Mampukah kita membawa Kasih-Nya tanpa mengenal batas ?

Published by aspranoto on

Renungan APP 2021 – Minggu Kedua

 Shalom Aleichem, damai dalam kasih Yesus

Bapak, Ibu, adik-2 dan saudara/i yang terkasih dalam Kristus,

Kita telah memasuki minggu kedua masa prapaskah, dalam materi perenungan APP 2021, KAJ minggu  prapaskah ke dua bertemakan “ Persaudaraan dalam Masyarakat”.

Sebagai umat Katholik, kita diharapkan bukan bagaikan butiran-butiran emas yang bercampur lumpur, pasir dan bebatuan dalam nampan seorang pendulang emas. Dimana ketika si pendulang mengkacau-kacaukan campuran tersebut dan menyiramnya dengan air, dan dibuangnya lumpur dan bebatuan lain yang tidak perlu, untuk mendapatkan butiran-butiran emasnya.

Namun, kita semua paham bahwa sebagai umat Katholik, kita diharapkan menjadi garam bagi sesama, tidak perlu menonjolkan ke-eksklusifannya, namun harus menjadi satu dan memberikan rasa yang membuat sukacita bagi sesama.

Garam memang baik, tetapi jika garam menjadi hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya? Hendaklah kamu selalu mempunyai garam dalam dirimu dan selalu hidup berdamai yang seorang dengan yang lain.”  (TB Mrk 9:50)

Adalah tanggung jawab bagi kita semua, ketika kita menyandang nama orang suci ( Santo/Santa) didepan nama kita dalam baptisan yang kita terima, bahwa prilaku, perbuatan dan karakter kita sudah bukan milik pribadi kita  sendiri, namun secara tidak langsung membawa nama Kasih-Nya bagi sesama.

Hal yang sangat sederhana bisa kita rasakan, ketika seorang pejabat, tokoh masyarakat, selebriti atau bahkan pahlawan, yang menyandang nama baptis didepan namanya, ketika mereka  sukses, kita ikut bahagia, bila mereka sedang berduka atau tertimpa musibah kitapun secara tulus ikut mendoakan agar mereka bisa mengatasinya, namun bagaimana bila mereka melakukan suatu tindakan yang tidak terpuji, misalnya melakukan skandal yang tercela? Mungkin kita masih mendoakan agar mereka bisa mengatasinya, namun bagaimana dengan orang-orang diluar sana, bisa-bisa mereka malah mencemooh, membully  bahkan membawa-bawa dengan penafsiran penafsiran buruk sesuka hati mereka, dengan menghubungkan nama yang disandangnya, dan ujung-ujungnya membuahkan citra buruk pada agama/kepercayaan yang disandangnya.  Setitik nila rusak susu sebelanga, akan potensial berlaku untuk kejadian-kejadian nista seperti itu.

Sebagian dari kita merasa nyaman bila bergaul dan bergumul dengan orang-orang dekat dan syukur-syukur mengerti kita, karena harapkan kita bilamana kita melakukan kesalahan orang tersebut mau memaklumi dan memaafkan kita, tetapi pada kenyataannya hidup tidak selalu kita rasakan dengan lingkungan yang mengerti kita, maka kita yang justru diharapkan mengerti dan memahami orang lain.

Perbedaan akan selalu kita temui, di lingkungan sekolah, tempat bekerja, lingkungan tempat tinggal/masyarakat, organisasi massa, group media sosial bahkan dalam lingkungan saudara sendiri / keluarga besar.

Disinilah kita sebagai umat Katholik diharapkan untuk bisa menjadi garam diantara mereka, dimanapun kita berada dengan cara menebar Kasih-Nya dalam wujud prilaku, karakter, ucapan, komentar, tulisan dan kepribadian yang mencerminkan kasih akan sesama.

Marilah kita merenungkan, bagaimana kita bisa menyikapi wujud kasih akan sesama untuk senantiasa arif dan bijaksana ketika bergaul dengan sesama, bersosial media dengan sesama, bersumbang pikiran, tenaga, materi dan waktu bagi sesama dimanapun dan apapun medianya, dengan tetap “Membawa pesan Kasih-Nya bagi dunia”.

Berikut “ film dari Komsos KAJ untuk Pertemuan APP 2 ( dengan file yang telah dicompress dari file aslinya agar dapat terkirim via WA) “ Persaudaraan dalam Masyarakat”. Semoga dapat menguatkan, mengilhami dan menyemangati kita untuk senantiasa bersaudara bagi semua tanpa mengenal batas.

Selanjutnya silahkan bisa berberbagi rasa dalam pertemuan perenungan prapaskah minggu kedua di pertemuan lingkungan, dengan Bacaan Injil “Orang Samaria yang Murah Hati” ( Luk 10: 25-37 )

Selamat menyaksikan, merenungkan dan berdoa.

Tuhan Memberkati.

(aspranoto)

 


0 Comments

Leave a Reply