Presiden Jokowi Ajak Para Uskup untuk Terus Menggaungkan Persaudaraan

Presiden Joko “Jokowi” Widodo mengajak Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) untuk terus menggaungkan pesan-pesan persaudaraan khususnya kepada umat Katolik di Indonesia.

Ajakan tersebut disampaikan oleh presiden pada saat silaturahmi dengan panitia dan pemenang Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesaparani) Katolik Nasional I di Istana Kepresidenan di Kota Bogor, Propinsi Jawa Barat, pada Senin (12/11).

Sekitar 39 uskup dan sejumlah imam serta satu kontingen paduan suara anak dan remaja yang mewakili Propinsi Kalimantan Timur sebagai juara umum Pesparani Katolik Nasional I menghadiri acara yang berlangsung selama sekitar satu jam itu.

“Mumpung pas bertemu, saya juga sedikit ingin menyampaikan pesan-pesan mengenai kerukunan, pesan-pesan mengenai persaudaraan, pesan-pesan mengenai persatuan. Ini terus kita sampaikan kepada umat, kita sampaikan kepada masyarakat, kita sampaikan kepada rakyat karena kebutuhan kita saat ini akan persatuan mengingatkan (kita) akan pentingnya persatuan, persaudaraan, kerukunan,” kata Presiden Jokowi.

“Saya ingin ini terus disampaikan dan digaungkan kepada masyarakat karena banyak dari kita ini yang tidak ingat, mungkin lupa, mungkin tidak ingat, bahwa negara ini memang sangat berharga,” lanjut presiden.

Presiden Jokowi mengatakan perbedaan agama, suku, bahasa, adat dan tradisi memerlukan sebuah pemahaman yang sangat baik agar aset terbesar bangsa yakni persatuan, persaudaraan dan kerukunan sungguh-sungguh bisa diresapi dan dipahami oleh masyarakat.

“Jangan sampai intoleransi, ekstremisme, menganggap dirinya yang paling benar itu merasuk kemana-mana dan akhirnya nantinya masyarakat merasa tidak rukun, tidak satu. Itu yang sangat berbahaya,” tegas presiden.

Pada kesempatan yang sama, Presiden Jokowi menyampaikan permohonan maaf kepada umat Katolik karena tidak bisa menghadiri acara pembukaan Pesparani Katolik Nasional I di Kota Ambon, Propinsi Maluku, pada 27 Oktober lalu.

 
Presiden Joko Widodo, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo selaku ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) berfoto bersama pengurus LP3KN dan sejumlah imam seusai silaturahmi di Istana Kepresidenan di Kota Bogor, Propinsi Jawa Barat, pada 12 November. (Foto: Katharina R. Lestari/ucanews.com)
 
 
Pesparani Katolik Nasional I yang diikuti lebih dari 7.000 anggota paduan suara – anak-anak, remaja, dewasa – dari 34 propinsi diselenggarakan oleh Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Pesparani Katolik Nasional (LP3KN) dengan tema “Membangun Persaudaraan Sejati.” Kegiatan ini berakhir pada 2 November.

“Saya ingin mohon maaf yang sebesar-besarnya (karena) tidak dapat menghadiri acara Pesparani di Ambon bulan yang lalu. … Memang hari itu ada agenda tugas kenegaraan,” kata Presiden Jokowi.

Meskipun demikian, presiden menyampaikan apresiasi kepada LP3KN yang telah berhasil menyelenggarakan kegiatan yang baru pertama kali diadakan oleh Gereja Katolik tersebut dan memberi ucapan selamat kepada pemenangnya.

“Saya kira yang penting bukan semata-mata soal siapa pemenangnya atau siapa yang menjadi juaranya. Tapi yang paling penting kita bisa merayakan kebersamaaan, bisa merayakan persaudaraan, bisa merayakan persatuan,” kata Presiden Jokowi.

Menurut presiden, masyarakat bisa belajar untuk saling menghargai dan membangun toleransi dalam sebuah paduan suara.

“Suara sopran, suara alto, suara tenor dan suara bass semuanya harus saling menghargai. Tidak mungkn satu minta dominan, satu minta terus-terusan sopran atau terus-terusan bass, tidak mungkin. Harus saling menjaga dan mengurangi ego masing-masing untuk mendapatkan suara yang padu, suara yang harmonis dan suara yang indah,” kata Presiden Jokowi.

 

Merawat Persaudaraan Sejati

Dalam sambutannya, Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo, selaku ketua KWI, mengatakan waktu dan tempat pelaksanaan Pesparani Katolik Nasional I merupakan hal yang bersifat simbolis.

“Waktunya adalah Sabtu sore tanggal 27 Oktober 2018. Itu berarti persis 90 tahun yang lalu, hari Sabtu sore yang sama tahun 1928, pertama-tama sidang pertama Sumpah Pemuda dilaksanakan,” kata prelatus itu.

Kontingen yang mewakili Propinsi Kalimantan Timur sebagai pemenang Pesparani Katolik Nasional I berfoto bersama Presiden Joko Widodo, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan para uskup seusai silaturahmi di Istana Kepresidenan di Kota Bogor, Propinsi Jawa Barat, pada 12 November. (Foto: Katharina R. Lestari/ucanews.com)
 
 
“Dan tidak banyak umat Katolik yang tahu bahwa sidang pertama Sumpah Pemuda itu dilakukan di gedung Pemuda Katolik di Batavia jaman itu. Sehingga bagi umat Katolik, Pesparani Katolik Nasional I sungguh peristiwa kebangsaan, tidak sekedar peristiwa gerejani. Pesan bagi umat Katolik untuk terus merawat semangat dan isi Sumpah Pemuda,” lanjutnya.

Terkait tempat pelaksanaan Pesparani Katolik Nasional I, Mgr Suharyo menyebut soal konflik sektarian yang terjadi di Kota Ambon hampir 20 tahun yang lalu.

“Konflik berhasil diubah dengan pengampunan, dengan segala macam langkah rekonsiliasi. Dan sesudah berhasil dibangun kembali, dirawat. Antara lain merawat itu dengan mengadakan MTQ Nasional di Ambon, dengan mengadakan Pesparawi Nasional di Ambon. Dan sekarang diadakan Pesparani Katolik Nasional di Ambon juga. Panitianya adalah Pemerintah Propinsi Maluku, anggota-anggota panitianya adalah lintas-agama. Jadi dibangun kembali, dirawat,” katanya.

“Ketika Maluku berhasil membangun kembali, merawat dan mengembangkan persaudaraan sejati, pesan dari Maluku untuk Indonesia, khususnya untuk umat Katolik di Indonesia, adalah membangun dan merawat persaudaraan sejati,” lanjutnya.

Mgr Suharyo juga mengatakan para uskup dan umat Katolik akan selalu mendoakan Presiden Jokowi beserta jajarannya “agar selalu berusaha dan berhasil mencapai cita-cita kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.”

(ucanews)

Leave a Reply

Scroll to Top