Behind The Scene Teater Ande-Ande lumut – KKMK St. Odilia

Oleh : Sutopo Yuwono

Kaya Tanpa Harta, tenang dalam suka dan duka

Sugih tanpa banda, digdaya tanpa aji

Trimah mawi pasrah, sepi pamrih tebih ajrih

 Langeng tanpa seneng, tanpa susah

Anteng manteng sugih jeneng

Suasana tiba-tiba hening, dan sesaat kemudian disambut dengan tepuk tangan riuh dan teriakan audience ketika syair lagu tersebut dilantunkan mengawali pementasan teater yang dimainkan oleh kawan-kawan KKMK St. Odilia, Paroki Citra Raya dalam pentas panggung di rangkaian kegiatan Ekaristi Kaum Muda (EKM) 27 oktober 2018 lalu.  EKM ini diadakan secara rutin per 4 bulan sekali oleh Orang Muda Katolik (OMK), Gereja St. Odilia Paroki Citra Raya.

Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, kira-kira terjemahanya begini :

Kaya tanpa harta, Tak terkalahkan tanpa kesaktian

Menerima dengan pasrah, tanpa pamrih jauh dari takut.

Tetap tenang meskipun ada duka, dan ada suka

Diam tenang, nama baik terjaga.

Nampaknya syair lagu tersebut bukan hanya sekedar pemanis cerita, bukan sekedar back sound pengisi plot cerita teater, namun juga menjadi spirit bagi anak-anak muda KKMK dalam mempersiapkan hingga menampilkan pertunjukan teater tersebut. Bagaimana tidak, rata-rata kawan – kawan KKMK tersebut tidak memiliki basic pendidikan teater, juga belum punya pengalaman bermain teater, meski ada satu , dua yang pernah terlibat dalam pementasan teater sebelumnya. Persiapan latihan juga kurang dari 1 minggu, dan bahkan pada menit – menit terakhirpun masih ada yang bertanya, “mas masih ada naskah ga? saya lupa texsnya”, akan tetapi, pementasan mereka boleh dibilang tidak mengecewakan, bahkan patut diacungi jempol. Makna cerita tersampaikan dengan baik, dan yang terutama, gelak tawa ceria kawan – kawan OMK turut memeriahkan suasana malam itu.

Kaya tanpa harta, mereka kaya ide dan inovasi, kendati dengan biaya dan peralatan seadanya, back ground panggung didesain sedemikian rupa dari bangku-bangku yang memang sudah ada di aula, ditata sedemikian rupa, dihias dengan lampu warna-warni, kemudian disorot dengan lampu led dari beberapa penjuru. Hasilnya, menunjukkan kesan classic sederhana dan apik, pencahayaanyapun Instagramable banget, begitu bahasa anak mudanya.

Tak terkalahkan tanpa kesaktian, kendati tanpa basic pendidikan dan pengalaman bermain teater, tapi penampilanya sangat mengesankan. Menerima dengan pasrah, tanpa pamrih jauh dari takut. Yang penting berani naik panggung dulu, dialognya mengalir saja. Mau disanjung, mau dibully urusan belakang, yang penting lakukan sebaik mungkin, toh ini dalam rangka pelayanan, bukan untuk mencari sanjungan. Mungkin ini yang disebut lakukan bagian kita, selanjutnya biarlah Roh Kudus yang bekerja, dan bila Roh Kudus turut bekerja, sudah tentu hasilnya akan luar biasa.

Crew

Tetap tenang meskipun ada duka dan ada suka, diam tenang, nama baik terjaga. Bukan tak ada pertentangan, bukan tanpa perdebatan. Ketika pertama kali ide akan mementaskan teater ini diutarakan, sempat ada beberapa ketidaksetujuan diantara anggota tim sendiri, khawatir apakah ceritanya nyambung dengan tema EKM, bagaimana nanti property dan kostumnya, bagaimana sound systemnya dan sebagainya. Namun dengan tetap tenang,  semua dijelaskan perlahan-lahan, penulisan skrip tetap dijalankan, perekrutan pemain segera dilakukan. Dan bahkan, pada hari-hari terakhir menjelang pementasan, ada insiden salah seorang pemain mengalami kecelakaan, sehingga harus digantikan dengan kawan lainnya. Tapi dengan tenang latihan dan persiapan tetap dilanjutkan, hingga akhirnya pertunjukan dapat terlaksana dengan baik.

