ibadat ini dulunya dilaksanakan di biara-biara mulai pukul 03.00 pagi, diterangi cahaya 15 lilin di kandeler (tempat lilin) khusus, ditambah 6 lilin di altar.
Lilin-lilin ini nantinya satu persatu dipadamkan hingga tercapai kegelapan yang sempurna. Itu sebabnya ibadat ini dinamakan Tenebrae, yang artinya kegelapan.
Ibadat ini biasanya dipandu oleh seorang Magister Caeremoniarum (Uskup atau imam) yang hadir dalam ibadat ini tidak memakai kasula atau pluviale, hanya memakai habitus choralis atau busana panti imam. Untuk uskup, mengenakan jubah dan selendang sutera ungu dengan rochet putih dan mozeta ungu serta salib pektoral yang digantung dengan tali anyaman hijau emas, ditambah pileola (solideo) dan biretta ungu. Untuk imam, mengenakan jubah (yang menurut tradisi Katolik berwarna hitam, di Indonesia berwarna putih) ditambah superpli.
Selamat memasuki Tri Hari Suci.

