Emmauser diajak menulis Kitab suci untuk diri sendiri – Gathering Emmaus Journey angkatan ke 5, Gereja St. Odilia Paroki Citra Raya, Tangerang

Published by Sutopo Yuwono on

Oleh : Sutopo Yuwono

Atmosfir Kegembiraan pasukan hijau

Tak seperti sore hari sebelumnya, pagi itu, minggu 29 oktober 2017, cuaca di sekitar sekolahan Tarakanita-Citra Raya, Tangerang begitu cerah. Rumput – rumput tampak semakin menghijau muda ketika diterpa cahaya matahari pagi, bunga sepatu warna merah , dan bebungaan aneka warna menampakkan senyumnya yang ceria, bahkan kuncup kembang warna ungu di sekitar pelataran sekolahan Tarakanita citra raya pun seolah turut tersenyum gembira.

Pagi itu, aula TK. Tarakanita Citra Raya kedatangan banyak sekali tamu berpakaian kaos wana hijau muda. Senyum ceria yang turut dihiasi warna ceria pakainnya telah mampu menghadirkan atmosfir kegembiraan pagi itu. Rupanya mereka sedang menyelengarakan acara gathering Emmaus Journey (EJ) angkatan 5 Gereja St. Odilia Paroki Citra – Raya, Tangerang, seusai menyelesaikan 10 sesi pertemuan Emmaus Journey buku 1.

Dan yang tak kalah luar biasa, ternyata hampir semua kursi penuh diduduki oleh peserta, hal ini bisa dijadikan indikasi bahwa antusiasme peserta akan gathering tersebut cukup besar. Bahkan menurut informasi dari petugas registerasi, ada peserta yang baru datang pada pukul 12 : 00 siang, karena sebelumnya ada tanggung jawab lain yang tak kalah penting. Begitu juga sebaliknya, ada peserta yang terpaksa harus meninggalkan acara sebelum selesai karena masih ada tanggung jawab lainya yang tak kalah penting pula, hal tersebut juga mengindikasikan bahwa mereka meluangkan waktu untuk tetap bisa mengikuti kegiatan gathering tersebut di tengah kesibukan lain yang tak bisa ditinggalkan.

Rangkaian acara dimulai sejak dari registrasi, minum kopi/ teh dan snak sambil memperakrab suasana dengan berbincang – bincang, melepas kangen, bersenda gura hingga mempersiapkan hati dalam doa pembukaan. Setelah cukup waktu untuk melepas kangen sambil minum kopi dan snak pagi, peserta diajak bangkit berdiri untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama-sama. Euforia kebangsaan dan semangat kebersamaan terlihat jelas dari semangat mereka ketika menyanyikan lagu kebangsaan kita, Indonesia Raya.

Seusai doa pembukaan, peserta diajak menyanyikan lagu Mars Emmaus Journey. Kendati tidak semua peserta bisa menyanyikanya dengan baik, tapi sama sekali tidak mengurangkan antusiasme mereka, hal ini tentunya menjadi PR bersama bagi para Emmauser untuk belajar menyanyikan lagu Mars tersebut agar semakin menjiwai spirit dari lagu mars itu sendiri juga esensi dari kegiatan Emmaus Journey tersebut yang disiratkan melalui lagu mars.

Roh Kudus Itu nyata dan bekerja

Acara yang mengambil tema ‘Pentingnya Perubahan’ tersebut diisi talk show dengan nara sumber Romo Asran SSCC dan Bapak Andre Soliwoa. Acara talk show yang dimoderatori oleh Ibu Yani dan Bpk. Gunadi tersebut berlangsung dengan tidak membosankan karena diracik secara interaktif dari 2 arah, yaitu dari nara sumber dan dari peserta. Selain itu juga diselingi hiburan musik dari Isakuiki Band, grup musik anak-anak muda Gereja St. Odilia, dan menyanyi bersama seluruh peserta.

Di awal talk show, bpk. Gunadi meminta bpk. Andre soliwoa untuk berkenan mensharingkan pengalamannya, bagaimana kok sampai bisa aktif di dalam kegiatan Emmaus Journey. Bapak Andre menceritakan bahwa di daerah tempat asalnya, Kitab Suci cenderung dianggap barang sakral yang harus dihormati dan tidak boleh sembarangan dibuka. Hingga pada akhirnya beliau dikenalkan pada Emmaus Journey, dimana membuka dan membaca kitab suci menjadi aktivitas sehari-hari.

Beliau bercerita bahwa Kitab Suci yang beliau gunakan saat mengikuti Emmaus Journey adalah Kitab Suci yang dipakai sebagai perlengkapan pemberkatan perkawinan beliau, yang artinya bahwa semenjak menikah hingga saat mengikuti EJ, kitab sucinya masih baru alias jarang dipakai. Dan , baru di EJ lah beliau mulai intens membaca KS.

