Sudah bijaksanakah perlakuanku pada alam ciptaan-Nya ?

Published by aspranoto on

Renungan APP 2021 – Minggu Ketiga

Shalom Aleichem, damai dalam kasih Yesus

Bapak, Ibu, adik-2 dan saudara/i yang terkasih dalam Kristus,

Minggu ini kita telah memasuki minggu ketiga masa prapaskah, dalam materi perenungan APP 2021 KAJ, minggu  prapaskah ketiga bertemakan  “ Persaudaraan dalam Alam Ciptaan”.

Sesungguhnya keselamatan dari pada-Nya dekat pada orang-orang yang takut akan Dia, sehingga kemuliaan diam di negeri kita.

Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman. Kesetiaan akan tumbuh dari bumi, dan keadilan akan menjenguk dari langit. (TB Mzm 85:10-12)

Bapak, Ibu, adik-2 dan saudara/i yang terkasih dalam Kristus, bila suatu saat ada pertanyaan yang ditujukan kepada kita “Apa yang sudah kamu lakukan pada alam ini?”.

Mungkin banyak diantara kita susah untuk menjawab, sebab kita terlalu dipusingkan akan hal-hal yang rumit, dan beranggapan bahwa kelestarian alam adalah urusan orang yang bekerja dibidang kehutanan, pertanian, suaka margasatwa atau harus menjadi komunitas-komunitas pecinta lingkungan dan kelestarian alam lainnya.

Bahkan bagi kita yang tinggal di perkotaan, untuk memulai bentuk ide/kegiatan kita akan kepedulian kita terhadap alampun sepertinya susah kita temukan.

Seakan-akan kita terbelenggu pada asumsi bahwa urusan sampah, kita sudah membayar tukang sampah dan kebersihan, urusan kebersihan saluran air, sudah urusan Dinas pekerjaan umum atau pengurus RT, nanti saja kalau ada kerjabakti yang penting ikut berpartisipasi, urusan keseimbangan alam, kita sudah serahkan ke Dinas Tatakota, dan sebagainya.

Bila itu terjadi layakkah kita disebut anak-anak Allah yang pantas diberi tanggung jawab untuk menguasai dan mempergunakan sebaik baiknya Alam dan Ciptaan-Nya?

Kalau kita mau sedikit meluangkan waktu untuk merenungkan hubungan antara alam dan kehidupan kita, maka kita akan sadar, bahwa alam amatlah berpengaruh erat pada kelangsungan hidup kita sehari-hari, maka sudah keharusan kitalah untuk senantiasa menjaganya.

Ketika kita bangun pagi dan dapat menikmati segarnya udara pagi, semuanya itu karena kemurahan alam pada kita yang senantiasa menyediakan oksigen yang berlimpah, terpikirkah kita andaikata disekitar kita banyak asap gas buang kendaraan, asap kebakaran hutan, dan polusi-polusi lain hasil dari perbuatan kita dan orang-orang disekitar kita yang tidak peduli akan keseimbangan alam?

Apa yang terpikirkan ketika rumah kita terkena bencana banjir? Apakah kita hanya bisa menyalahkan alam, sementara kita lupa bahwa kita menyumbangkan banyak masalah sehingga menimbulkan bencana tersebut, seperti kurang arif dalam menggunakan tata kelola hunian, tidak memberikan ruang untuk sarana resapan air, tidak peduli dengan kelancaran dari fungsi saluran air, meskipun didepan rumah kita, kita buang sampah sembarangan di saluran, dan berlebihnya produktifitas sampah yang kita hasilkan baik sampah organik maupun anorganik.

Coba yuk, kita mulai membuat komitmen dan kesepakatan pada diri kita masing-masing untuk tidak menghasilkan sampah yang berlebihan, misalnya membeli kebutuhan hidup kita ( sandang, papan, kendaraan, perabot hiburan, dll ) sesuai dengan kebutuhan , juga dalam hal makanan, sehingga kita tidak banyak membuang karena membeli lebih dari apa yang kita butuhkan, kurangi sampah plastik dan stereofoam.

Peduli pada alam sekitar kita, misalnya tidak buang sampah sembarangan, selalu memelihara saluran air buangan disekitar wilayah kita agar berfungsi dengan baik, sisakan area pekarangan kita untuk resapan air, membuat keselarasan dan komposisi yang layak untuk menanam pohon/taman terhadap ruang hunian, serta masih banyak cara lain yang bisa kita sumbangkan untuk keseimbangan alam, yang di tempat kerja/kantorpun bisa lakukan misalnya bijaksana dalam penggunaan kertas, air, listrik dll.

Ketika kita sudah bisa berkomitmen,  kita bisa melakukan hal hal yang “LEBIH”, sebagai ujud tanggung jawab kita pada alam, sehingga keseimbangan alam yang telah diciptakan Allah ini yang begitu sempurna adanya dan rumit dengan segala keharmonisannya, tetap bisa kita nikmati juga untuk generasi kita yang akan datang.

Begitu juga kita yang juga bagian dari ciptaan Allah yang paling dikasihi dan dipercaya, mampu melestarikan ciptaan-ciptaan Allah lainnya, serta meneruskan prilaku-prilaku yang baik terhadap ciptaan Allah tersebut ke generasi selanjutnya.

Berikut “ film dari Komsos KAJ untuk Pertemuan APP 3 ( dengan file yang telah dicompress dari file aslinya agar dapat terkirim via WA) “ Persaudaraan Dalam Alam Ciptaan”.

Disini kita bisa belajar pada seorang tokoh saudara kita dari unat muslim “Pak Lurah Slamet Tugiyanto” yang juga pemerhati lingkungan dengan sarana dan pengabdiannya sebagai seorang Kepala Desa pada mulanya, yang akhirnya tetap diteruskan walaupun sudah tidak lagi menjabat, yaitu dengan menjaga dan mengembangkan potensi dan keseimbangan alam di daerahnya dengan segala potensi yang dimiliki yang bisa bermanfaat bagi alam dan orang-orang disekitarnya.

Semoga dapat menguatkan, mengilhami dan menyemangati kita untuk senantiasa bersaudara dengan alam ciptaan-Nya tanpa mengenal usia sebagai bentuk akan persaudaraan kita kepada alam ciptaanNya.

Selanjutnya silahkan bisa berbagi rasa dalam pertemuan perenungan prapaskah minggu ketiga  di pertemuan lingkungan, dengan Bacaan Injil “Hal kekuatiran” ( Matius 6: 25-28 )

Selamat, menyaksikan, merenungkan dan berdoa.

Tuhan Memberkati.

(aspranoto)

 


0 Comments

Leave a Reply