Opens in a new tab

Surat Gembala Hari Pangan Sedunia 2025

Konsumsi Pangan Nusantara untuk Indonesia Sehat

(Disampaikan sebagai pengganti khotbah, pada Perayaan Ekaristi Hari Sabtu/Minggu, 18/19 Oktober 2025)

Para Ibu dan Bapak
Suster, Bruder, Frater, Romo
Kaum Muda, Remaja dan Anak-anak yang terkasih dalam Kristus

1. Setiap tanggal 16 Oktober secara internasional diperingati Hari Pangan Sedunia (HPS). Kita umat Katolik di Keuskupan Agung Jakarta memperingati HPS pada hari Minggu yang paling dekat dengan peringatan HPS itu, sambil merayakan misteri penebusan Allah dalam perayaan Ekaristi dan menimba inspirasi Sabda Tuhan yang kita dengarkan.

2. Pada tahun ini, Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi Konferensi Waligereja Indonesia (Komisi PSE KWI) mengambil tema “Hak atas Pangan untuk Kehidupan dan Masa Depan yang Lebih Baik”. Sementara itu, melanjutkan tema HPS tahun-tahun sebelumnya, tema HPS Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) tahun ini adalah “Konsumsi Pangan Nusantara untuk Indonesia Sehat”. Melalui tema ini kita diajak untuk mensyukuri anugerah Tuhan atas keanekagaraman sumber pangan sehat yang (dapat) dihasilkan di bumi Nusantara kita tercinta.

Saudari-saudara yang terkasih,

3. Melalui bacaan Injil hari ini, Tuhan Yesus menyampaikan perumpamaan kepada murid-murid-Nya untuk tidak jemu-jemu berdoa (Luk 18:1-8). Di hadapan hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati siapapun, seorang janda selalu datang kepadanya meminta agar dia mau membela hak-haknya. Karena janda tersebut menyusahkannya, maka hakim membelanya. HPS yang kita peringati setiap tahun adalah salah satu bentuk doa dan seruan yang tak henti-hentinya kita lakukan, agar kita menghormati dan menghargai pangan sebagai anugerah Allah bagi kita. Sementara itu, menghormati pangan sebagai anugerah Allah bagi kita, adalah salah satu bentuk perbuatan baik yang diperlengkapkan Allah bagi kita sebagai orang-orang kepunyaan Allah (2 Tim 3:17)

Saudari-saudaraku yang terkasih,

4. Apa yang kita makan sehari-hari berdampak tidak hanya pada kesehatan tetapi juga berkontribusi, baik positif maupun negatif, pada relasi kita dengan Allah, dengan diri kita sendiri, dengan sesama manusia dan alam ciptaan.

4.1. Relasi yang benar dengan Allah antara lain tercermin dalam keyakinan akan ketergantungan kita pada anugerah makanan dari Allah. Kitab Suci menceriterakan bahwa umat beriman memuji Allah karena Dia menyediakan makanan bagi umat-Nya: Allah menyediakan manna bagi Umat-Nya yang mengembara di padang gurun. Yesus mengadakan mukjizat pergandaan roti bagi orang-orang yang mengikuti-Nya. Rasul Paulus menggambarkan Allah sebagai yang “menurunkan hujan dari langit dan dengan memberikan musim-musim subur bagi kamu. Ia memuaskan hatimu dengan makanan dan kegembiraan” (Kis. 14:17). Keyakinan bahwa dalam hal makanan kita tergantung pada Allah, kita ungkapkan dalam doa Bapa Kami, Tuhan Yesus mengajarkan, “berilah kami rezeki pada hari ini” (Mat. 6:11).

4.2. Pola konsumsi makanan sehat juga dapat memupuk relasi yang benar dengan diri sendiri. Tubuh kita adalah bait Roh Kudus sehingga kita perlu merawatnya. Cara mensyukuri anugerah Allah atas tubuh kita adalah dengan merawatnya, dengan makan makanan bergizi dan membangun gaya hidup sehat.