Perubahan apa yang terjadi setelah Intens membaca Kitab Suci? dalam sharingnya, secara sepintas beliau menceritakan bagaimana Roh Kudus berperan serta dalam kehidupan. Melanjutkan sharingnya, beliau turut bercerita saat – saat dimana baru pertama kali datang dari Bajawa ke Jakarta, dimana pada saat itu pekerjaannya tidak menentu, tapi berkat bimbingan Roh Kudus, akhirnya beliau mampu menyekolahkan anaknya hingga lulus kuliah. Beliau juga bercerita bahwa sama sekali tidak ada dalam angan-anganya waktu itu atas apa yang beliau lakukan saat ini, tapi berkat bimbingan Roh Kuduslah, pelayanan beliau saat ini bisa sampai ke KAJ. Roh Kudus itu ‘Nyata’ dan ‘bekerja’, itulah yang coba ditekankan Bpk. Andre Soliwoa.

Menyambung penjelasan Bapak Andre Soliwoa bahwa Roh Kudus Itu nyata dan bekerja, Romo Asran melanjutkan dengan bercerita bahwa pernah ditanya oleh Romo Felix apakah pernah sudah susah susah mempersiapkan kotbah, tapi ketika hari H, kotbahnya berubah? “sangat sering”, begitu Romo Asran menjawab, “sudah bersusah susah mempersiapkan kotbah, mencari dari berbagai referensi , tapi tiba-tiba isi kotbahnya berubah”. Kalau begitu siapakah yang bekerja? Siapakah yang bekerja di balik itu? dan barangkali memang yang diperlukan umat ya seperti itu, begitu beliau mengakhiri cerita dengan pertanyaan retorika.

Menemukan Yesus melalui membaca Kitab Suci

Sebelum lanjut ke topik lebih lanjut, Ibu Yani melemparkan pertanyaan kepada peserta gathering, “Bagaimana caranya menemukan Yesus melalui membaca kitab suci?”

Pertanyaan tidak dijawab dengan vulgar dan to the point, tapi justru bercerita tentang pengalamanya ikut dan sampai menjadi fasilitator EJ, dimana pada saat ikut EJ pertama kali sebenarnya tidak terlalu paham arah dan materi dari buku 1, perjalanan menuju hidup mendasar. tapi setelah ditunjuk untuk menjadi fasilitator EJ, mau tidak mau harus membaca ulang seluruh materi, di situlah mulai paham maksud dan arah dari pembelajaran di EJ. Dari sharing pengalamannya dapat ditangkap bahwa cara dia menemukan Yesus melalui membaca Kitab Suci adalah dengan mengikuti arah tuntunan yang di sajikan dalam buku emmaus journey, di situ Yesus akan hadir dan menyapa, dan sedikit demi sedikit Tuhan sendiri yang akan mengajar lewat fenomena pengalaman hidup sehari-hari yang direfleksikan dengan bacaan Kitab Suci, juga melalui sharing dari peserta lain.

Menganggapi pertanyaan dan pernyataan tersebut Bpk. Andre berkata bahwa memang tidak bisa serta merta langsung kelihatan manfaat dari membaca Kitab Suci, tapi butuh proses dan perjuangan terus menerus, salah satu caranya dengan mengikuti setiap tahap demi tahap pembelajaran di Emmaus Journey.

Bagaimana cara Tuhan menjawab Doa

Doa adalah komunikasi dengan Tuhan, begitu salah seorang peserta menyampaikan pandanganya.
Kalau komunikasi, mestinya 2 arah, jadi selain berbicara mestinya kita juga mendengar, mendengar apa yang disampaikan Tuhan pada Kita, kurang lebih begitu Romo Asran menanggapinya.

Lantas kemudian beliau berkisah bahwa pernah didatangi umat dan bertanya padanya, ” Romo, siapakah yang sebenarnya iblis diantara kami?” kurang lebih seperti itu pertanyaannya.

Kemudian Romo menjawab, ” berdoalah dan minta bimbingan Tuhan”.

Dan, beberapa hari kemudian umat tersebut mendatangi Romo sambil berucap, “Romo, akhirnya Tuhan menjawab doa saya, kini saya tahu siapa yang sebenarnya iblis diantara kami. Ternyata istri sayalah yang jadi iblis”.

Menganggapi pernyataan umat tersebut, Romo Asran berkata, ” saya beritahu, bahwa sebenarnya kamu yang iblis.”, dan case is closed, ceritapun diakhiri dan disambut dengan tawa oleh seluruh peserta.

Cerita tersebut dapat dimaknai bahwa hendaknya rajin menelusuri relung hati agar dapat lebih jeli dan akurat menangkap apa yang sebenarnya Tuhan ingin sampaikan pada kita.

