Persahabatan dengan Tuhan: Kunci dari Doa

Oleh: Pst. Felix Supranto, SS.CC
Persahabatan dengan Tuhan: Kunci dari Doa

“Doa menjadi indah ketika kita berbicara kepada Tuhan seperti kepada seorang sahabat.”

Beberapa tahun yang lalu saya mempunyai seorang sahabat. Ia adalah seorang pria yang berprofesi sebagai seorang pengusaha di Jakarta. Ia sering mencari saya dan saya juga melakukan hal yang sama. Setiap hari Minggu malam, kami bermain tenis lapangan. Setelah berolahraga, kami makan bersama. Ia akan mendengarkan segala permasalahan saya dengan penuh perhatian. Ia tidak meninggalkan saya ketika saya sedang dalam pergumulan. Ia siap membantu saya dalam hal apa pun sedapat yang bisa ia lakukan. Yang menarik adalah kadang-kadang kami tidak memiliki bahan apa yang mau kami bicarakan. Kami hanya duduk diam bersama dalam keheningan. Namun keheningan ini bukanlah keheningan pasif, melainkan keheningan yang bernilai karena di dalamnya ada relasi yang kuat. Kami saling memahami tanpa harus selalu mengeluarkan kata-kata.

Persahabatan manusia yang seperti itu dapat membantu kita memahami bagaimana seharusnya kita berdoa kepada Tuhan. Kunci untuk dapat berdoa kepada Tuhan dengan baik adalah kita harus mendekatiNya sebagai Sahabat kita. Ketika kita melihat Tuhan sebagai Sahabat kita, maka kita berani mendatangiNya kapan saja dan di mana saja tanpa rasa takut dan segan.

Tanpa takut dan segan itu bukan berarti kita tidak menaruh hormat kepadaNya, melainkan kita telah memiliki relasi yang mendalam dengan Dia. Kita percaya bahwa Ia mengasihi kita. Ia pasti sangat senang menerima kedatangan kita dan pasti dengan penuh perhatian akan mendengarkan apa yang kita sampaikan kepadanya. Santa Teresa dari Avila mendefinisikan dengan sangat indah tentang doa sebagai persahabatan dengan Tuhan : “Doa tidak lain adalah suatu persahabatan yang akrab, suatu percakapan yang sering terjadi secara pribadi dengan Dia yang kita tahu mengasihi kita.” Tuhan Yesus sendiri berkata kepada para murid-Nya: “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku” (Yohanes 15:15).

Ayat tersebut menegaskan bahwa Tuhan Yesus adalah Sahabat kita. Karena kita mamandang Tuhan sebagai Sahabat kita, maka kita berani meminta apa pun yang kita perlukan. Kita berani menyampaikan segala perasan kita, baik sukacita, kesedihan, kegelisahan, maupun harapan kita: “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu” (1 Petrus 5:7).

Ketika kita yakin bahwa Tuhan adalah Sahabat kita, doa kita menjadi percakapan yang indah, penuh semangat, dan mendalam denganNya. Doa kita menjadi hidup ketika kita datang kepadaNya sebagai sahabat. Sebaliknya, jika kita tidak yakin bahwa Ia adalah Sahabat kita, kita pasti merasa enggan untuk datang kepadaNya. Kita merasa takut untuk meminta bantuan dan menceritakan keadaan kita. Akibatnya, doa kita menjadi kering, monoton, dan membosankan.

Sebagai penutup permenungan ini, kita hendaknya menyakini bahwa Tuhan adalah Sahabat kita. Ia senantiasa menantikan kedatangan kita. Karena itu, kita bisa datang kepadaNya untuk menyampaikan segala pergumulan kita ataupun hanya tinggal dalam keheningan di hadapan-Nya: “Diamlah dan ketahuilah bahwa Akulah Allah” (Mazmur 46:11).

Santo Yohanes dari Salib menekankan nilai keheningan dalam doa ini, yaitu dalam keheningan dan kasih, Allah berbicara kepada jiwa, “The Father spoke one Word, which was His Son, and this Word He always speaks in eternal silence, and in silence it must be heard by the soul.” (Sayings of Light and Love, no. 99)