Opens in a new tab

Surat Gembala Hari Pangan Sedunia 2026

Solidaritas Pangan Sehat, Terjangkau, dan Menyelamatkan

(Disampaikan sebagai pengganti khotbah, pada Perayaan Ekaristi Hari Sabtu/Minggu, 17/18 Oktober 2026)

Para Ibu/Bapak, Suster/Bruder/Frater
Rekan-rekan Imam, Kaum muda/Remaja
dan Anak-anak yang terkasih,

1. Setiap tanggal 16 Oktober diperingati Hari Pangan Sedunia (HPS). Kita umat Katolik di Keuskupan Agung Jakarta memperingatinya pada hari Minggu yang paling dekat dengan peringatan HPS itu, sambil mensyukuri karya penyelamatan Allah dalam perayaan Ekaristi dan menimba inspirasi Sabda Tuhan yang kita dengarkan.

2. Melanjutkan tema HPS tahun-tahun sebelumnya, tahun ini Keuskupan Agung Jakarta mengambil tema “Solidaritas Pangan Sehat, Terjangkau dan Menyelamatkan”. Melalui tema ini kita diajak untuk menghidupi spiritualitas pangan sebagai sumber kehidupan dan mewujudkan solidaritas sosial dengan saudari-saudara kita yang belum dapat menjangkau sumber pangan sehat.

3. Sabda Yesus yang kita dengarkan hari ini, mengingatkan kita tentang pentingnya tanggungjawab sosial yang sekaligus merupakan bentuk ketaatan kepada Allah. Yesus berkata “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar, dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah” (Mat 22:21). Sebagai warga masyarakat, kita dipanggil untuk senantiasa memperkuat kepedulian dan solidaritas sosial demi terwujudnya kesejahteraan bersama. Ini adalah wujud nyata ketaatan kita kepada Allah yang selalu peduli terhadap keselamatan dan kesejahteraan umat-Nya. Inilah pesan utama yang disampaikan melalui Nabi Yesaya (Yes 45:1:4-5). Sementara itu Rasul Paulus bersyukur karena umat yang didirikannya terus mengusahakan kasih dan mengamalkan iman. Kepedulian dan solidaritas sosial, usaha kasih dan amalan iman ini akan berbuah damai dan sejahtera sebagaimana disampaikan oleh Rasul Paulus (1 Tes 1:1-3).

Saudari-saudara yang terkasih,

4.1. Nyatanya damai sejahtera itu masih sangat jauh dari harapan. Kelaparan masih menjadi masalah yang tidak terselesaikan. Kelaparan sebenarnya dapat diatasi. Dunia sudah memproduksi pangan cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi semua orang. Namun Organisasi Pangan dan Pertanian dari Perserikatan Bangsa-Bangsa mencatat 645 juta orang di dunia masih mengalami kelaparan, dan 2,69 miliar orang tidak mampu menjangkau pangan sehat (FAO, 16 Oktober 2025). Paus Leo XIV yang prihatin melihat kenyataan dunia seperti itu mengajak kita berdoa agar Tuhan membangkitkan kesadaran baru dalam diri kita: agar kita belajar mengucap syukur atas setiap makanan, hidup sederhana, berbagi dengan sukacita, serta memelihara hasil bumi sebagai anugerah-Nya yang diperuntukkan bagi semua orang, bukan hanya segelintir orang” (Intensi Doa Paus Bulan Mei: Agar Setiap Orang Memiliki Makanan, Vatican News, 30 April 2026).

4.2. Menurut organisasi yang sama, di Indonesia, masih lebih dari 23 juta orang tidak dapat memenuhi kebutuhan gizi dan 20 persen lebih anak usia di bawah lima tahun masih mengalami stunting (kerdil karena kekurangan gizi). Indonesia sedang menghadapi tiga tantangan besar, yakni kekurangan gizi, kelebihan gizi dan kekurangan zat gizi mikro (vitamin dan mineral esensial). Keadaan ini memprihatinkan: sebagian orang kekurangan gizi dan sebagian lainnya mengalami kelebihan. Ini terjadi karena ketidakadilan dan ketimpangan atas akses pangan sehat.

4.3. Sementara itu, masyarakat kita juga sedang menghadapi tekanan hidup karena harga pangan yang terus meningkat. Inflasi pangan tahunan di Indonesia mencapai 4,06 persen pada pertengahan tahun 2026. Di sisi lain, peluang kerja semakin sulit. Rata-rata angka pengangguran di wilayah DKI Jakarta, Tangerang dan Bekasi 6,30 persen (BPS, 1 September 2026). Akibatnya daya beli masyarakat prasejahtera untuk kebutuhan dasar pangan menjadi semakin sulit. Sementara itu lahan untuk mengusahakan kemandirian pangan semakin terbatas. Belum lagi perubahan iklim yang menimbulkan berbagai masalah yang sangat kompleks, yang secara langsung maupun tidak langsung mengganggu ketersediaan pangan yang sehat.

5. Dalam menghadapi tantangan ini, umat Katolik tidak cukup hanya mengandalkan usaha-usaha manusiawi semata. Kita perlu mendasari usaha kita dengan nilai-nilai Kristiani yang dapat kita namai spiritualitas pangan. Spiritualitas ini mencerminkan cara hidup yang tumbuh dari pengalaman akan kasih Allah dan kesadaran bahwa pangan merupakan anugerah Allah yang diperuntukkan bagi semua orang. Kesadaran ini membentuk kepekaan terhadap saudari-saudara kita yang kesulitan memperoleh pangan, menggerakkan pertobatan dari sikap acuh tak acuh dan konsumtif, serta mewujud dalam pilihan dan tindakan bersama untuk menghadirkan pangan yang sehat, ramah lingkungan, terjangkau, dan menyelamatkan.

