Menjadi Suara Sabda: Semangat Baru Para Lektor di Paroki Citra Raya

17 Mei 2026
Menjadi Suara Sabda: Semangat Baru Para Lektor di Paroki Citra Raya

Pada Minggu, 10 Mei 2026, suasana penuh semangat dan sukacita memenuhi aula pelatihan di Paroki Citra Raya. Sebanyak 130 peserta dari kalangan dewasa maupun muda mengikuti Workshop Lektor yang diselenggarakan untuk memperdalam spiritualitas sekaligus keterampilan dalam mewartakan Sabda Tuhan. Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber, yaitu Sr. Simforiana, CB dan Ibu Ani Gunawan, yang membimbing peserta agar semakin memahami makna pelayanan sebagai lektor.

Pelatihan dibuka oleh Korbid Peribadatan, Yulius Maran, yang dalam sambutannya menegaskan bahwa tugas lektor bukan sekadar membaca teks Kitab Suci di mimbar. Menurutnya, seorang lektor dipanggil untuk melayani Sabda Tuhan dengan hati dan penghayatan.

Mengutip ungkapan Santo Paulus, “Auditus fidei” — iman timbul dari pendengaran — Pak Maran mengingatkan bahwa umat sering kali mengalami Sabda Tuhan melalui suara para lektor. Ketika Sabda dibacakan dengan jelas, penuh penghayatan, dan persiapan yang baik, umat tidak hanya mendengar suara manusia, tetapi dibantu untuk mendengarkan Tuhan sendiri yang berbicara melalui pewartaan tersebut.

Dalam sambutannya, ia juga menyampaikan sebuah refleksi sederhana namun bermakna. Ia menyinggung bagaimana banyak saudara dari Gereja Protestan datang beribadah sambil membawa Alkitab sendiri, sementara umat Katolik sering kali datang dengan “membawa diri dan hati.” Karena itu, pada saat liturgi, umat sangat mengandalkan pewartaan Sabda yang dibacakan oleh lektor. Hal ini menjadikan kualitas pembacaan Sabda memiliki peran penting dalam membantu umat mengalami kehadiran Tuhan dalam perayaan Ekaristi.

“Karena itu kita dipanggil bukan hanya untuk membaca, tetapi untuk mewartakan. Bukan hanya melafalkan teks, tetapi menghadirkan Sabda yang hidup,” ungkapnya menutup sambutan.

Selama kurang lebih enam jam, para peserta berdinamika bersama para pendamping dan rekan pelayanan lainnya. Melalui kerja kelompok, ice breaking, diskusi, hingga praktik membaca di ambo yang disertai evaluasi bersama, para peserta diajak untuk membangun pemahaman yang lebih mendalam terhadap Kitab Suci sekaligus mengembangkan rasa percaya diri dalam pelayanan.

Materi pertama bertajuk “Spiritualitas dan Identitas Lektor” dibawakan oleh Sr. Simforiana, CB. Dalam sesi ini, peserta diajak memahami bahwa spiritualitas merupakan fondasi utama seorang lektor. Sebelum mewartakan Sabda di depan umat, seorang lektor perlu terlebih dahulu mendengarkan dan merenungkan firman Tuhan secara pribadi.

Melalui metode Lectio Divina, peserta diajak masuk dalam pengalaman doa dan permenungan Kitab Suci. Sr. Simforiana menegaskan bahwa membaca tanpa spiritualitas akan kehilangan makna terdalamnya. Ketika salah satu peserta bertanya tentang pentingnya spiritualitas bagi seorang lektor, ia menjawab dengan analogi yang menarik.

“Wiruk berfungsi dengan baik jika arang tetap menyala, maka dupa yang ditambahkan akan mengeluarkan aroma harum. Membaca tanpa spiritualitas adalah sia-sia, karena tidak memberi pengaruh kepada sesama; ibarat wiruk yang arangnya mati, dupa yang ditambahkan tidak akan mengeluarkan harum bagi umat,” jelasnya.

Materi kedua mengenai “Teknik Membaca” dibawakan oleh Ibu Ani Gunawan. Dalam sesi ini, peserta belajar bagaimana hasil permenungan dapat diwujudkan melalui teknik vokal yang baik. Seperti halnya bernyanyi, membaca Kitab Suci membutuhkan penguasaan teknik agar pesan yang disampaikan dapat diterima dengan jelas oleh umat.

Beberapa aspek yang ditekankan antara lain artikulasi, pengaturan napas, intonasi, tempo, serta variasi warna suara. Peserta diajak memahami bahwa gaya pembacaan kisah, dialog, maupun pidato memiliki karakter yang berbeda sehingga membutuhkan penyesuaian dalam penyampaiannya.

Setelah sesi teori, peserta diberi kesempatan untuk mempraktikkan teknik membaca di depan peserta lainnya. Momen ini menjadi ruang belajar yang sangat berharga karena setiap peserta mendapatkan evaluasi dan masukan secara langsung. Ibu Ani juga membuka kesempatan bagi peserta lain untuk memberikan tanggapan, sehingga tercipta suasana belajar yang saling mendukung dan membangun.

Melalui proses tersebut, para peserta semakin menyadari bahwa pelayanan lektor bukanlah pelayanan individual semata, melainkan pelayanan bersama yang membutuhkan keterbukaan terhadap evaluasi demi pertumbuhan dan pengembangan diri.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan Perayaan Ekaristi yang sekaligus menjadi praktik nyata pelayanan para peserta. Dari 130 peserta, dua orang dipilih untuk bertugas sebagai lektor dalam misa penutup. Dengan penuh penghayatan dan percaya diri, keduanya berhasil mewartakan Sabda Tuhan dengan baik, menjadi tanda bahwa ilmu dan pengalaman yang diperoleh selama pelatihan sungguh dipahami dan dihidupi.

Workshop ini akhirnya menjadi pengalaman yang memperkaya para peserta, bukan hanya dalam keterampilan teknis membaca Kitab Suci, tetapi juga dalam membangun spiritualitas pelayanan. Kehadiran kedua narasumber menjadi berkat tersendiri bagi seluruh peserta karena mereka berhasil membagikan ilmu, pengalaman, dan semangat pelayanan yang mendalam.

Menjadi seorang lektor bukan hanya soal mampu membaca dengan baik atau memahami isi bacaan semata. Lebih dari itu, seorang lektor dipanggil untuk menyatukan pemahaman, penghayatan, dan pelayanan, sehingga Sabda Tuhan sungguh hidup dan menyentuh hati umat yang mendengarkannya. *** senyum-sapa-salam

Oleh Silvano (Tim Liturgi Odilia) • Editor Yulius Maran