Meretas Jalan-jalan Baru, Menenun Kebhinekaan

Hari Studi Para Uskup 2017: 

( By Harini B Nov 7, 2017 )

Alissa Wahid menerima plakat KWI dari Mgr. Ignatius Suharyo dalam Hari Studi Para Uskup KWI 2017. (Y. Indra/Dokpen KWI).

Jakarta, dokpenkwi.org – Hari Studi Para Uskup dalam Sidang Tahunan KWI di Aula KWI, Jakarta Pusat membedah tema  “Gereja yang Signifikan dan Relevan, Panggilan Gereja Menyucikan Dunia. Hari kedua, Selasa (7/11/2017) ini menghadirkan tiga panelis, yakni: Romo Felix Supranto SSCC (praktisi), Jeirry Sumampow (Kepala Humas PGI), serta Alissa Wahid (Ketua Jaringan Gus Durian). Dipandu oleh Mgr. Harun Yuwono, Ketua Komisi HAK KWI, sebagai moderator perbincangan dengan ketiga narasumber ini mengalir dengan segar dan tidak membosankan.

Romo Felix Supranto SSCC: Menenun Kebinekaan Untuk Tangkal Radikalisme

Rm. Felix Supranto memberikan pemaparannya tentang Menenun Kebinekaan untuk Tangkal Radikalisme. (Y. Indra/Dokpen KWI).

Menurut Romo Felix Supranto SSCC tenunan kebinekaan dalam keragaman bangsa Indonesia bisa dirajut pertama-tama melalui kesediaan untuk membuka diri pada perjumpaan persaudaraan, semangat gotong royong, serta melibatkan diri dalam upacara kebangsaan bersama umat beragama lain.

Perjumpaan persaudaraan

Imam anggota Kongregasi Hati Kudus Yesus dan Maria (SS.CC) menyebutkan langkah pertama adalah berani keluar dari  zona nyaman. Perjumpaan pertama masih menimbulkan kekuatiran, perjumpaan kedua akan menimbulkan kerinduan dan perjumpaan ketiga akan mengikat rasa persaudaraan. Akibat dari perjumpaan terus-menerus ini akan menumbuhkan kepercayaan. Bila kepercayaan sudah tumbuhnya, tidak ada lagi sekat-sekat yang membentengi kedua pihak. Kepercayaan ini juga mudah untuk ditularkan kepada yang lain dan akhirnya akan semakin meluas cakupannya.

Selain itu, perjumpaan juga akan mengubah persepsi orang, dari negatif ke arah yang lebih positif. Mereka mengenal bahwa orang Katolik itu baik dan sederhana. Ketika bertemu mereka saling kenal dan bisa menghargai perbedaan. Akhirnya, kedua belah pihak bisa menjadi kawan yang baik.

“Akibat kepercayaan yang sudah menyebar luas ini saya sering menerima undangan hajatan dan diminta menjadi penerima tamu. Saya juga diminta mengajar di pesantren serta menjadi pembicara tentang kebinekaan. Dengan mengajar dan berbicara di mana-mana saya harap orang akhirnya mengenal tentang Katolik dan seluk-beluknya,” demikian jelasnya.

Semangat Gotong royong

Selanjutnya, menurut penulis produktif ini perjumpaan persaudaraan ini harus dirawat dalam semangat gotong royong yang dinamis. Semangat gotong royong ini dilakukan berdasar atas keprihatinan bersama. Maka, harus dicari bentuk-bentuk  kegiatan yang bisa dilakukan bersama dan menjadi kepedulian bersama juga. Dalam hal ini, Romo Felix meemberi contoh dengan melakukan jalan sehat bersama dan program peduli sampah.

Kedua kegiatan ini mudah dilaksanakan dan memberikan kegembiraan bagi banyak orang tanpa harus memandang berbagai perbedaan yang bisa memecah belah.

Melibatkan diri dalam upacara kebangsaan

Romo Felix Supranto memberikan pemaparannya tentang Melibatkan diri dalam upacara kebangsaan dan menjadi pembicara dalam pertemuan Ormas Islam. (Y. Indra/Dokpen KWI).

