Simpati atau Empati? sebuah pengalaman bersama KKMK St. Odila

Published by Sutopo Yuwono on

Oleh : Nobertus Tiwa

“Bro, aku ke kosan kamu ya, mau ngambil pianika, nanti sekalian kita bareng ke Gerejanya”, satu pesan WhatsApp dari salah seorang sahabat berinisial A.

Waaaahhhhh akhirnya ada tumpangan gratis untuk ke gereja malam ini, gumamku dalam hati. Singkat cerita sahabat tersebut sampai di kosan. Sambil menunggu pukul 19:00 saya suguhkan segelas kopi panas untuknya.

Sambil menikmati kopi panas, kami pun menyiapkan lagu pujian untuk dibawakan saat pertemuan nanti. Tiga buah lagu selesai kami siapkan, tetapi sayang, Karena suatu hal, dia harus berangkat duluan, hmm, gagal dapat tumpangan deh.

Dengan sigap, saya pun langsung menghubungi salah satu sahabat yg kebetulan pada jam itu dia masih di tempat kerja, supaya pulangnya bisa singgah dulu ke tempat saya. Maksudnya, biar saya bisa dapat tumpangan gratis. Maklum, saya belum punya Fortuner, hahaha.

Pukul 19.20 WIB kami memasuki area parkiran belakang Gereja, terlihat beberapa teman sudah ada disana, akan tetapi sudut pandang mata saya lebih mengarah pada 2 sosok wanita berkerudung. Iya, mereka adalah Sr. Frederica HK dan Sr. Ima SFD. Ternyata kedua suster ini juga hendak mengikuti pertemuan APP bersama teman-teman KKMK. Setelah bersalaman kami sedikit berbincang-bincang di sekitar gedung Damian lantai 1 sambil menunggu rekan-rekan yang lain yang masih dalam perjalanan.

Dengan kondisi paha kiri yang masih cedera dan jalan masih pincang, saya berusaha untuk menaiki satu demi satu anak tangga gedung Damian, menuju ruang Andreas di lantai 2, tempat kami akan melakukan pertemuan. Ada rasa ngilu dan sakit yang saya rasakan saat itu tetapi rasa itu dengan cepat hilang karena niat dari hati untuk mendengarkan Firman Tuhan dan juga bisa berkumpul bersama sahabat seiman.

***

Sapaan pembuka dari fasilitator mengawali pertemuan kami malam itu, diikuti lagu pembuka yang diiringi alunan gitar dan pianika yang dimainkan oleh kedua sahabat kami menjadi pelengkap pujian yg kami nyanyikan bersama. Seperti biasa, setiap doa atau pertemuan, kami laksanakan sesuai dengan buku panduan. KKMK senantiasa melibatkan semua yang hadir, jadi malam ini kami semua bersuara, membaca per paragraf secara bergantian.

Pada pertemuan malam ini, kami mengambil kutipan dari bacaan Kisah Para Rasul 15 : 1 – 11, di mana di dalam bacaan itu dijelaskan adanya permasalahan atau perbedaan pandangan. Menurut orang Yahudi, semua orang yang bukan Yahudi harus disunat bila mereka ingin diselamatkan, tetapi ada yg menentang mereka dan mengajak mereka pergi ke Yerusalem menemui penatua-penatua guna menyelesaikan masalah yang dimaksud. Dalam persidangan mereka mendapatkan penengah yg berdiri diantara mereka dan menjelaskan tentang arti perbedaan itu sendiri. Ada 3 poin yg kami tangkap dalam kutipan Kisah Para Rasul ini yaitu, adanya perbedaan pandangan; mencari solusi dengan dengan diskusi dan meminta saran dari para penatua dan menemukan pemahaman bahwa Allah menyatakan kehendaknya agar menerima mereka yang berbeda, sebab Allah juga mengaruiakan Roh Kudus kepada mereka.

Satu persatu peserta pertemuan mulai men-sharing-kan pengalamannya masing masing sesuai dengan kutipan bacaan. Ada yang mengatakan bahwa dia tidak pernah seperti orang-orang yang memaksakan orang lain harus mengikuti gayanya atau budayanya. Ada juga yang sharing bahwa tindakan – tindakan seperti itu masih seringkali terjadi dalam masyarakat. Ada yang secara real hidup bersama dengan kawan yang berbeda suku, adat dan latar belakang, tapi tidak pernah memaksakan kehendak, dan justru bisa menerima semua perbedaan tanpa pandang bulu.

Ternyata Semakin lama sharing semakin menarik, puncaknya saat salah seorang peserta menanggapi pertanyaan dalam buku panduan yang dia mengaku sangat tertarik. Dia memulai sharing dengan gayanya yg sudah tidak asing, gaya bicaranya yg cool dan gaya bahasanya yang okeee punya, iya, sampai sampai dia sendiri bingung antara kata SIMPATI dan EMPATI. Suasana ruangan seketika penuh tawa dan candaan ( itulah KKMK ). Di akhir sharing-nya dia mengatakan bahwa ‘Humanity is everything’. Kemanusiaan Adalah Segalanya. wuuuiissss kereeenn…

Masih banyak sharing dari teman-teman yg tidak bisa saya ceritakan satu persatu, akan tetapi ada sharing yang sangat bagus dari kedua suster yang juga turut hadir. Suster men-sharing-kan tentang lingkungan sekitar tempat tinggal suster, dimana kebhinekaan dan toleransi antar umat beragama begitu kental terasa. Sharing yang sangat luar biasa. Sharing ini sangat membantu kita untuk dapat menciptakan kebhinnekaan di bumi pertiwi ini. Hmm, sayang sekali banyak kawan – kawan yang berhalangan hadir.

Sebelum mengakhiri sharing kami malam ini, salah satu suster memberikan peneguhan kepada kami semua yang hadir bahwa perbedaan bukanlah sesuatu yang harus kita hindari, melainkan perbedaan itulah yang menyatukan. Lakukan hal-hal kecil yang bisa membawa perdamaian dalam lingkungan kita masing-masing.

Istimewa sekali, pertemuan APP kali ini dihadiri Sr. Ima SFD. dan Sr. Frederika HK.

Kembali kedua sahabat kami mulai memainkan alat musiknya, dan kembali kami menyanyikan pujian secara bersama-sama. Sebelum menutup pertemuan, kami panjatkan syukur, terima kasih, serta permohonan kami melalui doa umat secara spontan. Pertemuan kemudian dilanjutkan dengan doa penutup dan kembali Sr. Ima SFD. menutup pertemuan kami dengan berkat penutup. Pertemuan yang indah itu diakhiri dengan lagu penutup dan foto bersama. Sampai jumpa di APP pertemuan ke 4.


0 Comments

Leave a Reply