The Story of Ande – Ande Lumut.

Seni adalah kepura-puraan yang menyatakan kebenaran, kurang lebih seperti itu pernyataan dari salah seorang aktivis KKMK ketika diminta menarik benang merah dari pementasan teater tersebut di atas. Tidak berlebihan, pasalnya cerita-cerita legenda carangan orang-orang tua pendahulu kita, sebenarnya banyak tersirat pesan-pesan agung tentang kehidupan, tentang kesejatian, tentang petunjuk bagaimana sebaiknya kita menjalani kehidupan.

Secara singkat cerita ande-ande lumut sendiri berkisah tentang 3 orang wanita bersaudara yang ingin mengambil hati sang Pangeran, yaitu ande – ande lumut. Wanita ke 1 dan ke 2, kleting abang dan kleting biru ini bersifat sombong dan serakah namun berwajah cantik, sedangkan wanita ke 3 yaitu kleting kuning cenderung pendiam dan mengalah, dan juga berwajah buruk. Kleting kuning selalu dianiaya dan direndahkan oleh kleting abang dan kleting biru.

Singkat kata, kleting abang dan kleting biru berangkat terlebih dahulu untuk mengambil hati sang pangeran, dan kleting kuning diancam agar di rumah saja dan jangan sampai mengikuti sayembara untuk mengambil hati sang pangeran. Di tengah perjalanan, mereka harus menyeberangi sungai yang arusnya deras.

Mereka kebingungan lantaran tidak bisa menyeberang sungai, akhirnya munculah yuyu kangkang, siluman penunggu sungai yang menawarkan bantuan untuk menyeberangkan, tapi dengan syarat yaitu kleting abang dan kleting biru harus mencium si yuyu kangkang tersebut. Karena kehabisan cara, akhirnya kleting abang dan kleting biru menyanggupi syarat tersebut.

Fragment diatas menggambarkan kehidupan jaman sekarang, dimana ketika menemui kesulitan, banyak orang memilih untuk mengambil jalan pintas, rela menggadaikan kehormatan demi apa yang dinginkannya. Menggadaikan kehormatan tersebut bisa dimaknai secara lebih luas, seperti pejabat yang rela mengingkari sumpah jabatanya karena iming-iming uang, atau mungkin karena intimidasi dari para yuyu kangkang dari korporasi-korporasi multinasional, atau juga kecenderungan menghalalkan berbagai cara demi uang, karir dan jabatan.

Singkat cerita, kleting abang dan kleting biru sampai ke tempat Ande-ande lumut, dan karena ternyata Ande-ande lumut tidak mau menerimanya karena tahu bahwa kedua wanita tersebut sudah tidak suci lagi.

Pada fragment lain, kleting kuning yang bersedih dan teraniaya didatangi dewa. Dewa tersebut memberikan pusaka dan berpesan agar nanti digunakan untuk menghadapi yuyu kang kang. Dan kemudian, dewa memerintahkan agar kleting kuning mengikuti sayembara.

Fragment tersebut mengambarkan bahwa seberapapun teraniayanya kita, jika hati kita bersih, hidup kita lurus dan berserah pada penyelanggaraan Tuhan, maka Tuhan akan selalu memberikan pertolongan yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Ketika Mengutus kita, Tuhan akan membekali dengan kemampuan yang kita perlukan.

Pada fragment selanjutnya, diceritakan Kleting kuning berhasil melewati sungai yang deras tanpa menyerahkan kehormatannya pada yuyu kang kang. Pusaka dari dewa, berhasil menyelamatkanya dari tipu daya yuyu kangkang.   Dan meskipun buruk rupa, namun karena mampu menjaga kehormatannya, akhirnya, kleting kuning diterima oleh sang Pangeran, Ande-ande lumut untuk menjadi permaisurinya. Dan konon ceritanya, mereka hidup bahagia selama-lamanya.

Cukup bekalkah kita untuk sampai ke kehidupan kekal kelak? Cukup bersihkan kita untuk dapat diterima kembali oleh Allah Bapa?

1 thought on “Behind The Scene Teater Ande-Ande lumut – KKMK St. Odilia”

Leave a Reply

Scroll to Top