4.3. Pilihan pangan yang kita konsumsi sehari-hari bukan hanya perwujudan relasi kita dengan Allah dan dengan diri kita sendiri, tetapi juga relasi kita dengan sesama dan alam ciptaan. Dalam memilih makanan, kita perlu memahami dan menyadari sistem rantai distribusi dan produksi pangan. Pada umumnya kriteria utama orang dalam memilih pangan adalah harga, rasa dan gaya hidup. Kebanyakaan orang memilih harga murah, rasa enak, praktis dan cepat saji. Kriteria ini biasanya dimanfaatkan oleh industri pangan. Kita sering tidak sadar bahwa dengan menetapkan kriteria ini kita bertindak tidak adil kepada para buruh, petani, pengemudi jasa distribusi dan lingkungan. Jenis makanan yang murah, enak dan cepat saji ini sangat mungkin mengandung ketidakadilan sosial dan eksploitasi alam dalam proses produksi dan distribusinya. Alam dipaksa untuk terus berproduksi agar dapat memenuhi permintaan pasar. Tanah tidak diberi kesempatan untuk istirahat sejenak berhenti berproduksi. Benih, pupuk dan pestisida pabrikan digunakan untuk memacu target produksi, sehingga yang dihasilkan adalah bahan pangan yang tidak sehat dan merusak lingkungan.

Saudari-saudara terkasih,

5. Di masa lampau, masyarakat Nusantara memiliki bahan pangan tradisional yang beragam. Setiap daerah dengan karakteristik alam yang khas, mengembangkan sumber pangannya sendiri. Tanpa tergantung pada padi atau beras, masyarakat sejak lama membangun ketahanan pangan dalam lingkup komunitas masing-masing, mengolah sagu, jagung hingga singkong sebagai sumber pangan. Pangan Nusantara sejatinya dapat menjadi solusi untuk menjaga kelestarian lingkungan dan kedaulatan pangan. Pangan Nusantara, yang diproduksi dan dikonsumsi di suatu daerah, cenderung lebih ramah lingkungan karena mengurangi jejak karbon dari proses produksi dan distribusi. Selain itu, pengelolaan pangan lokal juga berkontribusi pada pemenuhan asupan gizi, pelestarian keanekaragaman hayati dan kearifan lokal.

6. Namun sekarang pola makan masyarakat kita sudah berubah. Badan Pangan Dunia (FAO) menyatakan bahwa pola konsumsi pangan di Indonesia tergolong tidak sehat: asupan karbohidrat tinggi, sedangkan asupan protein dan vitamin rendah. Pemasaran dan konsumsi pangan ultraproses, seperti makanan instan dan minuman berpemanis gula lebih banyak diminati dan berkontribusi pada pergeseran pola konsumsi pangan masyarakat Indonesia yang semakin menjauh dari pangan lokal sehat yang ada di Nusantara. Pola makan seperti ini dapat berdampak pada peningkatan berbagai penyakit.

7. Untuk mewujudkan sistem pangan yang berkelanjutan dan berkeadilan, sistem pangan harus mencapai kedaulatan pangan dan pemenuhan gizi untuk semua, dengan cara yang tidak membahayakan ketahanan pangan dan gizi generasi masa depan, baik dari segi ekonomi, sosial, maupun lingkungan. Namun produksi pertanian Indonesia saat ini cenderung hanya terfokus pada beberapa komoditas bernilai tinggi dan beberapa varietas tanaman produktif. Akibatnya, variasi pangan yang tersedia di pasar menjadi terbatas dan sebaliknya membuat ratusan spesies tanaman pangan bergizi menjadi terabaikan.

Saudari-saudaraku yang terkasih

8. HPS yang kita peringati setiap tahun merupakan penanda untuk membangun budaya pemilihan makanan sehari-hari yang bersumber dari moral Kristiani. Pilihan atas makanan yang kita konsumsi hendaknya semakin membangun relasi kita yang seharusnya dengan Allah, dengan diri kita sendiri, dengan sesama dan alam ciptaan. Ketika kita memilih harga pangan, kita perlu mempertimbangkan apakah kita sudah berbuat adil terhadap jerih payah saudari-saudara kita yang berjasa atas proses produksi dan distribusi pangan. Ketika rasa enak yang menjadi kriteria pilihan kita atas pangan, apakah kita menyadari bahwa makanan itu benar-benar sehat. Ketika kita memilih bahan makanan impor yang seolah merupakan simbol harga diri, apakah kita sudah memperhitungkan biaya kerusakan lingkungan yang ditimbulkan dari proses distribusi dan produksinya. Pertanyaan-pertanyaan reflektif ini perlu terus kita lakukan.