Membaca kitab suci setiap hari, tapi sia – sia

Untuk mempercair suasana, peserta diajak sejenak menikmati musik sambil bernyanyi bersama, kemudian ibu yani meminta perwakilan dari 3 orang peserta Emmaus untuk mensharingkan pengalamanya dirubah dan dibentuk di Emmaus Journey.

Salah seorang emmauser muda, yaitu mbak tanti bercerita bahwa dulu pernah ditantang oleh seorang Romo untuk menyelesaikan membaca kitab suci dari awal sampai amin, merasa tertantang, mbak tanti mulai menyambut tantangan Romo tersebut, tapi setelah 2 bulan menjalani membaca kitab Suci setiap hari, akhirnya dia jenuh dan menyerah karena tidak menemukan manfaat dari apa yang dia lakukan.

Hingga suatu ketika Ia mendengar tentang Emmaus Journey, kemudian mendaftar dan mengikuti kegiatan sampai sekarang. Selama mengikuti pembelajaran buku 1 ini, mbak tanti telah berhasil meluangkan waktu 1 jam setiap hari untuk bertemu dengan Tuhan melalui Doa dan membaca Kitab Suci.

Pernah juga mengalami saat – saat jenuh terhadap komitmenya akan konsistensi membaca Kitab Suci tersebut, tapi berkat dorongan dan sharing teman-teman yang saling menguatkan, akhirnya dia berhasil tanpa putus membaca dan membuat jurnal harian selama pertemuan buku 1. Dan bahkan sekarang, ada kerinduan, bila dalam 1 hari belum membaca kitab Suci.

Sharing yang ke2 adalah dari bapak Hardiyono, beliau berkisah bahwa pertama kali ditemui Bpk. Anis agar disediakan waktu untuk sosialisai Ej di lingkungan, beliau pesimis, mengumpulkan umat saja susah, apalagi ada embel – embel membaca Kitab Suci, pasti akan semakin susah. Akan tetapi, entah karena rencana Tuhan atau kebetulan, pada saat itu ada momentum Misa lingkungan, jadi banyak umat yang kumpul untuk mengikuti Misa. Mulai dari situlah bpk. Anis dan bpk Prayit memperkenalkan apa itu Emmaus Journey, dan puji Tuhan ada 13 orang peserta dari lingkunganya. Akan tetapi dari 13 peserta, yang bertahan hingga akhir sesi 10 buku 1 tinggal 5 orang, begitu bapak Hardiyono bercerita.

satu hal yang tak kalah menarik yang disampaikan oleh bapak Hardiyono adalah dari 5 orang peserta yang bertahan, tak ada seorangpun yang mampu menjawab perubahan apa yang sudah dialami selama mengikuti pertemuan mulai dari sesi satu sampai dengan sesi 10 ini. Setelah diberi stimulan oleh bpk. Prayit, akhirnya mereka bisa menemukan perubahan-perubahan yang terjadi yang sebelumnya tidak mereka sadari.

Menganggapi sharing dari peserta, Romo Asran mengingatkan bahwa memang seringkali perubahan itu tidak kita sadari. Untuk melengkapi pembahasan, Romo Asran bercerita bahwa perubahan itu pasti, tapi masalahnya berubah ke arah yang lebih baik atau sebaliknya. Beliau memberi contoh beberapa perubahan yang bukan ke arah yang lebih baik, misalkan rajin membaca Kitab Suci, tapi justru malah jadi sering berdebat tentang tafsir Kitab Suci; rajin mengikuti EJ, tapi malah jadi komunitas yang exsklusif dan merasa istimewa.

Menyambung yang disampaikan oleh Romo Asran, bapak Andre Soliwoa turut menegaskan apa yang dipesankan oleh Romo Asran, beliau juga mengingatkan kembali bahwa esensi dari Emmaus Journey bukanlah menafsirkan Kitab Suci, tapi beroleh manfaat dan semakin mengenal Yesus melalui berdoa dan membaca Kitab Suci. Hendaknya Emmaus Journey bukan menjadi kelompok yang ekslusif, tapi justru menjadi tempat belajar , menjadi kawah condrodimukanya umat Katolik untuk semakin antusias lagi dalam kegiatan pelayanan di Gereja, baik di lingkungan, wilayah ataupun Paroki.

Menjadi Penulis Kitab Suci

Di akhir sesi, Romo asran melemparkan pertanyaan ke peserta, “Siapakah yang senang jika disebut sebagai penulis KItab Suci?” tapi tak satupun peserta yang berani menjawabnya, akhirnya Romo menerangkan bahwa dengan membuat jurnal Emmaus setiap hari, kita telah menulis kitab suci untuk diri kita sendiri masing-masing.

