APP pertemuan ke 1, Kebhinekaan Dalam Keluarga, bersama KKMK

Published by Sutopo Yuwono on

Oleh : Sutopo Yuwono

Baru ketemu , langsung ngajak pemberkatan di altar?

Komitmen itu bukan sebab tapi sebuah akibat, kira – kira seperti itu kalimat yang tepat untuk menyimpulkan hasil diskusi kawan – kawan KKMK pada pertemuan APP ke 1, selasa malam, 20 februari 2018 di ruang paulus gedung damian. Lantas, apa hubunganya dengan tema ‘kebhinekaan dalam keluarga’?.

Point di atas sebenarnya adalah hasil dari diskusi lanjutan menanggapi sesi sharing foto keluarga, dimana peserta diajak untuk mensharingkan bagaimana proses penerimaan perbedaan pikiran atau cara bertindak dari orang – orang yang ada dalam foto yang pada saat memberikan undangan pertemuan, oleh fasilitator peserta diminta membawa salah satu foto bersama keluarga . Akan tetapi, salah seorang peserta justru mensharingkan foto bersama kawan – kawan KKMK, yang katanya sudah seperti keluarga sendiri. Foto tersebut diambil pada saat ulang tahun KKMK yang pertama, dimana kawan kita tersebut pada saat itu baru pertama kali gabung , dan kemudian sampai sekarang aktif melayani baik di KKMK dan di Komunitas lainnya di Gereja.

“karena mereka care”, ucap salah seorang peserta diskusi menanggapi pertanyaan bagaimana prosesnya hingga turut aktif dalam kegiatan dan bersedia berkomitmen menjadi pengurus KKMK.

“karena merasa nyaman”, tambah seseorang yang lainnya.

“karena gembira dan penuh suka cita”, tambah peserta lainya lagi.

Kemudian fasilitator diskusi coba merangkum yang disampaikan peserta, dan mengingatkan lagi untuk menjaga sesuatu yang sudah dicapai bersama – sama di KKMK, yaitu saling peduli, dan memberi rasa nyaman satu sama lain.

Fasilitator diskusi mengambil sebuah analogi tentang bagaimana sebuah komitmen dalam komunitas dibangun dengan mengambil contoh bagaimana sebuah komitmen dalam menjalin hubungan berumah tangga dibangun. Pertama kali tentu dari saling memberi perhatian, menjelma menjadi rasa nyaman, kemudian tumbuh benih – benih cinta dan berlanjut menjadi sebuah komitmen dalam berumah tangga. Tidak bisa sekali ketemu langsung diajak pemberkatan di depan altar.

“Tapi kalau di KKMK lain lagi, sehari kenal langsung japri japrian, seminggu jalan bareng, sebulan jadiannya sama temannya”, begitu tutupnya dalam canda yang disambut oleh tawa seluruh peserta. Begitulah KKMK, dalam membahas sesuatu yang cukup seriuspun selalu bisa diselingi dengan canda tawa.

Wong wadon iku kanca wingking

“Masyarakat jawa tempo dulu banyak yang beranggapan bahwa wanita adalah ‘kanca wingking’, artinya bahwa wanita hanya boleh mengerjakan urusan di belakang, yaitu urusan di dapur dan pekerjaan rumah tangga lainya”, kira – kira begitu kalimat pembukaan dari salah seorang pendamping KKMK mengawali sharingnya, “mungkin pada jaman Yesus juga seperti itu, itulah kenapa Martha mengkritik Maria yang tidak membantunya mengerjakan pekerjaan rumah tangga, tapi lebih memilih mendengarkan dan duduk di dekat kaki Tuhan Yesus”, lanjutnya.

Kemudian beliau melanjutkan cerita dan lebih memaknainya bahwa sebenarnya Marta bukan iri hati karena Maria tidak mau membantu, tapi justru ingin mengingatkan Maria agar tidak bertindak tidak sesuai tradisi. Kemudian direfleksikan dalam kehidupan sekarang, dimana beliau sebenarnya seorang ibu rumah tangga yang harus mengasuh anak, akan tetapi saat itu bisa berada di situ untuk mendampingi kawan – kawan KKMK,itu terjadi karena suaminya mau berbagi peran.

Pesan yang beliau sampaikan kira – kira adalah bahwa apapun peran kita dalam keluarga ataupun dalam komunitas, hendaknya kita jalani dengan sepenuh hati. Tidak mungkin semua berperan sama, harus berbeda – beda, karena di situlah justru kita akan bisa saling melengkapi.

Pertemuan dilanjutkan dengan doa umat, peserta diajak mengungkap ungkapan syukur dan doa permohonan secara bergantian, dan dilanjut dengan berkat penutup.

Sampai ketemu di APP pertemuan ke2, Tuhan memberkati.

***

Lukas 10:38-42
38 Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya.
39 Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya,
40 sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: “Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.”
41 Tetapi Tuhan menjawabnya: “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara,
42 tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.”


0 Comments

Leave a Reply