Saudari-saudara yang terkasih,

9. Saya menghargai berbagai upaya dan inisiatif individu maupun komunitas-komunitas terkait dengan masalah pangan. Pemanfaatan lahan untuk memproduksi bahan pangan telah dan sedang dilakukan di berbagai tempat. Demikian juga pembangunan jaringan pangan Nusantara yang ramah lingkungan yang sedang diinisiasi oleh jaringan petani di Keuskupan Agung Semarang dan jaringan konsumen di Keuskupan Agung Jakarta. Upaya ini dapat semakin mendekatkan konsumen dengan petani yang saling mendapatkan manfaat. Petani mendapatkan harga yang baik dan adil, sementara konsumen mendapatkan bahan makanan ramah lingkungan yang sehat.

Mengonsumsi pangan Nusantara yang beraneka ragam bisa menjadi sebuah gerakan bersama. Gerakan seperti ini dapat memberikan manfaat bagi kesehatan kita, bagi petani yang mengusahakan serta kelestarian lingkungan. Aksi-aksi nyata lain dapat dilakukan untuk mendukung gerakan ini, misalnya:

9.1 Berdoa dan mengucap syukur setiap hari atas anugerah keanekaragaman pangan Nusantara (usulan doa terlampir).

9.2. Pengenalan dan penyadaran tentang keanekaragaman pangan Nusantara khususnya di kalangan anak-anak dan remaja lewat sekolah-sekolah, media sosial, kegiatan-kegiatan di lingkungan dan paroki.

9.3. Memberikan pemahaman tentang kandungan gizi dari aneka ragam pangan Nusantara.

9.4. Mengadakan pembiasaan menyajikan pangan Nusantara, baik dalam keluarga, maupun dalam pertemuan-pertemuan umat di lingkungan, paroki, dan komunitas kategorial; serta kegiatan-kegiatan lainnya, sesuai dengan keadaan dan kebutuhan masing-masing.

10. Akhirnya, bersama-sama dengan para imam dan semua pelayan umat, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada para Ibu/Bapak/Suster/Bruder/Frater/Kaum Muda/Remaja dan Anak-Anak sekalian, yang dengan peran berbeda-beda telah ikut mengemban tanggung jawab dalam mempromosikan pangan Nusantara ramah lingkungan demi terciptanya masyarakat Indonesia yang lebih sehat. Semoga kita, umat Keuskupan Agung Jakarta, terus berjalan bersama dengan semangat semakin mengasihi, semakin peduli dan semakin bersaksi serta tidak lelah mencari jalan-jalan baru untuk mewujudkannya dalam hidup kita. Salam sehat berlimpah berkat untuk Anda, keluarga dan komunitas Anda.

+ Kardinal Ignatius Suharyo
Uskup Keuskupan Agung Jakarta

Lampiran

Doa Syukur atas Anugerah Keanekaragaman Pangan Nusantara

“Allah Bapa yang Maha Pengasih, kami memuji dan memuliakan nama-Mu atas keanekaragaman makanan yang Engkau berikan kepada kami di bumi Nusantara ini. Kami bersyukur atas kemurahan-Mu yang tak terbatas, yang menyokong kehidupan kami melalui rezeki dari tanah yang Engkau percayakan kepada kami untuk mengelolanya. Kami juga bersyukur bagi mereka yang bekerja keras untuk menghadirkan makanan ini di meja makan kami sehari-hari. Lindungilah bumi Nusantara ini, yang menjadi sumber kehidupan kami, agar terus berlimpah dan lestari bagi generasi mendatang. Semoga makanan ini menguatkan kami untuk hidup dalam keadilan dan solidaritas, serta membantu kami untuk lebih peduli pada saudarj-saudara kami yang kekurangan dan lingkungan yang rapuh. Penuhilah kami dengan kesadaran ekologis dan kasih, agar kami senantiasa menjaga dan merawat seluruh ciptaan-Mu dengan bijaksana. Ini kami panjatkan kepada-Mu dengan perantaraan Kristus Tuhan kami. Amin”.