Mencari Pokemon

tak ada gading yang tak retak , begitulah peribahasa lama berkata , sempat agak berantakan, karena miss komunikasi , yaitu dalam waktu bersamaan PIC game diminta memulai game, tapi peserta justru dipersilahkan mengambil snak. Akhirnya peserta yang masih tinggal di tempat duduk diajak bergoyang sambil menyanyikan lagu sayang-di sayang Tuhan. Walau sebagian besar peserta sudah keluar, dan ada salah salah sedikit dan juga hanya dibawakan seadanya Oleh PIC gerak lagu, tapi tak mengurangkan keseruan dan keceriaan para peserta yang hadir.

Begitu pula dalam rangkaian penyelenggaraan acara gathering tersebut, tentunya masih ada beberapa kekurangan pada beberapa hal, tapi antusiasme peserta, ketulusan hati panitia dalam mempersiapkanya telah mampu menutupi berbagai kekurangan yang ada dan tidak mengurangkan esensi dari gathering sendiri.

Tentunya berbagai kekurangan yang teridentifikasi bukan menjadi penghambat semangat atau untuk dijadikan alasan saling menyalahkan dan membenci, tapi justru jadi peluang untuk saling mengkoreksi diri sehingga masing- masing pribadi akan semakin disempurnakan, sehingga di dalam penyelenggaan kegiatan selanjutnya akan lebih baik lagi.

Puzzle Cinta

Setelah beberapa buah lagu dilantunkan oleh Isakuiki band, umat sudah kembali memasuki tempat acara, dan beberapa saat setelahnya, PIC game mulai mengambil alih acara dan mulai menjelaskan peraturan game nya, yakni tiap kelompok harus menyusun puzzlenya masing-masing, dan memberikan potongan puzzle yang tidak dipakai kepada kelompok lain, hanya boleh memberi dan tidak boleh meminta.

Dalam waktu kurang dari 1 menit, ibu elisabeth diminta membagi seluruh peserta menjadi 10 kelompok. Dan benar-benar dibuktikan, kelompok dapat terbentuk dalam waktu satu menit lebih sedikit.

Teringat kembali peribahasa tiada gading yang tak retak, ternyata PIC game belum lengkap menjelaskan cara bermainnya dan bahkan lupa memberikan alas untuk menyusun puzzlenya, sehngga banyak peserta yang kebingungan bagaimana cara menyusunnya, tapi lagi-lagi antusiasme dan peran serta peserta gathering mampu menutupi kekurangan-kekurangan dalam penyelenggaraan kegiatan.

Setelah semua peserta selesai menyususun Puzzle, 2 orang perwakilan dari kelompok yang paling cepat dalam menyususun diundang maju ke depan untuk mensharingkan apa yang didapat dari permainan tersebut. “Kerjasama, saling memberi, kekompakan, ” begitu ucap ibu astuti, salah seorang peserta dengan penuh antusias.

Sebenarnya semua kelompok dalam game ini adalah pemenang, nilai esensinya adalah bahwa kita diciptakan beragam, kurang lengkap tanpa peranan orang lain, dan hanya dengan saling memberi maka kita semua akan berkecukupan. Berkomunitas di Emmaus Journey adalah merupakan bagian kecil dari puzzle kehidupan umat kristiani, dan dengan memberikan diri untuk dibentuk oleh Tuhan melalui melalui sesi pembelajaran di Emmaus Journey juga adalah salah satu cara untuk semakin disempurnakan agar semakin serupa gambar Allah. Jadi, wahai para Emmauser, apakah masih mau lanjut ke buku 2?

Acara ditutup dengan pemberian kenang-kenangan kepada Romo Asran dan Bpk. Andre Soliwoa sebagai wujud ungkapan terima kasih dari seluruh peserta atas sharing yang beliau sampaikan, kemudian dilanjut dengan foto bersama.

Acara foto bersama selalu menjadi ciri khas dan memberikan nuansa kegembiraan tersendiri bagi para peserta. Sambil diiringi alunan lagu, foto bersama dilakukan per wilayah, dan terakhir, tidak ketinggalan personil isakuiki band juga menyempatkan diri untuk foto bareng Romo dan Bpk. Andre Soliwa.

Dan bahkan, setelah secara resmi acara ditutup, ketika susunan kursi sudah dirapikan masih ada yang ingin foto di depan banner besar Gathering Emmaus Journey. Hal ini membuktikan bahwa mereka begitu antusias dan bangga berkomunitas di dalam Emmaus Journey. Tidak ketinggalan, seluruh panitia pun turut berfoto bersama.

Hmm, lengkap sudah kegembiraan gathering kali ini, sampai ketemu di lain kesempatan para Emmauser, semoga semakin antusias merampungkan sesi sesi berikutnya. Salam berkobar-kobar, dalam menganggapi Sabda Tuhan.


0 Comments

Leave a Reply