Selanjutnya disampaikan pula oleh Romo Felix SSCC bahwa umat Katolik harus mawas diri atas maraknya radikalisme akhir-akhir ini. Mungkin ini terjadi karena kesalahan mereka sebagai kawanan kecil yang menikmati kenyamanan sendiri dan lupa berempati terhadap lingkungan sekitar. Bahkan mungkin terkungkung dalam eksklusivitas sendiri.

Maka, orang Katolik harus menjadi kawanan kecil yang kreatif.  Selain menjaga dan membangun persaudaraan, mereka harus ikut ambil bagian untuk mengenalkan Pancasila dan memperkuat kebinekaan. Dengan demikian, orang akan menjadi bangga pada nusantara dan bangga sebagai bagian dari bangsa Indonesia.

“Ketika ada upacara kebangsaan, ini dipimpin oleh komandan Banser. Saya biasanya menjadi inspektur upacara. Ini sungguh luar biasa. Semua terlibat untuk ikut mengawal Pancasila dan kebinekaan. Setelah upacara para orang muda lintas agama bisa membuat konser kecil kebinekaan. Sekaligus, ini bagi umat Muslim untuk menunjukkan Islam yang rahmatan lil alamin,” paparnya.

Tantangannya

Namun, ada banyak tantangan untuk merajut tenunan kebinekaan yang diupayakan dengan susah payah itu. Beberapa di antaranya adalah:

  1. ‘Karena nila setitik rusak susu sebelanga’ akibat ucapan atau tindakan yang merendahkan orang lain dan peminggiran penduduk asli oleh pengembang.
  2. Keberanian untuk pembaruan dengan menyekolahkan anak-anak ke sekolah negeri
  3. Meminimalisasi rasa takut pada orangtua terhadap pergaulan anak-anak mereka yang lintas agama

Menurut Romo Felix semua racun-racun tantangan itu bisa ditawarkan dengan perbuatan-perbuatan baik yang dilakukan terus-menerus. Hal ini bisa dilakukan dengan mentransfer keteladanan hidup kepada orang muda dan memberikan contoh langsung, dimulai dari sejak anak-anak kecil.

“Yang penting adalah fokus pada kebaikan karena kebaikan bisa didengar oleh orang tuli, dan menjadi bunga indah yang bisa dilihat oleh orang buta,” pungkasnya secara indah.

Jeirry Sumampow: Penguatan dan Pendampingan Masyarakat

Jeirry Sumampow memberikan pemaparannya tentang Penguatan dan Pendampingan Masyarakat. (Y. Indra/Dokpen KWI).

Sejak reformasi sampai sekarang ada kecenderungan semakin langkanya orang atau kelompok yang berani menyuarakan kepentingan bagi banyak orang. Lebih banyak orang yang mau bicara untuk kepentingan tertentu. Mereka yang mau bersuara bagi kepentingan banyak orang seolah berjalan di jalan yang sunyi. Godaan untuk bersuara demi kepentingan tertentu itu sangat besar.

Jeirry menilai bahwa transisi demokrasi yang terjadi saat ini belum sempurna. Masyarakat Indonesia sedang menata bangsa dan ini menimbulkan dampak yang sekarang ini dialami.

“Bagaimana kita menjalani masa transisi dengan baik akan menentukan hidup kita di masa depan dalam berbangsa dan bernegara,” tegasnya.

Selain itu, tantangan di masa transisi ini menimbulkan ideologi baru yang diintroduksi dalam ruang publik karena ruang itu terbuka bagi semua orang. Maka, ada kepentingan politik yang pakai ruang ini untuk menjalankan ideologi mereka.

Akibatnya, seolah semua boleh dilakukan, tanpa ada patokan atau pedoman yang menjadi arah tindakan. Maka, walaupun KPK tiap hari OTT tapi tindakan koruptif tetap jalan terus tanpa ada efek jera. Ini juga mengakibatkan kualtias relasi sosial yang semakin menurun dan  membuat masyarakat makin tidak toleran.

Dalam konteks ini, tambahnya, masyarakat seolah terbiarkan dan  tidak ada pendampingan serius pada mereka. Semua aktor demokrasi sibuk mengurus diri sendiri dan bukan kepentingan masyarakat.