6. Makanan bukan pertama-tama hasil jerih payah kita sendiri, melainkan buah dari tanah, air, udara, matahari, kerja keras petani, nelayan dan begitu banyak tangan saudari-saudara kita yang ikut serta dalam menyediakannya untuk kita. Doa makan dapat mendidik kesadaran iman kita: “Berilah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya.” Kita menerima pangan sebagai pemberian Allah yang mengarahkan kita kepada cara hidup untuk memuliakan Allah. Kita makan secukupnya agar yang lain mendapatkan bagian. Dari sikap ini lahir penghargaan terhadap pangan dan penolakan terhadap pemborosan serta membuang makanan menjadi sampah.

Saudari-saudara yang terkasih,

7. Tahun ini kita umat Katolik Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) sedang mendalami dan berusaha mewujudkan kepedulian pada alam ciptaan. Tahun depan (2027) kita akan memasuki Tahun Ekaristi. Keduanya menjadi sumber iman kita untuk menyikapi masalah pangan. Dalam perayaan Ekaristi roti dan anggur, berkat kuasa Roh Kudus diubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus yang menyelamatkan. Hasil bumi dan usaha manusia itu diberkati, dipecah dan dibagikan sebagai sumber keselamatan bagi semua umat yang menyambutnya. Karena itu rasanya janggal jika komunitas merayakan Roti Ekaristi yang dipecah dan dibagi-bagikan di altar, tetapi membiarkan saudari-saudara di sekitar kita tidak mempunyai roti untuk dimakan. Ekaristi mengundang kita tidak hanya untuk menyambut komuni, tetapi perlahan-lahan menjadi pribadi ekaristis yang bersedia dipecah-pecah dan dibagikan demi kehidupan dan keselamatan sesamanya.

Saudari-saudara yang terkasih,

8. Apa yang dapat kita lakukan? Yang paling penting adalah membangun watak dasar, bersyukur atas anugerah Allah atas makanan yang kita santap setiap hari. Makanan adalah hasil kerja keras bumi dan banyak orang yang terlibat dalam menyediakannya. Lewat cara ini, kita menjadi semakin peduli pada makanan, sesama dan alam ciptaan: memilih makanan sehat, secukupnya, tidak membuang sisa makanan, dan semakin berbelarasa dengan saudari-saudara kita yang masih kelaparan. Doa makan di dalam keluarga dan komunitas hendaknya menjadi bentuk ucapan syukur dan kepedulian untuk berbagi roti kehidupan. Kebiasaan makan bersama di dalam keluarga dan komunitas juga menjadi cara untuk semakin meneguhkan spiritualitas berbagi, pengorbanan diri, saling melayani, dan membangun kesatuan, seperti yang kita rayakan dalam Ekaristi.

9. Saya menghargai inisiatif-inisiatif individu dan komunitas yang menanam tanaman pangan dengan memanfaatkan lahan terbatas yang tersedia atau mengupayakan pertanian perkotaan. Inisiatif baik ini perlu terus disebarluaskan. Selain itu, kita dapat meneruskan dan memperluas jaringan kerjasama antara konsumen (umat KAJ) dengan kelompok-kelompok petani lestari (ramah lingkungan) yang ada di luar KAJ dengan menjadi komunitas konsumen yang membeli langsung dengan harga adil kepada petani lestari. Harapannya dengan cara ini terwujud secara nyata komunitas yang dijiwai oleh semangat Ekaristi, berbagi pangan sumber kehidupan dalam ikatan kasih.

10. Di sekolah-sekolah dan lembaga pendidikan informal perlu terus dikembangkan edukasi pangan berkelanjutan, membuat kebun pangan sekolah, pengumpulan tabungan pangan, berbagi makanan kepada yang lapar, mengirim anak-anak untuk live in di keluarga-keluarga petani, dan prakarsa-prakarsa kreatif yang lain.

11. Sebagai gerakan bersama, pertemuan-pertemuan di lingkungan, wilayah, paroki, komunitas kategorial dan keuskupan hendaknya menggunakan jasa Usaha Mikro Kecil (UMK) dan layanan SABUK (Sentra Bimbingan Usaha Kecil) yang menyediakan makanan dan minuman pangan lokal dan ramah lingkungan. Perlu dipastikan jangan sampai ada atau sekurang-kurangnya tidak banyak sisa makanan dan minuman dalam setiap pertemuan.

Saudari-saudara yang terkasih,

12. Akhirnya, bersama-sama dengan para imam dan semua pelayan umat, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada para Ibu, Bapak, Suster, Bruder, Frater, Kaum Muda, Remaja dan Anak-Anak sekalian, yang dengan peran berbeda-beda telah ikut mengemban tanggung jawab dalam membangun semangat berbelarasa dengan saudari-saudara kita yang membutuhkan. Terima kasih pula kepada umat yang telah berupaya untuk menghargai pangan lewat cara mengonsumsi makanan secukupnya, menanam tanaman pangan di tempat masing-masing, dan membangun komunitas-komunitas peduli pangan ramah lingkungan demi kesejahteraan bersama dan keutuhan alam ciptaan. Semoga umat Keuskupan Agung Jakarta terus berjalan bersama dengan semangat semakin mengasihi, semakin peduli dan semakin bersaksi. Salam sehat berlimpah berkat untuk Anda, keluarga dan komunitas Anda.

+ Kardinal Ignatius Suharyo
Uskup Keuskupan Agung Jakarta