The Power of Diary

Pojok psikologi

( Oleh: Hellena Dasilva )

Fakultas Psikologi Universitas Esa Unggul Citra Raya

Catatan harian, mungkin tidak banyak orang yang gemar menulis catatan rutinitas pribadi seperti ini (diary), yang biasanya dilakukan kaum hawa. Padahal tidak banyak yang tahu bahwa catatan harian itu menyimpan suatu kekuatan rahasia yang sangat menakjubkan.

Buku catatan harian berisi rahasia perasaan paling pribadi yang tidak ada satu orangpun yang boleh mengetahui isinya, kecuali diri kita sendiri. Menulis sebuah catatan harian tidak bisa dianggap remeh. Mengapa?, karena kegiatan ini bisa menjadi media komunikasi dengan alam bawah sadar kita, bisa berdampak dan mempengaruhi proses perjalanan hidup kita kelak. Bisa positif, atau sebaliknya.

Bagi kepribadian orang yang cenderung tertutup atau susah bercerita kepada orang lain, menulis buku harian bisa sangat membantu mengurangi stres. Mencurahkan apa yang sedang dirasakan, terutama masalah atau pengalaman pahit (traumatik) yang dapat memperbaiki  kondisi emosional seseorang. Melalui tulisan kita dapat mengeluarkan segala beban pikiran sehingga dapat membantu mengurangi stres atau kelabilan emosi. Sebagaimana dikatakan oleh Dr. James W. Pennebaker, seorang psikolog dari University of Texas, tulisan yang berisi ungkapan hati, berpotensi besar bagi penulisnya untuk menyembuhkan ketidakseimbangan emosi. Bahkan dijelaskan lebih lanjut bahwa hal tersebut juga dapat meredam gejala-gejala yang muncul akibat penyakit kronis. Wah, ternyata menulis juga bermanfaat bagi kesehatan ya?

Kembali ke materi pembahasan, menulis di buku bisa dilakukan setiap orang, gaya penulisan juga bebas, cerita apa saja juga bebas, dan menurut saya hal ini lebih baik daripada melampiaskan kekesalan di jejaring sosial. Menulis pengalaman-pengalaman pribadi atau hal-hal yang kita rasakan setiap hari (rutinitas), juga dapat membantu untuk lebih mengenal diri sendiri. Menyelami hati kita masing-masing, bagaimana menghadapi suatu masalah dan cara menyelesaikannya. Hal ini persis yang kita alami dalam perjalanan hidup kita setiap harinya. Apakah kita banyak mengeluh atau pandai bersyukur, apakah kita banyak memanfaatkan waktu luang atau menyia-nyaikannya, dan sebagainya.

Hal ini berkaitan dengan tingkat kecerdasan emosional seseorang; dalam mengelola situasi kondisi emosionalnya. Bagaimana seseorang menyikapi perasaan senang, kesedihan, ketakutan, kecemasan, dan lain-lain. Dengan menulis catatan pribadi dapat menjadi senjata yang paling memungkinkan untuk membatasi sikap situasional yang terjadi. Keadaan pergerakan motorik yang dihasilkan oleh tangan merupakan hasil respon dari stimulus-stimulus dari berbagai perasaan internal maupun eksternal. Apabila kegiatan ini sering dilakukan, akan menjadi suatu behavior yang biasa dilakukan dan terjadi berulang-ulang. Artinya dengan sering menulis catatan pribadi, secara tidak sengaja kita diperintahkan oleh alam bawah sadar untuk menggerakan gerakan motorik oleh tangan dibandingkan melakukan hal-hal yang negatif dalam menyikapi suatu kondisi atau peristiwa.

Keuntungan lain dengan sering menulis adalah melatih secara optimalisasi perkembangan kognitif kita. Apa yang tidak terungkap oleh bibir, bahasa akan terus mengalir dan tertuang dengan mudah melalui tulisan. Selain itu dapat menambah wawasan dan perbendaharaan kata yang bebas dan tak terduga sebelumnya. Ini merupakan keuntungan, terutama bagi kita yang sulit menggungkapkan perasaan atau menceritakan suatu peristiwa secara langsung.

Nah, tunggu apalagi, bagi teman-teman yang mungkin punya pengalaman buruk, menyedihkan, dan menyebabkan trauma mungkin bisa menuliskannya agar tidak menjadi beban berkepanjangan di dalam pikiran, yang suatu saat bisa menjadi bom waktu bagi diri sendiri.

Tuangkanlah semuanya dalam buku harian kita untuk konsumsi pribadi atau jika memungkinkan dijadikan inspirasi cerita dalam karya cerpen, puisi, dsb. Hal ini jauh lebih baik, karena selain melampiaskan beban pikiran juga bisa jadi suatu karya tulis yang bermanfaat.

Amin

Leave a Reply

Scroll to Top