“Di tengah situasi yang seolah-olah tanpa harapan ini, kita tetap harus memiliki harapan,” jelasnya. Harapan-harapan itu adalah adanya upaya baik dari pemerintah tetapi masyarakat harus mengingatkan bahwa pemerintah tetap fokus untuk menjalankan rencana yang telah digariskan. Yang terpenting adalah penguatan dan pendampingan masyarakat agar bisa berpartisipasi secara substansial dalam proses pembangunan bangsa dan tidak menjadi sekedar penonton atau objek semata.

 

Alissa Wahid: Memperkuat Keragaman Sosial

Dalam paparannya, Ketua Jaringan Gus Durian ini menyebutkan bahwa dinamika sentimen agama terjadi karena praktik religious exclusivism yang menguat di Indonesia. Situasi ini sudah terjadi di mana-mana. Dampak globalisasi adalah heterogenitas. Heterogenitas ini meniadakan masyarakat murni dan memunculkan dialektika serta budaya hybrid. Di sisi lain tumbuh gerakan purifikasi untuk menjaga puritas.

Tarik-menarik ini antara kedua kutub ini membuat situasi menjadi tegang karena kelompok pemurnian akhirnya mengawali religious exclusivism. Eksklusivisme berbasis agama. Karena di Indonesia mayoritas Islam, terjadilah eksklusivisme di kelompok Islam.

Lebih lanjut disampaikannya bahwa ekstremisme dengan kekerasan cukup sukses dikelola oleh Densus dan akhirnya tercerai berai. Tetapi intoleransi jumlahnya makin banyak dan mampu mengubah perilaku dan dinamika masyarakat awam. Hal ini berujung pada konflik sosial.

“Sayangnya hal ini diabaikan oleh Negara karena dianggap bukan persoalan. Pemerintah kurang bisa membedakan antara religiositas dan ekstremisme religius,” ungkap putri pertama Gus Dur.

Alissa Wahid memberikan pemaparannya dalam Hari Studi Para Uskup KWI. (Y. Indra/Dokpen KWI).

Akibatnya, intoleransi menjadi perang ideologi, dengan menggunakan nama Tuhan untuk kepentingan politik, eksklusivisme, intoleransi, diskriminasi, dan konflik sosial.

“Agama yang eksklusif bisa menjadi aspirasi politik, yang sibuk dengan dirinya sendiri yang sangat eksklusif. Kalau eksklusivisme agama dipaktikkan, ini bisa mendorong intoleransi, karena merasa sebagai mayoritas. Hal ini melekat pada kelompok mayoritas, bukan soal agama saja. Misalnya: di Myanmar mayoritas adalah Budha, maka yang menjadi kelompok intoleran adalah Budha. Sedangkan di Indonesia karena mayoritas Islam, kelompok intoleran dari Islam,” jelasnya.

Selanjutnya, Ketua Jaringan Gus Durian ini mengingatkan untuk terus memberikan perhatian terhadap hal ini karena situasi kebangsaan akan semakin memanas pada tahun 2018 dan 2019.

“Kita butuh para tokoh agama untuk berperan lebih kuat karena situasi tidak sedamai sebagaimana yang kita harapkan. Saat ini para pemuka agama masih belum cukup mengeluarkan sumber-sumber daya mereka untuk memperkuat nilai-nilai kebangsaan. Padahal kita sudah memiliki modalitas yang baik, yakni: Pancasila, demokrasi, NKRI. Semua ini adalah yang paling baik untuk Indo. Semakin tinggi rasa kepercayaan pada nilai-nilai keadilan maka semakin rendah potensi untuk membuat intoleransi,” ujarnya.

Menurutnya yang penting adalah memperkuat keragaman sosial. Para tokoh-tokoh agama harus bisa memenangi isi kepala umat dengan menggunakan media sosial dan internet.

“Jangan ragu-ragu atau merasa sungkan untuk memakai sarana ini. Para pemuka agama harus berani memakai Twitter, Facebook atau sarana kekinian ini untuk pembelajaran bagi umat mereka sehingga rasa kebangsaan bisa ditumbuhkembangkan untuk mencegah intoleransi,” ajaknya kepada para peserta sidang yang hadir. Amin

Leave a Reply

Scroll to Top